Syabab

Syabâb
Oleh Fauz Noor

Menjelang perang Uhud, seorang pemuda tampak murung. Ia kesal. “Kenapa, nak?” tanya bapak tirinya, Murai Ibn Sinan. Kepada bapak yang dihormatinya itu, ia mengadu, “Bapak, Rasulullah memperbolehkan Rafi’ ikut jihad sementara aku ditolak. Padahal, aku berani bertarung dengannya dan ia akan aku kalahkan.”

Sang Bapak lalu membawa anaknya ke hadapan Rasulullah, “Ya Rasulallah, ini anakku, Samurah Ibn Jundab. Baginda memperbolehkan temannya untuk perang dan menolak Samurah anakku. Padahal anakku lebih kuat dan berani bertarung dengannya. Ia sangat berharap menjadi prajurit yang berperang di jalan Allah.” Mengembang senyum Rasulullah, bangga akan ayah dan anak pecinta Islam. “Ya syabâb, siapa temanmu itu?” tanya baginda Rasul. “Rafi’ ibn Khuzai’,” jawab Samurah. Tanpa ragu, Rasulullah kemudian meminta supaya Rafi’ dipanggil.

Sejarah pun mencatat, Rasulullah mendidik mereka, meminta agar kedua pemuda itu bertarung. Imajinasi kita seketika bekerja, mirip seorang guru silat menyuruh duel kepada dua muridnya. Dan, tak kepalang tanggung, Samurah mengerahkan seluruh kemampuan silatnya, bertarung demi tiket bisa pergi jihad fi sabilillâh. Apa yang dijanjikan Samurah terjadi, ia menang dan kedua pemuda itu akhirnya diizinkan berangkat ke medang perang.
Kisah diatas saya adopsi dari buku Fathi Fauzi, Syabâb Hawla an-Nabî (Pemuda sekitar Nabi). Satu buku biografi singkat para pemuda pejuang kebenaran. Ada 18 sahabat yang dibahas. Saya tak tahu kenapa Fathi Fauzi hanya mencuplik 18 pemuda. Dan, salah satunya adalah Samurah ibn Jundab. Dalam buku itu ada satu hadits yang melengkung tajam, menusuk sampai ke jantung kita, diucapkan di hari-hari menjelang Rasulullah wafat, “Aku titipkan para pemuda kepadamu. Perlakukan mereka dengan baik karena mereka lebih mudah tersentuh hatinya (ketimbang yang tua). Lihat saja! Aku diutus oleh Allah sebagai pemberi peringatan, yang menerima ajaranku adalah para pemuda, sementara kaum tua menentangku.”

Dalam memperlakukan atau mendidik para pemuda, Rasulullah beda metoda. Ketika mendidik Zaid ibn Tsabit atau Abdullah ibn Umar, nampak bagaimana beliau begitu lembut memperlakukan mereka. Barangkali, karena Rasulullah melihat ada potensi “ulama” dari mereka berdua. Kita pun tahu, mereka berdua adalah soko guru keilmuan Islam. Berbeda ketika mendidik Samurah, misalnya. Terlihat diatas, sampai Rasulullah menyuruhnya untuk duel. Kita pun tahu, kelak Sumarah adalah orang yang “menyelamatkan” sunnah dari keganasan kaum Khawariz, baik dari golongan Azrakiyah maupun Abadhiyah – yang suka mengkafirkan orang-orang yang masih solat.

Dari sabda Rasulullah diatas, pemuda itu “lebih mudah tersentuh hatinya”. Indah nian bahasa baginda Rasul. Hati memang harus “disentuh”. Masalahnya adalah siapa yang berhasil menyentuhnya? Jika yang menyentuhnya adalah kaum neo-Khawariz, tak aneh jika pemuda menjadi teroris. Jika yang berhasil menyentuhnya adalah geng motor, jangan kaget jika laku pemuda berutal bukan kepalang. Jika yang sukses menyentuhnya adalah para broker politik, tak usah shok ketika para aktifis KNPI belajar jadi koruptor. Artinya, ruang sosial tempat para pemuda itu yang harus dijaga.

Kita tercengang, Samurah dan Rafi’, pergi ke medan laga di usia 14 tahun. Subhanallâh. Usamah Ibn Zaid ketika diangkat menjadi Panglima Perang oleh Rasulullah Saw, usia beliau baru 19 tahun. Konsep pemuda di zaman Nabi adalah mereka yang oleh kita dipandang “bau kecur”. Rasulullah percaya bahwa “hati yang mudah tersentuh” tak akan kalah oleh mereka yang “hatinya kokoh oleh pengalaman”. Artinya, kita tak pernah terlalu muda untuk memulai yang hal-hal menakjubkan, dan tak pernah terlalu tua untuk mengakhirinya. Sebab, tak pernah bisa dikatakan bagi seseorang itu muda atau tua, bagi mereka yang hendak menekuni kesehatan hidup: mengabdi kepada bangsa dan agama.

Menjelan PILKADA 2017, nampaknya akan lebih berkualitas demokrasi kita, jika ruang kandidat diisi oleh tokoh-tokoh yang “hatinya mudah tersentuh”. Dengan tak munculnya tokoh muda, jelas disana gagalnya kaderisasi dalam tubuh partai. Artinya, kekuasaan menjadi antrian ambisi nan panjang dan memuakkan. Atau, jangan-jangan, kaderisasi di tubuh parati benar-benar mati, sampai dikenal di publik “mahar politik”. Untuk menjadi calon walikota harus membayar sekian milyar ke partai. Oh Tuhan, mengerikan! Bubar saja negara ini jika sampai demikian. [ ]

2 Februari 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *