Neraka

Naraka

Oleh Fauz Noor

Membaca neraka ternyata tak selamanya menyeramkan. Disana bisa kita rasakankan juga keindahan. Tak percaya? Pembaca bisa rileks sebentar, dan mengingat satu puisi karya Dante Aleghari yang terkenal itu, The Divine Comedy. Puisi itu punya tiga bagian: inferno, purgatorio dan paradiso. Kita pun tahu, dari tiga bagian itu sejarah lebih suka karya inferno, manusia lebih suka neraka, karena keindahan bahasa dan lukisan imajinasi Dante tentang inferno begitu indah dan sangat kuat akan moral.

Manusia suka akan inferno, karena disini neraka digambarkan dengan karya seni, dan bukan dengan cerita horor apalagi khotbah. Kita sering merasa, ketika “neraka” dikhotbahkan di mimbar suci, sama sekali kita tak menangkap ada keindahan disana. Menyeramkan dan mengerikan. Beda ketika inferno kita baca, jiwa kita tergetar oleh “keindahannya”. Keindahan itu terletak pada suara moral yang menyelinap ke palung jiwa. “Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral,” tulis Dante. Neraka adalah siksaan, semua orang sudah tahu. Tapi neraka adalah ketidakpedulian, adalah kelembekan jiwa, adalah diam sementara kemungkaran di depan mata, adalah betah dalam keserakahan, adalah kesombongan, adalah ketidakadilan sosial-ekonomi, ini yang sering manusia lupa.

Dante melukiskan neraka dengan kalimat pembuka: Midway upon the journey of our life. I found my self within forest dark. For the straight forward. Ah Me! How hard a thing it is to say. What was this forest savage, rough and stren. Wich in the very thought renews the fear. (Di tengah perjalanan hidup. Kudapati diriku di dalam hutan gelap, karena jalan lurus itu telah hilang. O, betapa sulitnya untuk dikatakan. Apa yang terjadi di hutan yang ganas dan keras ini. Yang sangat memberi ketakutan pada pikiranku ini). Inilah gambaran pertama neraka, orang yang sudah kehilangan jalan lurus, dan tak tahu apa yang terjadi. Ia sadar tapi tak bisa menggambarkan apa yang sedang terjadi, yang ia bisa hanya ketakutan. Itu sebabnya tempat paling dalam di neraka, kembali saya tulis, “Dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral.”

Dalam al-Quran, tempat paling dalam di neraka, darq al-aspal, diuntukkan bagi munafiqin. Dan tanda munafiq, idza hadatsa kadaba. Menurut kamus, hadsata adalah bicara sikap. Artinya, apabila bersikap bohong, apa yang dilakukan berbeda dengan apa yang kuat di hati. Gambaran tentang ini ada dua: Pertama, tahu bahwa sesuatu itu salah tapi masih tetap dilakukan. Kedua, tahu bahwa hal itu salah tapi masih tetap netral dan diam.

Kita buat pemisalan. Ada kemungkaran di perhelatan MTQ. Hadits Nabi Suci mengajarkan robahlah dengan tangan, lisan dan hati, dan yang ketiga adalah selemahnya iman. Masalahnya adalah, kita mengingkari dengan hati tapi kita pun masuk ke sistem itu setelah kita berjuang dengan tangan dan lisan. Dalam lukisan Dante, mereka tak berada di dasar terdalam neraka. Dante menghargai sebuah sikap. Mereka telah bersikap, sekalipun dalam posisi yang selemahnya iman. Adapun apa yang dihati mereka, akan menjadi neraka karena jelas-jelas ada kemungkaran disana. Dan kita tak bisa berharap banyak kepada mereka, kecuali mereka bisa keluar dahulu dari neraka yang mengurungnya, pintu kebenaran pun terbuka dan sangat terbuka. Jangan lupa, menuju kebenaran itu banyaklah jalannya, walau pun mungkin teramat sempit.

Neraka bagi Dante adalah pengingkaran suara moral. Dalam al-Quran kita membaca, ma kadzaba al-fuad ma ra’a. Sungguh tidak akan bisa berbohong hati manusia akan apa yang dilihatnya. Hati selamanya tak bisa bohong dan dibohongi. Maka hati yang berani berbohong, adalah sebuah pengingkaran, adalah neraka yang nyata. Di MTQ sudah rahasia umum ada penghinaan akan al-Quran, sudah mafhum semua. Bahkan para panitia mengakui itu. Karena kekuatan politik yang kuat, al-Quran pun jadi ajang “maenan”. Dan dari tahun ke tahun kita terus saja diam dan asyik disana, maka jelas ada api yang membara disana, ada neraka disana.

Di akhir puisinya, Dante menyeru, O you possesed of sturdy intellect… (Wahai kalian yang berotak gemilang…). Dente menyeru kepada mereka yang mau memakai benaknya untuk bisa dengan jelas melihat dan merasaka neraka. “Dia tidak jauh, tp sangat dengat,” demikian ujar Dante. Kita berharap, dalam satuan detik di hidup kita, kita bisa menghindar dari neraka. Amin. [ ]

Koran Radar Tasikmalaya, 9 April 2016 (MARGINALIA 1)

One thought on “Neraka

Tinggalkan Balasan ke R Diany Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: