Semua Kembali: Ziarah ke Sejarah

Perjalanan berkunjung ke temat-tempat suci, adalah dambaan segenap insan beriman. Bukan semata karena sebuah perjalanan, melainkan karena karamah dan berkah, yang diyakini tersimpan di sana. Berkunjung ke tempat-tempat suci adalah melauti waktu, menapaki jejak-jejak insan-insan suci, mencoba meraih seberkas hidayah dari semburat cahaya Sang Hakiki.

Buku ini adalah catatan perjalanan. Penulisnya adalah direktur Utama PT. Bagja Bagea Balarea, H. Yayat Syariful Hidayat. Bisa dipastikan, penulis buku ini sudah berulang kali ke tempat-tempat suci. Dalam setiap kunjungan, nampaknya ia selalu merasakan getar yang tak sepele. Getar yang menjalar sampai menembus batas nalar. Ada keharuan, ada kebahagiaan, duka pun tak jarang menjelma, dan sudah tentu rasa suka cita. Bukan tak mudah, segala getar itu ia tumpahkan pada aksara. Ia merenungkan hembus angin di Masjid Aqso, dengan penuh getir hatinya merintih, “Ya Allah, sampai kapan konflik akan berakhir?” Ia menginjakan kaki di Piramid Mesir, ia terpejam sambil menghirup sepoi angin yang membawa kabar tentang peradaban yang agung, segera ia berkisah tentang nabi-nabi. Dan kita yang membacanya, dibuat terpana sambil berdoa, semoga kelak kita bisa menginjakan kaki di sana.

Penulis buku ini besar di lingkungan pesantren, bapaknya adalah seorang Kiai yang sangat dihormati di Ciamis, almarhum almaghfur lah KH. Muslim Abdurrahman Saleh. Karena besar di lingkungan pesantren, sudah tentu semenjak remaja di benaknya tertanam kisah-kisah dalam al-Quran. Tak aneh, ia begitu lancar dalam buku ini mengutip kisah-kisah dalam kitab klasik, mungkin selancar menghitung rumus-rumus fisika ketika ia kuliah di Pendidikan Fisika UPI Bandung. Dengan leiben pendidikan seperti itu, kita menikmati buku ini dengan nuansa tradisional yang kental dan nuasa ilmiah yang kuat, sesekali cerita tokoh-tokoh dunia semisal B.J. Habibie muncul secara mendadak, tapi tak membuat kita tersentak, mengalir lembut percikan hikmah dari Sang Maha Mutlak.

Satu yang utama dalam novel ini, di samping cerita perjalanan ziarah yang menguras emosi dan simpati, nampaknya penulis ingin memaparkan pelbagai hal yang mesti dipersiapkan oleh seseorang yang hendak ziarah ke tempat-tempat suci, wal bi khusus ke tanah Palestina, Jerusalem, dan Jordan. Sesuai janjinya, selepas buku ini, H. Yayat akan segera menulis kisah ziarah ke Makkah dan Madinah, yang naskahnya sedang ia persiapakan.

Akhirnya, dengan bangga Sabda Book’s, persembahkan buku ini kepada insan-insan yang merindukan ziarah ke tanah-tanah suci. Dan suatu saat nanti, semoga kita bisa berziarah ke sana, dan bagi yang sudah semoga bisa mengunjunginya kembali.

Selamat Membaca!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *