Pasar

Fauz Noor

“Dimana kesendirian berhenti, pasar pun mulai. Dan dimana pasar mulai, mulai pula riuh rendah para aktor besar dan desau kerumun lalat beracun.” (Friedrich Nietzsche)

ITULAH komentar Nietzsche akan pasar dibukunya Also Sprach Zarathustra. Tentu saja, pasar tempat dimana ia hidup. Pasar yang gaduh dan riuh. Pasar dimana kesendirian atau kesunyian menjadi sesuatu yang susah, dan dipenuhi akrobat para “aktor besar” yang memonopoli kenyataan. Pasar yang kotor dengan “desau lalat beracun”. Kita pun tahu, Nietzsche sedang memaki kapitalisme, mencaci para borjuis yang kerap terlihat seperti, dalam bahasa Nietzsche, “badut-badut yang khidmat”.

“Kebenaran yang menyusup ke kuping mereka hanya dusta dan dianggap sesuatu yang tak bermakna. Sesunguhnya ia hanya percaya kepada dewa-dewa yang berkoar di dunia. Persetan ia punya agama apa,” kembali kutuk Mbah kaum nihilis ini.

Bagi Nietzsche, para borjuis adalah “aktor besar”. Di pasar, para pemilik modal itu hanya berakting, hanya sandiwara, tawar-menawar yang terjadi hanya sebuah akting, satu tujuan yang pasti, keuntungan yang segunung. Di kemudian hari, Trotsky menyetujui Nietzsche, “Dibawah kapilatisme tiap orang mimikirkan dirinya sendiri. Pada saat yang sama, tak seorang pun yang memikirkan nasib semua orang.”

Lalu, siapa yang mampu memikirkan nasib orang banyak? Negara, jawab Trotsky, artinya “negara yang dipimpin partai Komunis”. Namun, Trotsky akhirnya harus tahu bahwa Negara Komunis akan hidup untuk memikirkan nasib orang banyak itu hanya sebuah teori. Trotsky melihat bahwa Negara Komunis dalam prakteknya hanya memikirkan hidup para birokratnya saja. Trotsky pun amuk. Dan ia menjadi musuh Negara, sampai akhirnya mati dengan kepala berdarah setelah dihantam kapak oleh seorang agen rahasia yang diutus Josef Stalin. Tentu saja Trotsky tak menyaksikan keruntuhan Negara Komunis dan semakin digdayanya kapilatisme di dunia.

Trotsky punya teori yang nampaknya abadi: di bawah kapitalisme tiap orang memikirkan dirinya sendiri. Bukankah ini diakui oleh para pemikir kapitalis, dari Adam Smith sampai dengan Milton Friedman dan Francis Fukuyama? Dengan gentelman, para kapitalis menjawab, “Iya.”

Daniel Bell, ahli sosiologi dari Harvard itu, pernah menulis bahwa setelah Perang Dunia II, hanya sedikit kapitalis yang memakai istlilah free enterprise. Lalu, John D. Rockefeller, bos kapitalis yang sudah mati itu, sangat membenci “liberalisme” dan persaingan bebas. Ia lebih suka monopoli. “Demi keuntungan yang menumpuk,” ujarnya, “Kita harus membunuh para pesaing.”

Kata kuncinya adalah monopoli. Dan inilah rumus yang dipakai kapitalisme modern dewasa ini. Dengan kata ini pula lahir pasar-pasar kapitalisme dengan mematok harga yang pasti. Tiada lagi tawar menawar. Tiada lagi sandiwara. Tiada lagi akting di pasar. Lahirnya, Mall dan Mini Market. Pasar yang dipenuhi “desau kerumunan lalat beracun” pun kurang diminati. Jika Nietzsche bangun dari kuburannya, ia akan tepuk jidat.

Mini Market dan Mall tentu saja milik para pemodal besar. Dengan kekuatan modalnya, mereka bukan hanya mampu mendesain tempat yang nyaman, tetapi menarik para pengangguran untuk menjadi karyawan (atau buruh). Lalu apa yang terjadi? Rakyat kecil yang bermodal seuprit kalah atau mati. Pedagang kecil telah dibunuh oleh Rockefeller dan konco-konconya.

Siapa yang akan membela rakyat-kecil? Sepatutnya adalah Negara atau Pemerintah. Miris kita mendengar banyak Mini Market yang tak berizin. Dimanakah Negara? Perlu ketegasan untuk soal ini!. Pasang pajak yang tinggi untuk mereka! Sekali lagi, pasang pajak yang tinggi! Belum lagi banyak Mini Market atau Perusahan yang memiliki karyawan lebih dari 10 orang tetapi tidak mempunyai organisasi buruh yang mobile di dalamnya, seperti dititahkan Undang-Undang di negara kita. Bahkan, ada yang lucu? Mall-Mall atau Perusahaan punya Ikatakan Pekerja, namun itu hanya lipstik, yang pola kerjanya hanya untuk melanggengkan kekuataan atau monopoli pemilik modal. Sangat Ironis, Untuk Kota Tasikmalaya, yang notabene kota jasa, namun kehidupan buruhnya memprihatinkan, baik secara ekonomi ataupun secara organisasi.

Nampaknya, ujaran Karl Marx masih relevan untuk melawan ketidakadilan dewasa ini, “Kaum buruh, bersatulah!”. [ ]

 

Dicuplik dari buku Marginalia 1, karangan Fauz Noor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *