Surga

Oleh Fauz Noor

Apa beda dunia dan surga? Dunia adalah tempat dialektika, sementara surga non-dialektika. Inilah bedanya hidup di dunia dan di surga. Di dunia, antara keinginan dan pemenuhan keinginan masih terbentang jarak. Di surga, tiap kali pada kita terbit keinginan, di saat itu juga hasrat terlaksana. Di surga, jurang antara keinginan dan kepuasan hilang, dialektika berhenti di sana. Maka, hasrat tak perlu ada, menjadi tak ada, dan manusia bahagia.

Dalam agama, lukisan surga begitu mempesona. Quran sampai melukusikan sungai susu dan bidadari. Hanya saja, ada yang menggelitik disana. Surga menjadi tempat Adam dan Hawa, “sebelum” mereka berdua lupa, berdosa, lalu diturunkan ke dunia. Hanya saja, “sebelumnya” Tuhan berkata, “Aku akan menciptakan khlalifah di bumi.” Lha, bukankah “tujuan”-Nya adalah bumi, adalah dunia, kenapa Adam dan Hawa di surga? Ataukah surga adalah tempat singgah sementara? Kitab Suci nampaknya menjadi hal rumit jika kita tak menyediakan ta’wil untuk sebagian ayatnya.

Kita sekarang ini, di depan tulisan ini, adalah di dunia. Sesuatu yang butuh dialektika. Dan dialektika butuh petunjuk, butuh hidayah. Kita beda dengan ayam. Kemana ayam melangkah dan matuk-matuk, dibimbing oleh hidayah alamiah. Namun pada manusia, karena ia makhluk pengelola, hidayah itu diperlukan dalam satu proses tawar menawar yang dinamis, antara pertimbangan manusia dan kemauan Tuhan.

Di sini tugas berat itu terasa. Dan kebanyakan kita sering tidak melibatkan diri dalam proses dialektika. Tawar menawar hidayah secara pro-aktif. Umumnya kita hidup secara jasadi atau materialisme semata, sehingga dalam kehidupan sehari-hari jarang merasakan atau menyadari akan hadirnya Tuhan, merasakan surga yang nyata.

Tuhan terlalu abstrak bagi cara pandang kita sehari-hari. Kita memang bertahan percaya Tuhan yang sepenuhnya bekerja, tetapi itu sebatas kepercayaan. Kepercayaan yang tak ditemani ilmu dan hikmah kehidupan, bisa berubah menjadi mitos. Mitos yang dipelihara terlalu lama, menjadi khayal atau takhayul.

Tuhan dalam kehidupan kita, sering menjelma takhayul. Dan kita tak berani keluar dari takhayul, toh kita sering betah di sana. Omongan sehari-hari menyebut Tuhan, kumpul-kumpul juga melibatkan nama Tuhan. Bahkan, bikin negara dengan mencantumkan Tuhan di baris pertama kalimat-kalimatnya. Dan surga seolah sudah di depan mata. Bencana pun nyata.

Tuhan diambil nama-Nya, untuk dimanfaatkan sebagai pengatasnamaan, kemudian akhirnya menjadi komoditas atau barang jualan untuk memperhebat pengaruh politik dan semakin laku dagangan. Masih lumayan Tuhan disebut-sebut, meskipun Tuhan sama sekali tak butuh disebut-sebut. Bahkan Tuhan marah jika Ia disebut-sebut hanya sekedar untuk komoditas. Karena Ia marah, maka surga tak kunjung terasa.

Satu yang penting dalam lukisan penghuni surga pada al-Quran. Penghuni surga adalah mereka yang tak terkenai takut dan sedih. Jika surga adalah non-dialektika, maka tempatnya adalah jiwa yang berserah diri hanya kepada-Nya (taslim). Dalam hidup yang berdialektik, jiwa yang taslim berserah sepenuhnya semuanya kepada-Nya. Dalam bahasa agama tawakal. Tawakal bukan laku akal, melainkan jiwa yang sumerah. Dalam tawakal tak ada dialektik. Sepenuhnya Tuhan yang berkerja dalam hidup. Tawakal membawa kita pada ruang tiada takut dan sedih.

Hidup telah terlampau banyak nasihat. Hidup telah terlalu banyak teguran. Sesak sudah oleh iming-iming dan khayalan. Carilah surga bukan di luar diri kita. Ia bukan di sana. Tapi di sini. Dan biarkan surga di sana menjadi rahasia. [ ]

26 September 2017

One thought on “Surga

  1. syurga itu dimulai dari deep zero mind proccess ..seperti pelayan Fir’aun melihat sosok Yusuf alayhi salam. Allahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: