WhatsApp Image 2023-10-16 at 18.14.08

Diposting oleh:

Zamakhsyari

Kala masih balita, ia pernah bermain bersama burung. Ia ikat kaki burung itu, dan terus bermain dengan riang. Tiba-tiba, dengan kaki terikat, burung itu terbang. Ia mengejarnya, dan terus mengejar. Kala burung itu berhasil ditangkap, malang nian, kaki burung itu putus. Balita yang kelak jadi ulama besar kebanggaan madzhab Muktazillah itu pun bersedih.

“Celaka kau, nak. Tuhan akan memutuskan kakimu kelak,” ujar ibunya, kala menyaksikan tragedi itu. Dan benar, kelak ketika Balita itu sudah menjadi pendekar ilmu, satu musibah terjadi. Kakinya tertimbun salju sampai beku, sampai aliran darahnya tersumbat total, dan solusi satu-satunya untuk menyelamatkan hidup adalah dengan memotong kaki. (Lihat, Ibn Khallikan, Wafayat al-A’yan wa Anba’ Abna az-Zaman, 7: 173).

Bocah itu tiada lain adalah Abu Qasim Mahmud Ibn Umar Ibn Muhammad Ibn Umar al-Khawarizmi al-Zamakhsyari, pengarang tafsir hebat, al-Kasysyaf. Dunia ilmu lebih mengenalnya dengan sebutan Zamakhsyari, untuk membedakan dengan Musa al-Khawarizmy yang ahli Matematika, padahal sama2 berpaham Muktazillah dan asli orang Khawarizmy.

Sebagai seorang muktazily, Zamakhsyari tak pernah percaya bahwa kejadian tertimbun salju sampai kakinya mesti dipotong adalah taqdir Allah, apalagi karena tulah sang Ibu. Bukan! “Tetapi mutlak kelalaian diriku saja,”ujarnya. Semua peristiwa adalah karena ulah manusia semata. Walau begitu, lepas dari keimanannya yang muktazily, kita menyaksikan hidup Zamakhsyari yang disiplin dan penuh perhitungan. Akal dicoba benar-benar dimaksimalkan untuk bisa mengeluarkan segala potensi terbaik dalam diri. Karena begitu disiplinnya dalam hidup dan mengerahkan semua potensi terhadap ilmu, Zamakhsyari sampai lupa nikah. 🤦🏾 Tabik!

Dalam membela paham Muktazillah, Zamakhsyari memang luar biasa. Terbaca dari karya masterpice-nya Tafsir al-Kasysyaf. Saking semangatnya membela Muktazillah, meminjam bahasa Ibn Khaldun, “Dengan akalnya ia menggiring ayat-ayat suci al-Quran supaya sejalan dengan keyakinannya.” (Ibn Khaldun, Muqaddimah, 553). Dalam bahasa lain, ia “memaksa” al-Quran dengan seleranya semata. Dan gaya penafsiran begini, alangkah banyak dalam pelbagai kitab Tafsir.

Hanya saja, siapa pun yang akan mengakui, apalagi yang punya kemampuan sastra Arab tinggi model Prof. Wildab Taufiq ( teman penulis doktor sastra Arab), akan mengakui kecanggihan sastra Zamakhsyari dalam menulis tafsirnya. Di wilayah inilah saya suka, sampai berulang membaca karya yang ditulis pada masa Sultan Abu Faatih Maliksyah dengan wajirnya Nizham al-Muk. Seorang wajir yang kesemsem Muktazillah.

Nah, kala mengisi halaqoh Kiai Muda, saya sedikit mencuplik al-Kasysyaf, dan seorang peserta berkata, selepas acara, “Kang, ada yang bilang Kang Faoz itu Muktazillah.” Lha, begini2 juga, walau bedus begini, insya Allah saya santri. Dan Haq utama seorang santri, menurut guruku, adalah membaca seluas-luasnya khazanah intelektual Islam.

16 Oktover 2022

“Artikel diambil dari status Fb Fauz Noor”

Bagikan:

Berikan Komentar