Novel Syahadah Musthafa

Oleh Dr. Wildan Taufiq, M.Hum

(Dosen Bahasa Arab di UIN Sunan Gunung Djati)

Fauz Noor adalah sahabat lama sejak mondok di Pondok Pesantren Sukahideng dan bersekolah di MTsN & MAN Sukamanah Singaparna Tasikmalaya (1992-1998). Seingat saya, kami pernah satu kelas dalam beberapa tingakatan baik di pesantren maupun di sekolah. Di MTsN Sukamanah, kami satu kelas kls I.3 (1 smt) dan kls III.4 ( 2 smt). Di MAN Sukamanah kami sekelas lagi waktu kelas 2.A (2 smt). Adapun di pesantren kami satu tingakatan (marhalah) mulai ibtidaiyyah III di bawah bimbingan KH. Ahmad Muhaemin (2 smt). Lalu marhalah mutawassithah di bawah bimbingan KH Enung Nuruddin (Allahu yarham) dan KH Abdul Hamid selama 4 tahun hingga keluar pondok tahun 1998. Selepas Aliyah, saya kuliah di IAIN (skrg UIN) Bandung jurusan Sastra Arab, sedang ia di IKIP (UPI) Bandung Jurusan Fisika. Seperti tukeran, S2 saya d UPI linguistik. Fauz melanjutkan S2 d UIN Bandung.

Sejak di pondok dulu, sahabat saya ini ini dikenal “jago” dalam bidak eksakta, matematika, fisika, dan kimia. Namun di tengah-tengah kuliahnya di UPI, saya dengar beliau sangat fokus kajian keagamaan dan filsafat. Entah karena sudah bosan dgn ilmu-ilmu eksakta yang selalu bergelut dengan angka-angka dan mencari kepastian-kepastian. Padahal hidup ini banyak ketidakpastiannya. Dan ketidakpastian itu merupakan aspek yang menarik dalam kehidupan ini. Karena dalam ketidakpastian semua kemungkinan dan peluang bagi siapa saja yang berjuang bisa berhasil meraihnya. Mungkin itulah yang membuat sahabat saya ini mengubah haluan dari menjadi seorang “jago” eksakta menjadi seseorang yang berminat akan keagamaan alias “kiai”. He…upps.

Maka tidak heran sewaktu kuliahnya, kiai Bedus – begitu ia suka dipanggil – rajin menulis tentang sosial keagamaan di media massa. Beberapa tulisannya saya temukan di koran Republika. Bahkan semenjak kulaih di S1 di UPI, ia menerbitkan novel filsafatnya yang berjudul TAPAK SABDA dan SEMESTA SABDA di penerbit LKiS Yogyakarta. Kemudian ia melanjutkan S2-nya dalam kajian Studi Agama-Agama UIN Bandung.

Tak bertemu hampir setahun setengah setelah acara REUNI AKBAR MAN SUKAMANAH, minggu lalu secara mengejutkan kiai menghubungi saya melalui whatsap bahwa ia sedang di Fakultas Adab UIN Bandung. Ternyata ia bermaksud konsultasi disertasinya kepada Promotornya. Tema disertasi yg beliau ambil tentang “Dinamika Jama’ah Nahdhiyyin di Tasikmalaya pada masa Revolusi”. Tema yg cukup menarik. Mudah-mudahan cepat selesai. Amin… Di akhir pertemuan itu ia memberikan karya terbarunya novel Syahadah Musthafa. Sebuah novel sejarah tentang perjuangan KHZ Musthafa Sukamanaha Tasikmalaya. Pahlawan Nasional. Kiai Besar yang nama yayasan yang menaungi pondok kami Sukamanah-Sukahideng. Nama KHZ Musthafa juga dijadikan nama jalan utama di pusat kota Tasikmalaya.

Perjuangan KHZ Musthafa melawan penjajah jepang -seingat saya- hampir menjadi cerita lisan yang mutawatir terutama di kalangan kiai dan pondok pesantren di Tasikmalaya. Kisah perjuangan KHZ Musthafa itu sudah saya dengar dari cerita guru-guru ngaji waktu SD sebelum mondok di Sukahideng. Namun kisah perjuangan secara tertulisnya dalam bentuk buku, baru sy baca tahun 2000-an dari sejumlah buku di antara buku Ulama-Ulama Oposan karya Subhan SD (Pustaka Pelajar: 2000).

Kali ini saya diberikan hadiah dari sahabat lama saya Kiai Bedus, tentang perjuang KHZ Musthafa dalam bentuk novel, yang berjudul Syahadah Musthafa. Cerita buku ini membangkitkan kembali memori saya akan cerita guru-guru saya waktu SD dan orang-orang tua warga kampung Bageur tentang perjuangan KHZ Musthafa waktu mondok di Ponpes Sukahideng.

Saya sangat tertarik pada judul novelnya, Syahadah Musthafa. Ternyata novel tersebut ditutup dengan kalimat yang sangat bagus. “Falah menamai pesantrennya yang dibangunnya dengan Syahadah Musthafa”. Kalimat penutup yang sangat indah. Kiai Bedus menempatkan frase Syahadah Musthafa di awal sebagai judul dan di di kalimat terakhir cerita. Dari perspektif semiotika Pierce, judul itu merupakan “indeksial” (penunjukan) pada sesuatu yang di dalam cerita. Namun yang menariknya lagi – setelah membaca ceritanya – kita akan menemukan penunjukan pada aspek lain, tidak hanya nama sebuah pesantren yg didirikan tokoh Falah. Frase Syahadah Musthafa juga menunjuk pada aspek lain, yaitu perjuangan KHZ Musthafa yaitu perjuangan di bidang pendidikan dengan membangun pesantren dan ngawuruk santri-santrinya, dan perjuangan KHZ Mushtafa dalam jihad fisik melawan penjajah jepang yang akan mengancurkan negara dan agama (Islam). Dalam jihad fisik inilah KHZ Musthafa menemui kesyahidannya sebagai pejuang agama dan tanah air.

Dari sana saya menemukan dua jenis perjuangan KHZ Musthafa yaitu jihad fisik, yaitu perang melawan penjajah jepang, dan jihad spirit (ruhani) yaitu mengajar ngaji (ngawuruk ngaji). Dalam perspektif Nabi saw, KHZ Musthafa telah melakukan “jihad asghar” dengan mengusir penjajah jepang, dan juga “jihad akbar” yaitu jihad nafs, dengan pendidikan dan pengajaran (ngawuruk). Dengan mengajar ngaji berarti seorang Kiai telah mengusir “kebodohan” dari para santrinya. Dengan ilmu seseorang akan mendapatkan cahaya untuk melawan hawa nafsu yang buruk dan mengembangkan nafsu yang baik.

Bagi tokoh Falah, frase Syahadah Musthafa memiliki dua pengertian. Pertama, dalam konteks Falah sebagai tokoh santri KHZ Musthafa yang menyaksikan langsung perjuangan Sang Guru, maka frase Syahadah Musthafa dimaknai sebagai kesaksian langsung sang santri terhadap perjuangan kiainya. Kedua, frase Syahadah Musthafa dimaknai “ijazah” seorang santri dari gurunya, KHZ Musthafa untuk melanjutkan jihad akbar sang Pahlawan dengan membangun pondok pesantren di kampung halamannya. Ijazah seorang kiai kepada santrinya didasari atas kompetensi dan kualifikasi keilmuannya dlm bidang agama untuk naik “maqam” menjadi seorang kiai. Syahadah KHZ Musthafa telah menaikan maqamnya dari seorang “thalib” (sang pencari) menjadi seorang “mathlub” (yang dicari). Karena kata syahadah dalam bahasa Arab hari ini merupakan padanan kata ijazah pendidikan. Dengan demikian ia sudah sah disebut kiai dan layak memiliki pesantren.

Sebagai tambahan dari saya. Secara faktual, hasil perjuangan KHZ Musthafa dalam bidang pendidikan, telah melahirkan para intelektual terkemuka, baik di bidang umum maupun agama yang telah berkiprah di negeri ini. Sejumlah tokoh agama (ulama) hasil didikan KHZ Mustafa telah dikisahkan dalam novel kiai Bedus terebut seperti KH Ma’mun Barizi (Ponpes Mathlaul Anwar), KH Ahmad Faqih Mubarak (Ponpes Miftahul Huda), dan KH Adang Wahab (KH Wahab Muhsin) guru kami di Ponpes Sukahideng.

Di luar tokoh-tokoh yang dikisahkan dalam novel tersebut, terdapat sejumlah intelektual (alim-ulama) yang merupakan hasil dari pendidikan pesantren KHZ Mushthafa di antaranya:

  1. Khoer Affandi, Pendiri Ponpes Miftahul Huda, Manonjaya Tasikmalaya (kake dari KH Uu Ruzhanul Ulum, wagub Jabar sekakang)
  2. Moch. Anwar, Pendiri Ponpes Miftahul Ulum, Subang
  3. Hambali Ahmad, Pesantren Muhammadiyah Tegallega Bandung
  4. KH E.Z. Muttaqien yang diceritaka sekilas dalam novel adalah seorang ulama, tokoh Islam jabar yang pernah menjadi ketua MUI jabar juga MUI Pusat, perintis UNISBA sekaligus rektor UNISBA, dan pernah menjabat anggota DPR RI dari Masyumi
  5. Prof Furqon, PhD (rektor UPI 2015-2020)

Para inteletual di atas merupakan syahid (saksi) atas perjuangan KHZ Musthafa dalam perjuangannya di bidang pendidikan.

Oleh karena itu saya merekomendasikan novel Syahadah Musthafa ini bagi para pegiat sejarah, para dosen dan mahasiswa Sejarah Islam, karena merupakan novel yang sarat dengan nilai-nilai perjuangan seorang pahlawan nasional yang `didasarkan fakta-fakta sejarah perjuangannya. Novel ini sangat direkomendasikan bagi para pembaca sastra termasuk mahasiswa sastra, karena novel ini adalah cerita fiksi yang didasarkan pada fakta-fakta sejarah.

Novel ini juga sangat direkomendasikan bagi para santri dan kiai untuk karena sarat nilai perjuangan di bidang pendidikan kepesantrenan yang patut ditauladani oleh para santri dan kiai yang sedang berjuang membangun pendidikan di pesantren.

Di antara kelebihan novel ini adalah jalinan tokoh fiktif dan faktual, juga peristiwa-peristiwa sejarah terjalin secara apik. Sehingga jika membacanya sebagai buku sejarah, kita tidak akan cepat jenuh dan lelah. Namun juga jika membacanya sebagai novel (karya fiksi), kita tidak akan sia-sia terkuras emosi dan air mata oleh kisah-kisah perjuangan sang Pahlawan, karena semua peristiwa perjuangannya itu adalah fakta.

Novel ini ditulis dengan bahasa yang sangat emosional (penuh perasaan) dan greget akan perjuangana KHZ Musthafa. Dengan kalimat-kalimat sakti yg bertebaran di sana sini sebagai pemantik semangat jihad para pembaca, penulis berharap semua pembaca bisa meneladani nilai-nilai kepahlawanan sang manusia terpilih yang telah menemui kesyahidannya.

Selamat membaca….!!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *