Umat Pemaaf

Oleh Fauz Noor

Dalam mengemban tugas untuk menyampaikan risalah-Nya, Rasulullah Saw. berhadapan dengan pelbagai budaya, tentu saja yang terutama adalah budaya Arab. Artinya Islam datang bukan dalam ruang hampa. Islam datang “dalam” dan “bersama” budaya Arab. Itu sebabnya budaya-budaya yang baik di masa jahiliyah tidaklah ditolak apalagi dirusak. Misalnya, jika kuffar Quraisy ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi, mereka menjawab, “Allah.” Mereka pun meyakini bahwa Allah adalah yang menjadikan bumi terhampar, menurunkan hujan, menjadikan kehidupan berpasang-pasangan, dan yang lainnya. Semua sistem keyakinan kuffar quraisy itu direstui oleh Islam. Hanya saja ketika sistem keyakinannya berkata bahwa Allah punya anak-anak perempuan, dengan tegas dan tak bisa ditawar-tawar al-Quran menolak. Ketika sistem budaya bertenangan dengan aqidah maka Islam tak bisa menerima itu.

Rasulullah Saw. pun menjadi seseorang yang “dibenci” karena dipandang sebagai orang yang hendak merusak sistem keyakinan nenekmoyang. Yang menarik adalah manusia yang diakui sebelumnya sebagai al-almin (yang terpercaya, yang tak pernah bikin ulah, yang selalu memberikan rasa aman, yang tak pernah membuat konprontasi) ternyata ada yang membencinya. Bukan hanya itu, Rasulullah Saw. pun ditampik, diancam, bahkan hendak dibunuh.

Hemat saya, rasa benci (hate) atau ketaksukaan (dislike) merupakan sesuatu yang alamiah. Kita membenci itu adalah wajar. Ketika kuffar quraisy membenci Rasulullah Saw. adalah alamiah saja, karena Rasul membawa sesuatu yang “baru” bagi mereka. Manusia cenderung akan memusuhi atau membenci sesuatu yang “baru”, sesuatu yang belum atau tidak mereka ketahui. Itu sebabnya ketika Rasulullah Saw dilempari kotoran unta, beliau malah berdoa, “Ya Allah berikanlah petunjuk kepada mereka, mereka begini karena mereka tidak tahu.”

Yang jadi masalah, karena sudah tidak alamiah lagi, ketika rasa benci itu kemudian diekspresikan dalam laku. Sebagai misal, “ujaran kebencian”. Satu problem serius pada masa kita sekarang ini, dimana masyarakat begitu mudah menumpahkan “rasa benci” di media sosial. Jika dahulu rasa benci tidak terlalu mudah mendapat salurannya, sekarang ini ekspesi kebencian begitu mudah ditumpahkan sehingga orang banyak akan dengan mudah mengetahuinya.

Dewasa ini, bahkan rasa benci sudah diindustrilisasi. Karena pelbagai kepentingan, “kebencian” diolah untuk memenangkan hawa nafsu, dan menjatuhkan orang lain.  Rasa benci yang awalnya alamiah saja, kemudian – meminjam bahasa Cherian George, guru besar studi media di Hongkong Baptist University – “diplintir” (hate spin). “… saya menunjukkan bahwa episode-episode hasutan dan keterhasutan berbasis agama bukanlah produk alami atau langsung dari keberagaman masyarakat, melainkan suatu pertunjukan yang sengaja dibuat oleh wirausahawan politik dalam upaya meraih kekuasaan. Para oportunis ini secara selektif memanfaatkan sentimenagama masyarakat dan mendorong pengekspresian kehendak massa, dalam rangka memobilisasi mereka ke arah tujuan-tujuan anti-demokratis. Ini penggunaan kekuatan rakyat untuk memperlemah kekuatan rakyat itu sendiri,” kata Cherian.

Kita tak bisa menutup mata, apa yang dikatakan Cherian ini adalah nyata di kehidupan kita. Kita pun akan terus berusaha melawan “ujaran kebencian” dengan sekuat tenaga, tentu saja tidak dengan ujaran kebencian kembali. Hanya saja, di zaman dimana regulasi untuk menumpakan apa yang dibenak dan apa yang hati begitu gampang menemukan “alat”untuk menumpahkannya, kedewasaan dalam berbangsa mutlak dikedepankan. Maksud saya, jangan kehidupan kita sebagai bangsa sesak oleh kasus-kasus hukum “ujaran kebencian”. Ini tak sehat bagi keutuhan kita sebagai bangsa.

Ketika regulasi untuk menumpahkan “kebencian” begitu mudah, sikap pemaaf sepatutnya menjadi senjata kita semua, demi keutuhan bangsa dan meraih manusia paripurna. Satu contoh hebat bisa kita baca. Ketika KH. Abdurrahman Wahid di ruang publik disebut buta mata dan buta hati oleh KH. Riziek Shihab, dengan entengnya Presiden RI keempat itu memaafkannya.

Adalah hak setiap kita sebagai warga negara untuk membawa “ujaran kebencian” ke meja hijau. Mungkin diniatkan untuk memberikan efek jera dan jadi pelajaran bagi warga lainnya.  Hanya saja, para bijak bestari berkata, “diatas hukum ada etika dan diatas etika adalah cinta”. Saya percaya, kekuatan uang sebesar apapun, kekuatan politik semasif apapun, yang hendak menghancurkan kehidupan berbangsa kita, jika kita hadapi dengan kekuatan cinta tanah air yang setiap kita miliki, insya Allah kita tetap utuh sebagai bangsa. Belum lagi di era infromasi zaman kita ini, setiap kasus menurut tabiatnya akan mudah hilang.

Yang pasti hidup di dunia ini harus lengkap: ada pro dan kontra, ada yang suka dan ada yang benci kepada kita. Harus lengkap. Kita tak bisa hidup dengan niat supaya semua orang suka kepada kita. Jika kita begitu, maka kita telah melampaui Nabi. Nabi saja, manusia paripurna, diisi oleh yang orang suka kepadanya pun mereka yang benci kepadanya. Dan dalam hidupnya, Nabi senantiasa mendahulukan untuk memberi maaf ketimbang memberi hukuman. Kembali, jika kita susah memberi maaf, bukan malah kita melampaui Nabi kalau begitu? [ ]

 

30 Mei 2018

Kompas, dengan judul “Jadilah Umat yang Pemaaf”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *