Sang Darwish

Oleh: Fauz Noor

Jalannya tenang, seringkali di tangan sebuah buku kecil digenggam. Beberapa mahasiswa menyapanya, ia membalas selalu dengan kesantuan yang khas.  Kalau hendak mengajar ke kampus, saya hampir tak pernah melihatnya memakai kedaraan. Berbeda dengan para intelektual lainnya, yang selalu terlihat ingin keren, mungkin supaya mendatangkan kharisma dan mahasiswa pun tabik. Ia berbeda. Ia selalu tampil apa adanya. Bahkan seringkali ia duduk lesehan bersama kami di Toko Kebul yang sempit, ngadu bako sambil membicarkan buku atau ilmu. “Saya itu senangnya diskusi,” ujarnya suatu ketika.

Saya mengenalnya semenjak duduk di bangku Madrasah Aliah. Saya mengenalnya dari buku-buku yang ia terjemahkan, tak kurang dari 100 buku, yang banyak terbit di Mizan, Pustaka ITB atau Pustaka Hidayah Bandung, dan yang lainnya. Saya mengenalnya, karena saya punya tradisi, ketika hendak dan tuntas membaca buku, seperti tradisi pesantren, selalu kirim barkah al-Fatihah kepada penulisnya, pun kepada penerjemah (jika buku itu terjemahan). Tentu saja perkenalan itu bersifat platonik.

Ketika melanjutkan studi ke S-2, disinilah saya pertama kali bisa mencium tangannya. Berharap berkah dari ilmunya yang tidak sepele. Senang rasanya, menjadi murid dari seseorang yang sudah lama saya kagumi, Prof. Dr. H. Afif Muhammad, MA.  Kuliah bersamanya menyenangkan. Suaranya pelan, tapi intonasinya terarah. Bahasanya runut, menunjukan punya kemampuan mantik yang sudah mendarah-daging. Lebih dari segala, yang sangat saya kagumi, pembahasannya tak jarang mendekontruksi pemikiran yang sudah bercokol dalam benak umat berabad-abad. Semua mahasiswanya tahu, bahwa ia seorang cendekiawan yang membumi.

Disamping merengguk ilmu darinya di kelas, saya ketimpa anugrah yang tak terkira, bisa menikmati ilmu di lantai atas rumahnya yang sederhana. Hanya berdua. Tak semua mahasiswa mendapat kesempatan seperti ini. Dari ruang inilah saya akhirnya tahu bahwa beliau adalah santrinya al-marhum al-maghfur lah KH. Wahab Hasballah, bahkan beliau bersepupuan dengan Ibu Hj. Sinta Nuriah Abdurrahman Wahid. Dahulu, al-marhum al-maghfur lah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering datang kepadanya, berdiskusi dan, “suka memberi oleh-oleh buku”, ujar Prof. Afif. Bahkan ketika Gus Dur menjadi Presiden dan sedang di Bandung, ia menelpon Prof. Afif. “Sampean kok tak sowan ke saya dan mengucapkan selamat,” ujar Presiden Gus Dur.  “Sudah terlalu banyak yang begitu, Gus. Cukup bagi saya, seorang presiden mengunjungi kolu, dan bisa mengucapkan selamatnya disini saja.” Prof. Afif bercerita, sambil terkekeh. Inilah Prof. Afif, tak ingin memanfaatkan “kedekatan” untuk urusan yang (mungkin) baginya remehtemeh. “Saya ini begini saja, dan senang begini,” ujarnya sambil tersenyum. Menurut saya, arti “begini”, arti isim mubham ini, hidup sederhana bersama kesedarhanaan tanpa harus merengek dan ingin tampang.

“Kenapa tak aktif di NU, Prof?” saatu ketika saya bertanya. “Dahulu, ayah saya, disuruh sama Mbah Hasim Asy’ari dan Mbah Wahab Hasballah, untuk aktif di Masyumi. Entah tujuannya apa, mungkin untuk menyimpan santri-santrinya agar bisa berdakwah di semua lini. Makanya keluarga besar di Jombang menyebut kami dengan keluarga masyumi. Dari sini, entah kenapa pula, semua saudara saya pun tak ada yang aktif di NU. Saya sendiri lebih memilih sebagai penerjemah buku dan dosen saja di kampus.” Jawaban Prof. Afif ini, mengingatkan saya pada cerita Prof. Nurcholis Madjid, yang orangtuanya sama dengan orang tua beliau, disuruh atau disarankan aktif di Masyumi walau sebenarnya adalah nahdliyyin.

Sebagai seseorang yang besar di lingkungan pesantren, sudah tentu beliau mengenal dunia tarekat. Ada yang menarik tentang ini. Para Profesor dari UIN Bandung banyak yang suka ke Suryalaya, termasuk Prof. Afif. Nah, jika hendak pengajian bersama almarhum almaghfur lah Abah Anom, ada yang spesial bagi Prof. Afif. Abah Anom selalu memberikan sebungkus rokok untuk Prof. Afif, dan ini hanya kepada beliau. Tentu saja bagi profesor lain membuat iri dan suka menjadi bahan obrolan menarik antara mereka. “Padahal mereka berbait kepada Thariqoh Qadiriyyah Naqsabanndiah, sementara saya tak berbait,” ujar Profesor asal Jombang yang suka dipanggil “Ucu” oleh Abah Anom. “Ketika hendak berbai’at, Abah Anom malah berkata, ‘Panjenengan tak usah berbait karena dahulu sudah di Bait oleh Kiai Romli’.” lanjut Prof. Afif. Sementara ia tak ingat kapan ba’it itu dilaksanakan, “Mungkin karena sewaktu kecil saya suka dibawa oleh Bapak saya bersama Kiai Romli,” ujarnya dengan senyum. Entah seperti apa kedekatan antara Prof. Afif dengan Abah Anom, yang jelas ketika peringatan 100 tahun Pesantren Suryalaya, Prof. Afif diminta sebagai penceramah dalam peringatan tersebut.

Dalam dunia tarekat, atau tasawuf, laku spiritual yang tanpa berbait kepada salah satu Thoriqoh dikenal dengan “Darwish”. Menurut saya, sebutan inilah yang paling mengena kepada Prof. Afif Muhammad: Sang Darwish. “Bolehlah disebut begitu, karena saya keturunan Muhammad Darwish,” jawabnya dengan tertawa.

Di rumahnya yang sederhana di Bandung, Sang Darwish masih setia dengan buku. Sekarang ini beliau sedang menerjemahkan Tafsir Ibnu Sina, dari naskah-naskah yang tersererak. Saya agak kaget, ternyata Ibnu Sina punya karya Tasif al-Quran. “Benar, Kiai. Bantulah saya untuk nerjemahkan naskah-nakah ini,” ujar Prof. Afif yang suka memanggilku dengan “kiai” (padahal Kiai Bedus ini mah). Dan disela-sela kesibukan yang ini, malah saya mengganggunya dengan meminta Kata Pengantar untuk buku Marginalia 2. Dan alangkah senangnya saya, ketika Sang Darwish dari Njombang ini bersedia, dan sekarang Kata Pengantar itu sudah dipercetakan.  Terimakasih banyak, Prof. Jazakallah Ahsanal Jaza’.

 

Tasikmalaya, 25 April 2019.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *