Terapi Bersama Nabi: Terapi Bersama Puisi

Oleh: Shiny.ane el’poesya

Setiap masyarakat tentu memiliki masalahnya masing-masing. Masyarakat Firdaus dan Masyarakat Jabal Rahmah di zaman Nabi Adam, masyarakat Bani Rasib di zaman Nabi Nuh, masyarakat Babel di zaman Nabi Ibrahim, masyarakat Mesir di zaman Nabi Musa, masyarakat Yerussalem di zaman Nabi Isa, hingga masyarakat modern kita saat ini dengan puncaknya terbentuk satu komunitas global (global society) memiliki kegelapan duniawi dan penyakit-penyakitnya sendiri. Satu di antara penyakit tersebut, yang paling dekat dengan diri kita sendiri adalah tentu penyakit spiritual, di mana dalam kehidupan yang makin dilimpahi oleh keberlimpahan hal-hal materil. Manusia terjangkit kekeringan jiwa, ditandai terjadinya perbagai permasalahan yang dikatakan bahwa hampir dari seluruh masalah kemanusiaan yang pernah ada sepanjang sejarah umat manusia, kini ada di masa kita.
Namun, dengan penuh keinsyafan, bukan berarti dengan demikian kita juga langsung berputus asa ketika melihat kondisi yang sedemikian dapat memenatkan tubuh dan jiwa kita. Sebab, sudah sunnatullahnya pula, bahwa di setiap zaman, meskipun dalam kondisi terburuknya, selalu akan ada cahaya Tuhan turun di sana, menyapa manusia yang Ia kehendaki, terutama kepada mereka yang dalam hidupnya senantiasa untuk terus melakukan sebuah sebuah khalwat dalam dirinya. Setelah dijatuhkan dari kehidupan di Firdaus, Adam senantiasa berkhalwat sepanjang hidupnya hingga ia dipertemukan kembali dengan Hawa di Jabal Rahmah, Nuh (nama julukan sebab sering menangis dalam khalwat) dikisahkan sering mendatangi sebuah bukit di mana ayahnya (Lamekh), Kakeknya (Metuselah/Metusael) dan leluhurnya Henokh, melakukan hidup asketik. Henokh mendapatkan ramalan akan adanya bencana besar turun sebab kerusakan moral masyarakat pada masa itu (baca Kitab Henoch). Abraham kerap menyendiri di Bukit Moria untuk merenungkan bintang-bintang, bulan, matahari, hakikat rahasia sebenarnya yang ada di balik alam semesta di tengah ketidakpercayaannya terhadap berhala-berhala buatan ayahnya sendiri. Musa di tengah ayunan angin padang pasir dan bukit Tursina ketika masyarakatnya selalu menagih kerajaan surga penuh harta dan kekayaan di dunia. Yesus di Bukit Tarbantin ketika masyarakat Yahudi gemar menjadikan rumah Tuhan sebagai tempat menipu umat dan mengumpulkan kekayaan. Dan Muhammad SAW, yang sejak mengalami “peristiwa lonceng” kerap berkhalwat di gua Hira.

Bahkan, kalau mau boleh kita sejenak menengok Nietzsche – yang konon dituduh sebagai orang yang tak percaya akan adanya Tuhan. Jika kita membaca kumpulan aforismanya, justru yang nampak adalah sebaliknya, sepanjang hidupnya dipenuhi dengan “khalwat kebudayaan” yang tidak putus-putus dari kondisi moral religius masyarakat Eropa Modern yang sudah semakin bobrok hingga menjangkiti institusi-institusi yang didakwahkan sebagai institusi agama. Sehingga ia merumuskan sistem pemikiran untuk mengobrak-abrik seluruh tatanan fasik masyarakat Eropa Barat, sebagaimana kita mendengar Yesus pula melakukan hal yang sama terhadap berbagai “lembaga dagang” yang bercokol dan merusak kesucian rumah Tuhan.


Adalah sebelum mereka semua (para Nabi) diutus secara aktif untuk menyebarkan cahayanya kepada umat manusia, tentu lebih awal untuk mengobati kepenatan diri dari segala awut duniawi yang mereka saksikan dalam kehidupan. Sebagai pembaca yang muslim, mungkin sering mendengar, akan ungkapan ini: “Alaa bidzikrillah, tatmainnal qulub… Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Tuhan maka hatimu akan menjadi tenang.” Tentu jika kita melihat bagaimana perjalanan panjang sejarah hidup para Nabi, maksud dari berdzikir di sana bukanlah hanya sekedar menyebut-menybut secara lisan nama Tuhan, melainkan adalah hadirnya secara penuh kekhusuan diri kita untuk selalu mengingat Tuhan. Tuhan bahkan menambahkan dalam sebuah ayatnya yang berbunyi: “Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah, fadkhuli fi ‘ibadi, wadkhuli jannatii … Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan lagi diridhai. Masuklah ke dalam golongan hambaku dan masuklah ke dalam kebun surgaku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).

Apa yang terdapat pada ayat tersebut bagi penulis tidaklah lain sebuah petunjuk, bahwa bagi siapa yang memang hatinya sudah mengadakan satu khalwat – satu kali saja, maka kemudian datanglah dengan khalwat-khalwat selanjutnya dengan hati yang lebih ikhlas lagi dan lebih ikhlas lagi sehingga akan sampai pada keadaan yang disebutkan sebagai hamba Tuhan yang tinggal di dalam jannah (baca: kebun surgawi). Dengan kata lain, di dalam sebuah khalwat, akan terdapat berbagai lapisan-lapisan ketenangan batiniah yang tak akan terhingga, jika kita menjalankannya dengan niat yang lurus untuk lepas dari kehidupan duniawi. Allahumma inni as’aluka…


Jika kita mengikuti pilihan judul yang dipilih oleh penulisnya, “Terapi Bersama Nabi”, maka selain kita mendapatkan makna tak tertulis mengenai satu kondisi masyarakat kontemporer kita yang sedang sakit, sebenarnya sejak awal kita pula seakan sedang diajak untuk melakukan sebuah penyembuhan dengan cara menapaki jalan yang pernah dilalui oleh para Nabi. Suatu ajakan yang sebenarnya jika kita tidak sadari adalah ajakan yang selalu disampaikan oleh setiap para nabi, dan ajakan yang akan membuat kita semua menjadi begitu mulia derajat hidupnya. Mengapa demikian? Sebab dengan terapi bersama para nabi – bukan sekadar dengan melalui cara-cara yang sifatnya hanya psikiatri atau melalui kegiatan-kegiatan lain yang tak ada kaitannya dengan pembukaan batin – akan membawa kita ke dalam satu kejatuhan atas Cahaya yang dapat menerangi seluruh kehidupan kita ke depannya.
Tentu, jika diperinci lebih jauh, metode terapi yang dilakukan oleh para nabi ada berbagai macam cara. Bahkan, jika kita mengikuti – sebagai contoh – sejarah bagaimana Nabi Muhammad memberikan berbagai macam jenis pengobatan terhadap berbagai masalah kehidupan masyarakatnya, maka kita akan menemukan berbagai macam pula solusi yang diberikan. Tak heran, jika Al-quran menyebut dirinya sebagai Asy-syifa’ (penawar) bagi segala penyakit. Bahkan jika kita mau jeli, kata yang digunakan dalam bahasa indonesia tersebut, kata “penawar”, secara fonetis dekat dengan kata yang sudah diungkapkan pada bagian awal, yaitu “almunawwarah-munawaar-penawwar” yang dengan itu insyaallah makna dari kata penawar itu sendiri secara semantis seharusnya adalah seakar-kata sebagai yang “membawa cahaya”; tawar-menawar (saling menemukan titik terang), air tawar (air yang tidak tercampur unsur lain sehingga rasanya “terang/bening”), air yang juga sering dijadikan media penyembuhan sebagaimana orang-orang yang suci dan bening jati dirinya yang sering dijadikan wasilah penyembuhan; Dalam buku ini, adalah Nabi Muhammad SAW.
Dari sekian yang banyak itu, metode mengingat (eling) akan Tuhan dengan melakukan sebuah khalwat, adalah metode yang paling utama. Sebab khalwat adalah menjadi metode paling dasar dan awal dalam mencapai cahaya keTuhanan tersebut. Metode yang bahkan bersifat universal yang akan selalu dimiliki oleh umat dari segala macam agama, peradaban, bahkan yang dianggap tak beragama sekalipun. Dalam buku “Terapi Bersama Nabi”, tidak keliru jika ternyata memang puisi yang merujuk pada makna khalwat, ada dan sekaligus letaknya adalah pada puisi pertama. Berikut kita baca bersama.

Terapi

Aku ingin terapi
Bersama Nabi
Bergaun Mimpi
Bertilam Sepi
Agar tak lupa diri
Agar terus sesuci bayi
Lagi dan lagi

O Nabi
Andai hatiku tak bisu
Andai bibirku tak kelu
Andai aku tahu malu
Akan kuusir diriku
Akan kubuang hatiku
Akan kusampaikan bibirku
Agar sekali-kali tak menyebut
namamu …

Bandung, 2002

Kita bisa lihat bahwa puisi di atas ditulis pada tahun 2002, yang mana jika kita kelompokkan puisi-puisi pada buku “Terapi Bersama Nabi”, maka puisi tersebut tergolong dari beberapa puisi yang ditulis pada awal proses pembuatan kumpulan puisi ini. Kita bisa lihat bagaimana puisi tersebut bisa dijadikan sebagai titik balik dari satu dua puisi yang dibuat sebelumnya yang menggambarkan bagaimana terjadinya proses kegelisahan batin penulisnya dalam menghadapi kehidupan.

Hilang

Anganku serentak sorak
Akhlakku seunik panik
Adakah yang sepahit mati?
Aku hilang
Lebur terbawa angan
Hancur ditiup hidup
Astaghfirullahal-adzim
Ya Allah …
Bawalah aku kembali
Atau biarkan aku pergi
Asal jangan kau cabut nabi di hati ini

Assalamu’alaka ya Nabiyallah
Muhammad khalilullah

Bandung, 2000

Pada puisi “Hilang” tersebut kita mendengar rintihan dari penulisnya yang begitu meresapi rasa sakitnya, berada dalam kehancuran sebab dibawa oleh angan, ditiup lebur oleh hidup, sehingga membuatnya ingin kembali dan berkhalwat pada apa yang ada dalam dirinya. Dala puisi “Hilang” diungkapkan secara verbal bahwa yang ada dalam diri tersebut adalah Sang Nabi, dan hal tersebut juga kembali muncul di saat keinginan berkhalwat terbit di tahun lainnya pada puisi Terapi. Pada bait kedua Sang Nabi kembali dipanggil.
Andai… Andai kita membaca kedua puisi tersebut secara leterlek, maka bisa saja kita akan tersesat pada pemaknaan bahwa penulisnya seakan-akan menumpahkan perasaanya kepada Sang Nabi, bukan kepada Tuhannya, sebab selalu konklusi dari puisi yang dihadirkan adalah bermuara kepada Sang Nabi, bukan kepada Tuhan. Namun, jika hal ini terjadi, maka tidak lain adalah sebuah prasangka keliru belaka, sebagaimana prasangka sebagian ulama yang sempat mengharamkan penyematan julukan “Cahaya di atas Cahaya” kepada Sang Nabi (Muhammad SAW), sebagaimana ekspresinya tertera dalam kitab Al-barzanji:

“Abtadi-ul imlaa-a bismidz-dzaatil ‘aliyyah
Mustadirran faydhal-barakaati ‘alaa maa anaa
lahu wa awlaah
Wa utsannii bihamdin mawaariduhu saaighatun haniyyah
Mumtathiyan minasy-syukril jamiili mathaayaah
Wa ushallii wa usallimu ‘alan nuuril mawshuufi bit-taqaddumi
wal awwaliyyah
Al-mutanaqqili fil-ghuraril kariimati wal-jibaah …

Aku mulai membacakan dengan nama Dzat Yang Mahatinggi.
Dengan memohon limpahan keberkahan atas apa yang Allah berikan dan karuniakan kepadanya.
Aku memuji dengan pujian yang sumbernya selalu membuatku menikmati
Dengan mengendarai rasa syukur yang indah
Aku mohonkan shalawat dan salam
atas cahaya yang disifati dengan keqadiman
dan keawalan. Yang berpindah-pindah pada orang-orang yang mulia.”

Pada ungkapan bait paling akhir, yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah asalnya dari Cahaya yang sudah ada dalam keqadiman sebelum adanya makhluk dan sebagai awal segala hal, dianggap telah melakukan satu kepercayaan panteisme yang menyamakan antara Sang nabi yang hanya merupakan manusia biasa dengan Allah sebagai Yang Qadim dan Yang Awal. Namun, sekali lagi ini adalah sebuah kekeliruan sebab maksud dari ungkapan tersebut adalah tidak sedemikian itu adanya, melainkan hal tersebut diungkapkan hanya sebagai sebuah wasilah belaka. Sebagaimana tercermin dengan lebih terang dalam puisi “Kerinduan (I)” yang ditulis oleh Fauz Noor bersamaan tahun dengan puisi “Terapi” sebelumnya.

Kerinduan (I)

Allah …
Aku tanpamu adalah pelaut malang
Terbuang di samudra fana
Penyair yang tak mahir
Menyusun kata mengukir makna
Pelukis buta warna
Bingkai kanvas sia-sia
Allah …
Bawalah aku keharibaan pena
Ke peraduan syair dan tafsir
Di negeri umpama
Mengikuti sunnah Nabi-mu tercinta
Meneladani akhlaknya yang mulia

Allahhumma shalli wa sallim
’ala Muhammad wa ‘ala alih

Tasikmalaya, 2002

Pada puisi tersebut jelas ungkapan kerinduan hanya diberikan kepada Allah Tuhan yang maha esa. Adapun penyebutan dan pengagungan kepada Sang Nabi adalah hanya merupakan sebuah konsekuensi dari cintanya kepada Allah. Sebab apa? Sebab yang paling pertama adalah bahwa Allah sendiri begitu mencintai Sang Nabi dan bersolawat kepadanya. Dan kedua, bahwa sebagai umat islam, melalui Sang Nabi-lah penulisnya tentu mendapatkan percikan Cahaya ketuhanan melalui terangnya kehidupan Sang Nabi, yang bagaikan bulan purnama di malam hari, yang gelap yang muncul begitu indah dari balik punggung sebuah bukit.
Sekali lagi bahwa Sang nabi yang begitu dicintai oleh penulisnya dalam puisi-puisi di buku ini adalah sebagai seroang yang dapat dimintakan wasilahnya. Pada puisi “Kerinduan (I)”, dengan bahasa nomenklatur fiqh, penulisnya mengatakan bahwa ia tengah hendak menapaki jalan, yang sebagaimana telah diterapkan secara mulia dalam “Sunnah” Sang Nabi. Kita pula misalnya bisa melihat dalam puisi yang judulnya dijadikan judul lengkap dari buku ini,

Terapi Bersama Nabi

Kepalaku pening, badanku gemetar
Tak tahan tulangku karena belulang
Tak tahan dadaku karena bidang
Tak tahan tanganku karena uang
Tak tahan kakiku karena waktu
Tak tahan mulutku karena roti
Obat telah aku rengguk
Tapi periuk tak kunjung sejuk
Mungkin penyakitku telah akut
Terapi adalah solusi

Sejenak aku ingat sajak
Tempat hati tumpahkan puisi
Lembaran kertas memanggil
Tahan nyeri gapai terus terapi
Bersama nabi menuju sabar mentari

Dalam pejam aku baca shalawat
Berulang sampai penuh keringat
Ya Rasul …
Sentuhlah kepalaku yang nyeri
Rabalah badanku yang gemetar
Usaplah tanganku yang kelepar
Pandanglah kakiku yang penuh darah
Kutahu dikau bukan Tabib
Tapi kuyakin dikau penyembuh
segala penyakit
Atas izin-Nya
Dikau keluarkan manusia dari kegelapan
menuju cahaya
Usirlah penyakit di jiwa hamba
Assalamualaika ya Rasulallah

Tasikmalaya, 2008


Ketika kita biacara mengenai Puisi sebagai sebuah terapi, lebih khusus sekumpulan puisi sebagaimana dalam buku “Terapi Bersama Nabi”, sebenarnya kita secara tidak langsung tengah menyentuh pembahasan ilmu kesehatan jiwa yang pernah coba dikembangkan oleh para filsuf awal seperti Al-Farabi dan Ibnu Shina yang menggunakan puisi (syair yang didendangkan) sebagai metode dalam penyembuhan berbagai penyakit yang sifatnya non medis. Dalam penelitian psikiatri modern, orang seperti Sigmund Freud, bapak pendahulu psikoanalisis dan psikodinami, menyampaikan pula bahwa karya seni (dalam kontek ini puisi) dapat berperan sebagai sebuah media self healing bagi seorang yang tengah mengalami ketidaknyamanan piskologis dalam dirinya. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika psikologi humanis berkembang, dari sudut pandang eksistensial-filosofis Viktor Frankl mengatakan bahwa salah satu ciri terapi yang khas dari manusia dan tidak akan dapat digunakan kepada makhluk lain yang tak memiliki akal adalah melalui terapi permenungan ulang akan makna hidup, yang itu dalam praktik sublimasinya bisa dilakukan melalui Puisi.
Dalam pengantar buku ini, melalui Abdul Hadi W.M., Acep Zamzam Noor menggolongkan puisi yang ditulis oleh Fauz Noor adalah sebagai bagian dari puisi Na’tiyah. Yaitu puisi dengan jenre puji-pujian, lebih khusus puji-pujian yang dihaturkan kepada seorang Nabi, seperti yang pernah dilakukan oleh Attar, Nizami, Sanai, Sa’di, Rumi, Hafiz, Iqbal, bahkan hingga Goethe, penyair asal Jerman. Genre Puisi yang berkembang begitu pesat melalui tradisi pembacaan Qasidah Albarzanji, Qasidah Burdah, dan Qasidah Dibai. Dalam sejarah perpuisian Indonesia Modern, Acep Zamzam Noor juga mengatakan bahwa tradisi ini terlihat jejaknya dari zaman Raja Ali Haji, Bukhari Al-Jauhari, Syamsuddin Al-Sumatrani, Nuruddin Al-Raniri, Abdul Rauf Sinkel, Haji Hasan Mustofa, dan penulis-penulis yang lebih belakangan seperti Taufiq Ismail, Goenawan Mohammad (muda), Abdul Hadi W.M. (tua), Hamid Jabbar, Emha Ainun Nadjib, serta menurut penulis sendiri tentunya Gus Mus yang memang lahir dari jantung tradisi pesantren tradisional.
Selain dari segi intensitas eidetik puisinya yang sengaja tidak dipaparkan lebih jauh, buku “Terapi Bersama Nabi” ini menjadi menarik pula sebab penulisnya pula membuat satu pengantar yang tak kalah bagus dengan yang sudah ditulis oleh Acep Zamzam Noor, yang membukakan kembali peta puisi na’tiah dalam sejarah perpuisian Indonesia. Fauz Noor menulis bagaimana benar-benar tradisi terapi bersama Nabi sebagai figur historis dibeberkan dengan begitu lengkap dengan rujukan-rujukan literatur kitab klasik yang mengenyangkan pembaca. Dalam pengantarnya tersebut diungkapkan dari mana sejarah asal kata burdah yang pada jauh hari kemudian digunakan sebagai tradisi syair puji-pujian, contoh kitab yang ditulis untuk memuji sang nabi paska nabi meninggal, hingga kitab-kitab burdah populer yang beredar di pesantren-pesantern tradisional. Tidak kurang, Fauz Noor juga mengisahkan beberapa pengalaman menarik tentang orang-orang yang benar-benar disembuhkan dari berbagai penyakit yang dideritanya melalui wasilah bersolawat kepada nabi dari zaman ke zaman, dan seterusnya dan seterusnya. Yang intinya, sekaligus sebagai ungkapan penutup, akan sangat merugi sekali andai kita tidak ikut serta mencicipi buku mungil yang di dalamnya mampu merekam secara rampung hal-hal penting seputar tema “Terapi Bersama Nabi” ini. Ibarat hendak masuk ke dalam sebuah kamar, buku ini mungkin tidak akan secara langsung dapat menolong kita, tetapi akan menunjukkan apa dan di mana saja pintu-pintunya.

Shallu ‘alan Nabi Muhammad …

Jakarta, 16 Juni 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *