Panik adalah Kesombongan

oleh Fauz Noor

Wujudnya tersembunyi. Penuluran terjadi tanpa disadari. Kematian pun mengintip dari segala sisi. Di tengah pandemi, meninjam bahasa Albert Camus dalam La Peste, “Kematian datang tanpa persiapan”. Novel Camus ini mengguncang. Saking kerennya novel ini, bahkan kita yang membacanya berulang-ulang menahan panik.

Tidak ada pesan apa pun dalam novel itu selain abrusditas. Tak dikisahkan bagaimana kota Oran sampai terjangkit sampar. Terjadi begitu saja. Penduduk kota Oran pun tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa menerima. Satu per satu manusia pun mati. Ini absrud. Kenapa mati sementara mereka tak berbuar salah apa pun. Wabah itu terjadi, dan manusia mati. Absurd.

Camus mengangkat dua tokoh utama. Paneloux yang seorang pastor dan Rieux yang seorang dokter. Keduanya berjuang menangani wabah. Bagi si Pastor, wabah yang terjadi adalah kesempatan emas untuk bertobat, untuk membuka hati bagi rahmat Tuhan, tapi ia miskin dalam penanganan secara “manusiawi”. Sementara bagi Rieux, seorang suci tanpa Tuhan, menolong manusia adalah keutamanan dalam hidup, tanpa embel-embel apapun sekalipun itu pahala dan surga.

Novel yang terbit 1947, sebagai karya seni, adalah benar-benar indah. Khas filsafat eksistensialisme, Camus berhasil membuka pikiran kita akan absurditas segala yang terjadi. Bagi bangsa berketuhanan, novel ini memang mengerikan. Tetapi begitulah yang terjadi, seperti di tengah virus Covid 19 sekarang ini, apa yang terjadi hampir mirip dengan yang dikisahkan novel La Pesta, yaitu: panik.

Slavoj Žižek, seorang filosof kontemporer, menyebut era sekarang dengan “era panik”. Sebagai seorang filosof penerus pemikiran marxis, sungguh wajar jika ia menamakan era kita sekarang (masa virus Covid 19) dengan era kepanikan. Žižek tak terlalu hirau akan Tuhan.

Menurut kamus, panik berarti, bingung, gugup, atau takut dengan mendadak (sehingga tidak dapat berpikir dengan tenang). Pertanyaannya adalah, kenapa bingung, kenapa gugup, kenapa takut mendadak, kenapa panik? Karena kita merasa bahwa yang terjadi “seharusnya” tak seperti yang kita saksikan. Virus corona datang. Tiba-tiba jutaaan manusia mati. Tiba-tiba ekonomi dunia gempa. Sama sekali tak pernah disangka, keluarga kita tiba-tiba tiada, wafat karena corona. Kita kaget. Kita pun panik.

Salah satu ekspresi panik, adalah kita yang tak hirau terhadap anjuran pemerintah. Ketika para pemimpin kita memerintah untuk menghindari kerumunan, malah memenuhi pengajian. Ini panik, karena laku yang dipilih adalah tak peduli akan pertimbangan akal sehat. Atau kita yang berada di daerah yang jauh dari zona merah, dengan segera menutup tempat kerja, menutup masjid, menutup pengajian. Ini pun panik, karena tingkah kita tidak bersandar pada pikiran yang jernih. Prinsipnya, karena sikap kita bisa berbeda dalam menyikapi Civid 19, maka mentaati pemerintah adalah solusi. Dalam qaidah fiqih dikenal, al-hakim yarfa’u al-khilaf¸ pemerintah bisa menghilangkan perbedaaan. Agar tidak terjadi keributan, kita wajib mentaati pemerintah.

Langkah pemerintah dalam menangani pandemi Corona bisa salah? Tentu saja. Tetapi walau bagaimana mereka adalah yang paling berhak untuk berbuat demi menyelamatkan warganya. Itu sebabnya, salah satu ekpresi kepanikan adalah mengkritik pemerintah tanpa dilandasi niat yang baik, pikiran yang tenang, dan tanpa data yang valid, tanpa sangka baik. Meminjam satu bait syair dalam lagu Ebit G. Ade, “Memang jika kita kaji lebih jauh. Dalam kekalutan, masih banyak orang. Yang tega berbuat nista.” Dalam hal ini, ukurannya adalah abstrak, adalah apa yang bergema dalam dada kita.

Falsafah Jawa punya ajaran: ojo gumunan, ojo kagetan dan ojo dumeh. Ojo gumanan, tidak mudah heran dengan peristiwa yang terjadi. Ojo kagetan, tidak gampang kaget dengan kejadian apapun yang menimpa. Ojo dumeh, jangalah besikap berlebihan dan menanggapi sesuatu. Lancarkanlah kritik tanpa dumeh.

Falsafah Jawa ini hendak mengajarkan sikap yang menjauh dari kesombongan. Kita panik, karena kita sombong, karena kita merasa bahwa peristiwa mewabahnya covid 19 seharusnya tak terjadi di negara kita. Kita merasa, usaha kita tak punya hak untuk ditempeli corona. Kita merasa, punya kepantasan untuk mendikte realista di depan kita. Dosa apa? Salah apa? Kita panik. Dan panik adalah kesombongan, karena merasa punya hak mendikte realitas. Padahal semua semua peristiwa, semua yang menimpa, sebanarnya adalah dari kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Seburuk apa pun realitas yang menimpa, kesadaran orang beriman konektifitasnya akan langsung kepada Allah. la haula wala quwwata illa billah. Tugas kita adalah tawakal kepada-Nya.[ ]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *