Surat Buat Baginda Nabi

Fauz Noor

Assalamu’alaika ya Rasulullah, salamun ‘alaik.

Ya Rasulullah, tahun ini Maulidmu datang kembali. Kami, apalagi muslim Indonesia, wajahnya sumeringah, bahagia jiwa seolah surga sudah di depan hamba. Serempak berduyun-duyun kami penuhi acara-acara Mualidmu, memujimu, dendangkan shalawat kepadamu. Dan baginda tahu bahwa itu semua demi meraih keselamat diri kami semata. Kami mencintaimu wahai Muhammad, buktinya setiap Maulid kami sumeringah bahagia. Sayangnya kami selalu gagal dalam mengikuti tapakmu, meneladani jejakmu, membumikan sunnahmu. Kami gagal menjadi sahabatmu, gagal untuk benar-benar menjadi pengikutmu, karena kami selalu pukau oleh kekuatan-kekuatan kecil yang selalu kami agungkan.

Ya Rasulllah, dalam diri kami, terlalu liar sifat ular menjalar, terlalu rinci prilaku babi, terlalu sering sifat anjing bergunjing, terlalu banyak kami bertingkah tamak. Kami kehilangan arah di rimba kehidupan ini, maka kami datang di Maulidmu, kami segarkan cinta kami kepadamu, kami raih kembali cinta kami kepadamu. Di sana, di Maulidmu, kami tunduk khusuk, memunguti kepingan noda dalam diri kami, dan seketika dada kami sesak. Sesak oleh dosa. Sesak oleh nista. Kami terlalu asyik dengan dunia, sampai lupa pada Yang Maha Segala. Entah harus kami apakan diri ini ya Rasullah, hanya kepadamu kami mengadu dan hanya kepada syaf’atmu kami sandarkan kebusukan diri kami. Ya Rasulullah, isyfa’lana ya Rasululallah. Isyfa’lana…

Sejenak kami ingat bangsa kami, al-jumhuriyyatul Indonisy. Bangsa yang konon dirumuskan oleh para ulama di tahun 1290 H/1873, dan diproklamasikan 72 tahun kemudian, adalah bangsa dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. 200 juta lebih orang mengaku memeluk agamamu di nergi ini ya Rasulllah, satu jumlah yang tidak kecil. Andai saja kami bisa mengikuti jejakmu dalam membangun tantan sosial yang sehat, bangsa ini akan jadi kekuatan dunia yang tidak ringan.

Sungguh ironi, ya Rasul… Di negri mayoritas Muslim ini, korupsi menjadi-jadi. Padahal dalam firman Suci, umatmu membaca bagaimana Tuhan murka di al-Maidah 33, “membunuhnya, menyalibkannya, memotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediaman”. Firman Suci jadi guyonan, mainan, karena iman kami yang lebih tipis ketimbang selembar uang.

Ya Rasul, seketika kami ingat saudara kami di Irak, di Syiria, di Palestina, di Yaman, di belahan tanah Arab. Mereka perang saudara, saling tikam saling terjang, saling bunuh saling bantai. Ya Rasulallah, bagaimana ini? Baginda pasti berduka. Baginda pasti berlinang air mata. Hati baginda pasti terluka. Inilah kami ya Rasulallah, umatmu yang terlalu canggih haturkan duka ke jiwa baginda. Inilah kami yang terlalu bodoh, mengira kebenaran padahal nafsu kami yang menjadi mahkota. Ya Rasul, selamatkan saudara kami disana, pulihkan kesadaran mereka, kembalikan ketulusan agamamu ke dalam jiwa mereka. Kami disini, hanya bisa berdoa, untuk kemulian Islam, untuk kemuliaan kami sebagai manusia.

Duh, Baginda. Fitnah itu, bencana itu, anginnya mulai berhembus ke bangsa kami, Indonesia. Bangsa yang muslimnya di bangun dengan fondasi keramahan, dengan tiang toleransi, dengan spirite Ketuhanan, oleh segelintir orang yang rakus hendak dibenturkan, diadu-domba dengan isu-isu agama. Kami bhineka tunggal ika. Bangsa kami berbeda-beda suku dan agama, sebagaimana bangsa Madinah yang engkau bangun peradaban disana. Oleh mereka yang tak bertanggung-jawab, selalu dipantik untuk terjadi konflik. Ya Rasul, baginda tahu, ini bukan tentang agama, sama sekali bukan tentang risalahmu yang suci. Ini adalah al-fitnatul-kubra. Karena laku mereka yang agamanya adalah uang, karena tingkah mereka yang jiwanya serakah, yang meraup kenikmatan dari kekacauan. Mereka bicara demokrasi, tetapi tingkah mereka mengencingi kami. Mereka bicara perdamaian, tetapi mereka sendiri yang terus-menerus memproduksi senjata. Mereka tak memandang agama adalah mulia. Agama mereka adalah keuntungan dan keserakahan. Bagaimana ini, ya Rasul? Bagaimana kami? Bagaimana kami yang gampang terpropokasi ini? Mungkin karena cinta kami terlalu tinggi, sampai kesadaran kami sering mati. Kuatkan kami sebagai bangsa, ya Rasul. Kuat kami dalam Bhineka Tunggal Ika. Pulihkan kesadaran kami bahwa kami bersaudara. Bangsa kami berbeda-beda agama, berbeda-beda madzhab, berbeda-beda budaya, bantulah kami untuk bisa menjadikan ini semua sebagai kekuatan dan bukan malah kelemahan, bantulah kami untuk bisa menyikapi perbedaan sebagai rahmat dan bukan malah laknat. Ya Rasul, papahlah kami untuk bisa menapaki sunnahmu.

Ya Rasul, sebagai bangsa kami masih balita. Termani kami ya Rasul, iringi langkah kami ya Rasul, sudilah baginda untuk mengulurkan tangan baginda untuk kami raih, kami akan lumuri tangan baginda dengan air mata kami. Ya Rasul, bahagia kiranya jika baginda berkenan mengelus-elus kepala kami penuh sayang, agar kesadaran kami pulih kembali, agar iman kami kuat kembali. Salamun ‘alaik ya Rasulullah, salamun ‘alaika… [ ]

28 Desember 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *