Tuhan Yang Disaksikan

Ikrar itu adalah syahadatain. Aku bersaksi tiada Illah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang disaksikan. Dan bukan Tuhan yang bisa “diketahui”, “didiskusikan”, “dilukiskan”, atau apapun.

Ibarat dalam satu pengadilan, ada saksi untuk mencari “kebenaran”. Dan saksi disana: saksi kunci atau utama, dan saksi ahli. Saksi utama adalah mereka yang “menyaksikan” langsung fakta atau kebenaran. Mereka hadir disana. Mereka menyaksikan dengan telanjang. Singkat kata, mereka “mengalami” kejadian-faktual. Kedua, adalah saksi ahli. Mereka tidaklah “hadir” disana. Mereka tak menyaksikan kejadian-faktual. Hanya saja, mereka mempunyai “ilmu” yang bisa menjelaskan kejadian-faktual tersebut. Untuk kita masyarakat awam, bisa mengingat sebentar proses pengadilan kasus Mirna Salihin dan Jesica Wongso yang ditayangkan live oleh satu stasiun tv swasta, dalam pengadilan dihadirkan saksi ahli yang merupakan para profesor yang kompeten untuk menjelaskan sianida yang ditemukan dalam lambung Mirna (korban dalam kasus tersebut).

Mencari kebenaran adalah mencari kesaksian, dan Kebenaran-Nya hanya bisa disaksikan oleh mereka yang hadir kepada-Nya dan bersama-Nya. Mereka menyaksikan. Mereka hadir. Mereka mengalami. Dan pengalaman adalah puncak pengetahun. Tentang kesaksian bahwa tiada Illah selain Allah, dialami benar oleh mereka yang “hadir” bersama-Nya dan kepada-Nya. Mereka itulah, para Nabi dan para Wali.

Saksi disini adalah kesaksian dimana Tuhan bukan lagi abstraksi, bukan pula Dzat yang dihayati melalui tanda-tanda-Nya (ayat-ayat-Nya), melainkan “disaksikan” kehadiran-Nya. Keagungan-Nya tidak lagi dibaca, tetapi “dilihat” langsung. Keindahan-Nya tidak lagi “dibuktikan”, melainkan “dinikmati”.

Ibarat seseorang yang menjadi saksi utama dalam sebuah pengadilan, ketika para Nabi dan para Wali mengabarkan kebenaran tentang-Nya, kita pun mengimani. Kita tidak hadir bersama-Nya, dan kita mengimani bahwa mereka telah hadir bersama-Nya.

Yang menarik adalah bahwa orang yang tidak hadir tetapi bisa menjadi saksi. Saksi ahli. Dan mereka menjadi saksi karena mereka punya ilmu. Artinya, kesaksian bisa saja dicapai oleh ilmu. Begitupun kesaksian kepada-Nya. Kita bisa menyaksikan bahwa tiada Ilah kecuali Allah, dengan cara semakin memperdalam ilmu kita. Sebab, kesaksian mengisyaratkan keilmuan.

Bisa dibayangkan kiranya. Kesaksian seorang Kiai bahwa tiada ilah selain Allah pasti berbeda dengan kesaksian seorang mahasiswa-awam. Ketika Kiai membaca al-Quran, ia sampai bergetar seluruh tubuhnya. Sementara kita, hampir tak merasakan apa-apa. Saya pun pernah bersama seorang doktor fisika di sebuah laboratorium, dan saya melihat ia sampai berderai air mata dengan bibir yang berugumam subhanallah. Satu kesaksian yang keluar dari ilmu yang ia miliki. Sementara saya kala itu, diam saja, boro-boro berderai air mata, karena saya miskin ilmu.

Sekali lagi, kesaksian mengisyaratkan keilmuan. Memerlukan ilmu. Semakin ilmu kita “tinggi” maka kualitas kesaksian kita kepada-Nya semakin baik. Itu sebabnya Rasulullah Saw. bersabda bahwa mencari ilmu wajib dari mulai lahir sampai kita ke liang lahat. Karena hanya ilmulah yang akan mengantarkan kita kepada-Nya dengan kesaksian. Ashaduall-la ilha illal-lah. [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *