Ulasan Novel Pembuka Hidayah | Dr. Wildan Taufiq, M.Hum (Dosen Bahasa Arab di UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Menulis biografi seorang tokoh merupakan pekerjaan berat. Seorang penulis harus piawai menata data-data sejarah seseorang yang terjalin dalam peristiwa-peristiwa yang dilaluinya, dan memunculkan ruh jihad (spirit perjuangan). Bagian kedua inilah pekerjaan yang dianggap cukup berat. Karena penulis harus piawai memunculkan visi-misi, cita-cita dan ideologi hidup Sang Tokoh dalam setiap gerak-geriknya.
Menulis novel biografi lebih sulit lagi. Di sini, seorang penulis harus piawai juga menghidupkan sang tokoh dalam setiap peristiwa. Tetapi berbeda bagi seorang kiai muda Tasikmalaya ini, bagi Kiai Fauz tugas-tugas berat di atas seakan mudah saja dilakukan. Hal ini terbukti dalam kurun waktu yang relatif singkat, barangkali kurang dalam setahun, ia sudah menerbitkan tiga novel biografi: Syahadah Musftha yang berkisah perjuangan KH. Zainal Musthafa dan Cahaya Muhsin yang merupakan novel bigrafi KH. A. Wahab Muhsin, dan sekarang Pembuka Hidayah – novel biografi Uwa Ajengan. Pada novel biografi ketiganya ini, penulis mengangkat tokoh KH. Choer Affandi, pendiri Ponpes Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya. Seorang Kiai besar di Jawa Barat yang mendirikan Pesantren Miftahul Huda yang hari ini telah berkembang menjadi pesantren besar dengan ribuan santri, dan membuka beberapa pondok cabang dan juga pondok-pondok alumni pesantren tersebut.
Berbeda dengan dua novel sebelumnya, pada novel ketiga ini terlihat penulis memasukkan banyak sekali fakta-fakta sejarah. Nampaknya ia ingin lebih menikmati penulisan novel biografi selepas menulis dua novel. Hal demikian menurutku bagus. Artinya, penulisan menjadi satu proses pembelajaran. Kita akan disuguhi data-data yang kaya dalam novel ketiga ini, dan tentu akan menjadi kejutan tersendiri bagi pembaca, apalagi bagi muhibbin Uwa Ajengan.
Di antara fakta sejarah pertama adalah bahwa beliau adalah seorang putra Raden Mas Abdullah bin Hasan Ruba’i bin Nawawi bin Hasan Muasaddad bin Singawijaya bin Muhammad Alfi Hasan bin Muhammad Zain bin SyaripudinTirtapraja bin Raden Anggadipa I atau lebih dikenal dengan Dalem Sawidak atau biasa disebut Raden Tumenggung Wiradadaha III, yang jika ditarik ke atas nenek moyangnya akan sampai pada Sultan Mataram. Sedang dari ibunya, Uwa Ajengan ini merupakan putra Siti Aminah binti Marhalan yang masih keturunan Syeikh Sunan Rahmat Suci Garut, atau lebih dikenal dengan nama Prabu Kiansantang, Putra Prabu Siliwangi, seorang Raja besar di Kerajaan tatar Sunda, Pakuan-Pajajaran.
Fakta kedua bahwa KH. Choer Affandi memiliki nama asli Husnen, yang kemudian ditambah nama Onong di depannya sebagai nama panggilan kasih sayang dari ayah-ibunya. Dalam novel ini juga dikisahkan sejarah beliau sampai akhirnya memakai nama “Choer Affandi”.
Fakta ketiga bahwa KH Choer Affandi merupakan murid dari KH Zaenal Musthafa Sukamanah, seorang pahlawan nasional. Dalam novel ini KH Choer Affandi disebutkan mewarisi ruh jihad KHZ Musthafa dalam meneruskan perjuangannya mengusir penjajah dari negeri ini. Fakta keempat bahwa KH Choer Affandi merupakan santri pengembara dalam rangka thalab ilmi. Beliau belajar dari kiai desanya sampai ke Tuan Guru Mansur dan Habib Ali Kwitang di Jakarta. Fakta kelima bahwa KH Choer Affandi adalah seorang ulama yang tidak hanya belajar dari kitab kuning saja, tapi juga beliau banyak menimba ilmu dari surat kabar bahkan dari kesenian wayang pun beliau banyak belajar. Dengan demikian, beliau merupakan seorang yang selalu haus ilmu pengetahuan dan seorang pembelajar multiliterasi.
Fakta keenam, dan ini barangkali yang akan menguras daya tanya pembaca, KH. Choer Affandi adalah seorang ulama yang tidak hanya aktif berdakwah menyebarkan ajaran-ajaran agama Islam. Tapi beliau juga adalah seorang aktifis pejuang Negara Islam Indonesia, yang bernama Darul Islam (DI). Beliau sangat mengagumi SM Kartosuwiryo, sebagai Imam Besar Darul Islam. Dalam perjuangannya lewat DI ini, KH Choer Affandi ikut berdakwah Islam dan berperang melawan penjajah Belanda dengan mengangkat senjata. Fakta keenam inilah yang mungkin belum banyak diketahui masyarakat, termasuk para santrinya.
Salah satu tema utama novel ini adalah pelurusan sejarah perjuangan umat Islam, termasuk perjuangan yang dilakukan KH Choer Affandi lewat Darul Islam yang sejatinya diletakkan dalam konteks yang semestinya. Keterlibatan KH Choer Affandi dalam politik praktis, Darul Islam dengan visi-misi yang jelas, yaitu mengingingkan kehidupan masyarakat Indonesia berlandaskan syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ini merupakan hasil ijtihad seorang ulama yang harus diapresiasi oleh umat Islam.
Dengan judul novel Pembuka Hidayah, penulis bermaksud mengungkap nilai-nilai ketauladanan (uswah) dari perjalanan hidup seorang ulama besar ini, agar bisa dicontoh oleh umat Islam. Perjuangan (jihad) beliau mulai menuntut ilmu, cara beribadah, bersosial, berdakwah, dan berpolitik diungkap dengan apik, agar bisa ditauladani oleh siapa pun yang membacanya.
Novel ini baru jilid 1, baru sampai Uwa Ajengan naik gunung dalam perjuangan Darul Islam Indonesia. Menurut Kiai Fauz, novel ini dipersiapkan dalam tiga jilid .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *