Tabayun

Oleh Fauz Noor

Tokoh-tokoh besar adalah mereka yang hormat akan dialog. Tokoh-tokoh besar adalah mereka suka tabayun. Tokoh-tokoh besar adalah mereka yang menentramkan umat. Mereka paham, sebaik-baiknya manusia adalah yang mengabdikan hidupnya, memberi manfaat, bagi manusia lain.

Ketika mereka mengabdikan hidup bagi manusia, sudah tentu tak akan semua menerima. Manusia terlalu luas untuk dinaungi oleh “satu” usaha. Itu sebabnya manusia punya tabiat “berbeda”. Seorang ulama Tasawuf punya potensi untuk disalahpahami oleh umat yang suka fiqih, begitu pun sebaliknya. Seorang ulama tasawuf mungkin sadar bahwa banyak salah-paham yang terjadi di umat tentangnya. Seorang ulama fiqih pun mungkin tahu bahwa terlalu pongah jika ingin diikuti semua umat. Di sini, lahirlah madzhab, lahirlah perbedaan pemikiran, lahirnya banyak gerakan-sosial atau gerakan-keagamaan.

Salah seorang tokoh besar itu, saya ingin menyebut dua nama dalam esai ini, Ibn ‘Atha’illah dan Ibn Taimiyyah. Dua tokoh satu masa, yang berhasil dicatat sejarah dengan tinta emas. Dua tokoh ini punya pemikiran yang bersebrangan, dan sampai sekarang mempunyai pengikutnya masing-masing. Tak aneh, jika para pengikutnya kerap bentrok, saling ejek, dan di titik yang mengkhawatirkan, saling serang saling terkam.

Mungkin kita lupa, dua tokoh besar ini hidup dalam satu masa, dan punya selisih usia yang  tak jauh beda. Ibn ‘Atha’illah lahir di kota Iskandariah (Alexandria), Mesir, pada tahun 658 H. Dua tahun setelahnya, Ibn Taimiyyah dilahirkan di kota Harran, Syiria. Mungkin juga, kita lupa bahwa kedua tokoh ini pernah bertemu, dan sudah pasti diskusi.

Pada tahun 707 H/1308 M, mereka berdua bertemu di Beteng, Kota Mesir. Dialog ini atas ajakan Ibn ‘Atha’illah yang meresa tak nyaman atas kutukan Ibn Taimiyah atas ia dan pengikutnya. Ibn Taimiyah menuduh pengarang al-Hikam itu yang telah melakukan bid’ah.. Hanya saja, menurut saya, percekcokan atau pertikaian antara kedua tokoh besar itu tak luput dari ulah pangeran-pangeran dalam dinasti Mamluk. Artinya, dalam percekcokan itu tergambar kepentingan politik dari para pengeran yang haus kekuasaan. Hanya saja, menurut saya, kedua tokoh ini mungkin tak menyadarinya.

Sampai suatu saat, Ibn Taimiyah berkunjung ke Kairo, tempat tokoh sufi “saingannya” itu. Menjelang malam, Ibn Taimiyah menuju mesjid al-Azhar untuk shalat maghrib, yang waktu itu diimami Ibn ‘Atha’illah. Alangkah terkejut ulama Mesir itu, melihat ulama Syiria yang datang tanpa undangan, khusuk berdoa dibelakangnya. Sambil tersenyum, Sang Syekh itu menyambut ramah kedatangan Ibn Taimiyah, “Assalamu’alaikum ya Syaikhal Islam.”

Di sinilah dialog indah itu terjadi. Kedua pemikir besar itu saling “serang”, dengan kekuatan intelektual yang pasti mengagumkan. Mereka berdua mendiskusikan banyak hal. Tentang Ali ibn Abi Thalib, misalnya, yang “dikesankan” bahwa Ibn Taimiyah begitu membencinya. “Sayyidina Ali adalah apa yang disebutkan dalam satu hadits, saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya… Sayyidina Ali adalah mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Tak ada ulama atau fuqoha yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang, melebihi ketangguhan Ali ibn Abi Thalib,” jawab Ibn Taimiyah. Sang Syekh Kairo berucap tasbih. Kedua Syekh itu pun “sepakat” bahwa Ali ibn Abi Thalib kw adalah sahabat utama Rasulullah yang tak pernah mengatakan dusta bahwa ia lebih hebat daripada Rasulullah Muhammad Saw, sebagaimana yang diyakini “sebagian” syi’ah yang sesat.

Tema lain kala itu: “Benarkan Imam Ahmad ibn Hanbal bertanggung-jawab atas perbuatan sebagian pengikutnya yang melakukan sweeping, memecahkan botol-botol anggur di toko-toko penganut Kristiani atau dimana pun mereka temukan, menumpahkan isinya di lantai, memukuli gadis-gadis penyanyi, menyerang masyarakat di jalanan, membikin gaduh ketenangan umat?” Ibn Taimiyah paham bahwa yang ditanyakan adalah kejadian yang baru-baru itu terjadi di kalangannya sendiri, pengikut Madzhab Hanbali. “Tidak! Imam Ahmad tidak memberikan fatwa bahwa para pengikutnya harus mengecam dan menghardik orang-orang pelaku dosa semacam itu. Apabila pemerintah yang berkuasa mencabuk mereka, menjebloskan ke penjara, dan menyeret mereka dengan punggung keledai, adalah tindakan benar. Imam Ahmad berlepas diri atas perbuatan buruk yang dilakukan para pengikutnya dengan dalih amar ma’ruf nahyi munkar itu.” Kembali Ibn ‘Atha’illah berucap tasbih, dan berkata, “Dengan demikian Syekh Ibn ‘Arabi pun tak bertanggungjawab atas pelanggaran yang dilakukan oleh mereka yang mengaku mengikutinya. Jika ada mereka yang mengaku berada di jalan tasawuf lalu keluar dari syari’at dan ketentuan akhlak, mereka pun berhak untuk dapat hukuman.” Syekh Kairo itu ingin mengklarifikasi tuduhan kalangan Ahli Fiqih yang kerap menghujat ulama-ulama tasawuf. Sejatinya kita menghukum seseorang atas perbuatannya sendiri. Kita tak bisa menyalahkan orang atas dasar perbuatan para pengikutnya.

Banyak yang didiskusikan kedua ulama itu, dan kita tak punya ruang untuk memuat seluruhnya disini. Singkat kata, kedua ulama itu melakukan tabayun, klarifikasi atas informasi-informasi yang berkembang di tengah umat kala itu, di tengah hoax yang merajalela, di tengah kepentingan politik segelintir orang yang punya ambisi. Mereka berdua pun sepakat, jangan sampai melontarkan pendapat atau fatwa berdasarkan informasi yang tidak valid. [ ]

15 Februari 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *