Patung Cahaya

38 Views

(cuplikan Novel Patung Cahaya)

Fauz Noor

Judul Buku: Patung Cahaya

Penerbit: Sabda Books       

Pree-Order, untuk pemesanan bisa menghubungi Muslim Nurdin, kontak WA: 082216776349 

Pemikiran seseorang akan sebuah masalah bisa berubah. Hal ini bukan sesuatu yang salah. Hal ini wajar saja. Toh zaman juga berubah. Bukankan pemikiran adalah bagian dari zaman? Belum lagi, jika kita membaca pemikiran para ahli Hukum Islam, as-Syafi’i contohnya, bukankah beliau mempunyai pemikiran yang dikenal dengan qaol qadim. dan qaol jadid. Untuk satu kasus, fatwa qaol qadim dan jadid, bisa sangat berbeda bahkan kontradiktif. Aku tahu ini setelah aku mengkhatamkan satu kitab karya ulama kontemporer kebanggaan bangsa Indonesia, as-Syafi’i fî Madzhabaihi al-Qâdim wa al-Jadîd, buah karya Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam al-Indonisi.

Dalam benakku sekarang, pendapatku tentang pologami tak sepenuhnya menentang. Aku bisa memahami atau memaklumi peristiwa beristri lebih dari satu. Aku bisa, walau nampaknya aku tak akan mengizinkan kalau suamiku kelak akan melakukan poligami. Dan kalau suamiku nanti poligami tanpa sepengetahuanku, entah apa aku akan marah atau tidak. Entah. Untuk saat ini aku menduga, ya menduga, pasti aku akan marah besar.

“Fika, kamu ingat Hasna?” suatu ketika Ibuku bertanya.

“Teh Hasna kenapa bu?” Aku pasti ingat Teh Hasna, karena ia salah seorang guruku di pesantren ketika belajar Nahwu sewaktu Madrasah Tsanawiah. Ia salah seorang santriah Bapak yang usianya mungkin delapan tahun diatas aku.

“Kasian dia, Nak.”

“Terakhir aku dapat kabar suaminya sakit.”

“Suaminya wafat tiga tahun yang lalu.”

“Apa?” Aku kaget. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”

“Kemarin dia datang ke rumah. Ia berkata pengen ketemu kamu, tapi kamunya lagi keluar.”

“Kenapa Ibu tak telpon aku?”

“Memang kamu merasa sepenting apa buat Hasna?”

“Bukan begitu, Bu. Pengen bertemu saja. Teh Hasna dahulu suka mengasuh Fika kala balita.”

“Kemarin ia datang bersama Bapak Mertua dan Ibu Mertuanya.”

“Lha, kan suaminya sudah wafat?”

“Itu dia, Fika. Ia disayang benar oleh kedua mertuanya. Padahal kala hendak nikah dengan alharhum suami Hasna, mereka berdua agak kurang setuju. Bapakmu dahulu sampai datang kepada mereka berdua untuk memberikan pengertian.”

“Memang Bapak kenal sama mereka bu?”

“Ya kenal mungkin tidak, tapi siapa yang tak tahu kepada Juragan Misbah di kota ini, Nak?” Mertua Teh Hasna memang kakoncara karena salah seorang keluarga kaya di Tasikmalaya.

“Bagaimana Teh Hasna sekarang, Bu?”

“Kasihan.”

“Kasihan bagaimana?”

“Sewaktu menikah Hasna satu tahun harus mengurus suaminya yang sakit. Ketika itu ia harus ngurus anaknya yang masih bayi juga. Bisa dibayangkan ibu muda harus menunggu suami yang terbaring di rumah sakit,” Ibuku mulai bercerita. “Ia lalu harus jadi janda anak satu dalam usia yang masih muda. Orang bilang jahe, janda herang. Tapi Hasna malah harus mengurus Ibu Mertuanya yang sekarang sakit. Sambil mengurus anaknya yang masih bayi, ia juga mengurus ibu mertuanya yang mulai sakit-sakitnya mungkin karena saking berduka ditinggal wafat anak bungsu kesayangannya.”

“Bagus itu, Bu. Jadi Teh Hasna sekarang disayangi oleh Bapak dan Ibu Mertuanya.”

“Iya, sampai ketika Ibu Mertunya sakit, ia tak mau dimandikan selain oleh Hasna.”

“Dari dulu tangan Teh Hasna dingin, Bu. Geutén. Tangan Teh Hasna penuh kasih, dan senyumanya itu Bu, tulus dan ikhlas. Aku masih ingat, Bu.”

“Iya Hasna anak baik, tapi sayang nasibnya tak begitu baik.”

“Kenapa bilang begitu, Bu?”

“Iya coba dipikir saja. Sebelum menikah dicibir, setelah menikah harus mengurus suami sakit sampai wafat, selepas suaminya wafat lalu mengusus Ibu Mertunya yang sakit-sakitan.”

“Itu tanda bahwa Teh Hasna orang baik, Bu.”

“Tapi nasibnya tak baik.”

“Nasibnya tak baik bagaimana maksud Ibu?”

“Lebih tak baik lagi nasib Hasna, ketika suami kakak iparnya mengajaknya untuk menikah.”

“Suami kakaknya bagaimana, Bu?” Aku mulai penasaran.

“Iya itu. Kakak suaminya yang wafat, Bu Nuri, meminta Hasna untuk menikah dengan suaminya.”

“Hah? Poligami, Bu?”

“Suaminya Bu Nuri sudah lama minta izin untuk menikah lagi ke istrinya, tapi tak diberi izin. Nah, ketika melihat begitu baik dan sayangnya Hasna kepada Ibu Mertuanya, ibunya bu Nuri, malah bu Nuri sendiri yang meminta bekas adik iparnya itu supaya mau dinikahi oleh suaminya.”

“Astaghfirullah,” refleks aku berujar istighfar. “Bagaimana bisa begini?”

“Ketika Ibu Mertuanya sakit, Hasna yang mengurusnya, sampai satu tahun Hasna tinggal di rumah mertuanya. Setelah itu ia tinggal di rumahnya, di rumah suaminya yang awalnya nyicil tapi sekarang sudah dilunasi mertuanya. Ketika Hasna mulai bekerja menjadi guru TK di dekat rumahnya, tiba-tiba saja Bu Nuri datang melamar Hasna untuk suaminya.”

Sungguh aku penasaran, bagaimana bisa itu terjadi. Dalam benak seketika aku merasa sesuatu yang horor gentayangan.

“Suaminya mau, Bu?” tanyaku.

“Yaa pasti mau atuh liat perempuan secantik Hasna begitu.”

“Suaminya Bu Nuri sudah tua, Bu?”

“Tidak juga. Usia 40-an.”

“Teh Hasnanya mau?”

“Dua bulan kemarin Hasna menceritakan ini ke Bapak. Meminta pendapat Bapak. Dan kata Bapak kalau bisa cari suami lain saja. Masa janda secantik Hasna yang hanya punya anak satu tak ada yang mau menikahinya lagi.”

“Ya mending begitu, Bu. Masalahnya, dipoligaminya itu, Bu. Kasihan Teh Hasnanya.” Nampaknya aku sudah mulai terbawa perasaan, aku mulai kasihan, walau perasaan ini mungkin tak adil.

“Nah, Bapak dan Ibu mertua Hasna, Bu Nuri dan suamianya kemarin datang ke Bapak. Ia menceritakan maksud mereka. Dalam pengakuannya, mereka semua sudah sayang ke Hasna, sudah menganggap anak mereka. Dan mereka ingin menguatkan ikatannya dalam tali keluarga.”

“Teh Hasna kan keluarga mereka, Bu. Kan mereka punya cucu dari Teh Hasna?”

“Iya, itu. Bapakmu juga bingung kala itu.”

“Orang tua dan keluarga Teh Hasna bagaimana, Bu?”

“Mereka sepenuhnya menyerahkan kepada Hasna sendiri.”

“Ya Allah, repot sekali kalau orang-orang baik pada kumpul semua.” Ujarku spontan.

“Teh Hasna mendapatkan rumah, itu wajar Bu. Ia kan anaknya, istri dari anaknya yang wafat,” kembali kataku. “Jadi kalau alasannya keluarga suami Teh Hasna baik karena memberikan rumah, bukan sesuatu yang istimewa. Tapi masa kebaikan memerikan rumah harus dibayar dengan mau menjadi istri kedua?”

“Ketika Hasna akan nikah dengan Hilman dahulu dan tak direstui, justru yang mendukung dan membantu pernikahan mereka adalah Bu Nuri dan suaminya. Hasna tahu benar bagaimana baiknya bu Nuri dan suaminya.”

“Waduh, tambah repot ini,” kembali kataku refleks. “Suaminya Bu Nuri kerjanya apa, Bu?”

“Pengusaha. Sukses sepertinya. Dan menurut Ibu, ia orang baik, buktinya mau poligami tapi minta izin dulu ke istri. Ketika tak diizinkan, ia menuruti permintaan istrinya. Padahal mereka berdua belum punya anak.”

“Belum punya anak?”

“Iya. Makanya Bu Nuri mengijinkan suaminya menikah lagi juga, tetapi harus kepada Hasna.”

“Subhanallah…” Sekarang aku berujar tasbih. “Duh, Bu. Fika tak sanggup melanjutkan obrolan ini. Horor bu horor.”

“Kenapa jadi kamu yang ketakutan?” tanya ibuku.

“Tidak, Bu! Horor bener-bener horor,” ujarku sambil terus pergi meninggalkan ibuku sendiri.

Kisah Teh Hasna membuat aku untuk kembali merenungkan manusia dengan segala misterinya. Ya manusia adalah sebuah misteri. Begitu banyak hal dalam diri manusia, begitu banyak macam kisah dalam hidup manusia, begitu banyak keajaiban yang akhirnya bisa kita saksikan dalam diri manusia. Malangnya, kita seringkali menjadikan diri kita sebagai hakim terhadap segala persoalan orang lain. Lalu dengan sombongnya, orang lain harus menuruti kita, mengikuti kita, mentaati pendapat kita. Padahal mereka hidup dengan segala persoalan mereka yang berbeda dengan diri kita. Sialnya lagi, kita tetap saja memita mereka supaya mengikuti kita, mungkin dengan tak sadar juga kita telah menjadikan mereka seperti kita. Padahal, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. “Bukan apa” karena belum tentu yang ada pada kita berada dalam rido-Nya. “Bukan siapa” karena jelas kita bukan Nabi yang mesti harus selalu ditaati.

Menurutku poligami tak baik, padahal belum tentu bagi orang lain dengan segala persoalan yang menghujani mereka. Aku hanya berdoa semoga dalam hidupku nanti, suamiku hanya beristrikan satu saja: Fika Aisyah Fatma.

 

[1] Fatwa-fatwa as-Syafi’i ketika beliau hidup di Irak.

[2] Fatwa-fatwa as-Syafi’i ketika beliau hidup di Mesir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *