Meraih Kesucian Kembali

(Khutbah ‘Idul Fihtri 2019)

oleh Fauz Noor

 

Idul Fithri datang lagi. Idul Fithri datang kembali. Idul Fithri menghampiri usia kita lagi. Setiap tahun kita selalu “idul fihtri”, bahkan sebanyak usia kita saat ini. Hanya saja, mari renungkan sejenak, apakah benar setiap tahun kita “idul fihtri”? Kita suci kembali? Kita menjadi insan-insan yang dosanya selalu dan sudah diampuni. Atau jangan-jangan idul fithri kita hanya semu belaka? Mereka yang “kembali suci” adalah mereka yang ibadah puasanya diterima Allahu Ta’ala. Apakah benar puasa kita diterima?

Wahai Allah, Wahai Dzat Yang Maha Suci. Ya Rahman Ya Rahim Ya Qudus Ya Salam. Pada Idul Fithri kali ini, di rumah-Mu yang suci ini, kembali kami bersimpuh dihadapan-Mu dengan gemuruh sejuta tekad dalam dada. Kami ingin benar-benar Idul Fihtri, kami benar-benar ingin suci kembali. Kami telah berjuang semampu dan sebisa kami, kami telah puasa walau kami sadar masih banyak lalai dari dosa, kami telah solat walau masih ada taweh kami yang bolong-bolong, kami telah mengkhatamkan al-Quran walau dalam membacanya masih dipenuhi salah tajwid dan makhraj hurufnya, kami telah sodaqoh walau bukan dari harta terbaik kami. Kami telah berusaha ya Rahman ya Rahim, kami telah berpuasa.

Tergetar hati kami ketika melaui lisan Nabi Muhammad Saw. yang suci, Engkau telah berjanji:

(teks Hadits)

Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadan dengan landasan iman dan ihtisab, maka mereka akan suci kembali, mereka akan idul fithri, mereka akan diampuni dosa per dosanya. Wahai Allah, apakah kami termasuk diantara mereka yang diampuni dosa-dosanya setelah kami berpuasa? Wahai Allah, apakah benar kami suci kembali?

Alahkah ingin alangkah rindunya kami semua ya Allah, ingin sekali semua dosa kami diampuni. Pagi ini di hari Idul Fithri, air mata kami berderai Ya Allah, air mata kami mendesak ingin keluar, kecamuk dalam dada kami penuh tanda tanya: apakah benar puasa kami diterima sehingga dosa-dosa kami telah Engkau ampuni? Apakah benar kami sudah suci kembali? Apakah benar kami ber-Idul Fithri?

Ya Rabbal ‘Alamin, hati kami cemas saat ini, hati kami gundah-gulana di hari fithri ini. Terimalah ibadah puasa kami dengan Rahman Rahim-Mu, ya Rabb. Puasa kami tidaklah baik, tapi kami telah berusaha semampu kami. Shalat kami jelek, tapi kami telah berjuang dalam batas kemampuan kami. Ya Mujibas-Saa’ilin, Wahai Dzat yang suka menjawab semua permintaan, taqabbal minna ya Allah, taqabbal minnâ , taqabbal minnâ.

Ya Rabbal ‘alamiin, jangan jadikan Ramadhan kali ini adalah ramadhan kami yang terakhir. Dan jika Kau menjadikan Ramadhan yang baru saja pergi sebagai ramadhan terakhir dalam hidup kami, maka jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang Kau rahmati, jadikan kami sebagai hamba-Mu yang Kau sayangi. Terimalah semua amal kami, ya Allah, terimalah. Dan ampunilah segala khilaf dan dosa kami.

(takbir tahmid tahlil)

Hadirin sidang Idul Fithri yang dimuliakan Allah…

Jika pagi ini kita diberi kemampuan oleh Allah untuk bisa melihat kejadian pada tahun ke-8 Hijriah, tepatnya selepas peperangan Hunain, selepas Idul Fithri. Terlihat kala itu wajah Rasulullah berseri-seri. Beliau membagikan shodaqoh dan ghanimah (rampasan perang). Ribuan orang penerima wajahnya berbinar-binar. Mereka bahagia. Sampai seseorang yang dahulunya Musyrik lalu memasuk Islam, Shafwan Ibn Umayyah, berkata, “Rasul telah memberika sodaqoh, ia terus memberiku. Padahal dahulu ia adalah orang paling sangat aku benci, sangat aku musuhi, tapi Rasul terus dan terus memberiku, sampai beliau menjadi orang sangat aku cintai.”

Ketika perang Hunain, Rasulullah membagikan semua harta kepada orang-orang yang dahulunya memerangi Islam. Semua ghanimah ia berikan kepada mu’alafah qulubuhum, orang-orang yang baru memeluk Islam. Begitulah Rasulullah, alirkan kasih kepada para musuh Allah sampai mereka luluh dalam pangkuan Islam.

Hanya sayang kala itu sebahagian sahabat Ansor yang ikut berperang berkecil hati. Di belakang Rasulullah Saw. mereka berkata bersama sesama mereka, “Bagaimana mungkin Rasulullah memberikan semua rampasan perang hanya kepada Quraisy saja, sementara pedang-pedang kita masih berlumuran darah dan keringat kita masih belum kering.”

Perkataan sebahagian orang Ansor Madinah itu sampai ke telinga Rasulullah. Terbayang kiranya, bagaimana kecamuk dalam dada Rasulullah, mendengar ujaran sahabat Ansor ini. Lalu, beliau mengumpulkan para sahabat Ansor. Di hadapan wajah-wajah lelah selepas perang Hunain yang rongkah, tatapan Rasulullah menyapu semua sahabatnya yang setia. Dengan suara tergetar, Rasulullah bersabda dalam hadits yang cukup panjang. Salah satu sabda paduka Rasul kala itu,

(teks hadits)

“Wahai kaum Anshar… Apakah kalian tidak rido terhadap orang yang kembali dengan kambing-kambing dan unta-unta, sementara kalian kembali bersama Rasulullah ke tempat kalian? Wahai sahabat Ansor, apakah kalian berjuang untuk harta ataukan untuk Allah dan Rasul-Nya? Apakah kalian berjuang untuk menumpuk-numpuk harta ataukah untuk keagungan Islam? Ya Allah, sayangilah kaum Anshar juga anak-anak dan cucu-cucu mereka.”

Mendengar sabda Rasulullah ini, para sahabat Ansor bercucurkan air mata. Mereka seperti baru tersadar, bahwa perjuangan semestinya hanyalah mutlak untuk Islam, mutlak untuk umat, mutlak untuk kebersamaan, dan bukan untuk harta dan jabatan. Sahabat Ansor pun berkata, “Kami rido ya Rasul. Cukupkan bagi kami Allah dan Rasul-Nya.”

Subhanallah. Subhanallah. Subhanallah. Sahabat Ansor yang jelas-jelas berjuang untuk Islam, mereka berperang sampai nafas tersenggal, sampai nyawa pun mereka siap korbankan, dan ketika menang mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka tak mendapatkan emas, perak, unta, sapi, kambing. Mereka hanya cukup dengan Allah dan Rasul-Nya.

Hadirin sidang Idul Fithri, sudah seperti sahabat ansor kah kita semua? Kemarin kita sudah melaksanakan pemilihan umum, pilpres dan pileg kita laksanakan serentak. Kita pun berjuang disana sesuai dengan pilihan kita masing-masing. Tapi, apakah benar perjuangan kita adalah untuk Islam? Apakah benar keringat dan harta yang kita keluarkan dalam kampanye adalah untuk kemuliaan Islam? Jangan-jangan yang kita perjuangan adalah hal-hal remeh temeh seperti uang dan jabatan. Jangan-jangan yang kita perjuangkan adalah ego sendiri, nafsu sendiri, kepentingan sendiri.

Malangnya selepas pemilihan umum selesai, ada yang menang ada yang kalah. Yang menang malah jumawa bertingkah. Yang kalah bersikap nyinyir. Kita saling serang. Kita saling bully. Kita saling tikam dengan kata-kata kotor di media sosial.

Ya Rasulallah, sungguh jauh kami dari mental para sahabat Ansor. Bagaimana bisa kami mampu  berkata “cukuplah Allah dan Rasul-Nya”, sementara untuk menjaga ukhuwwah islamiyyah yang paduka wanti-wantikan saja kami tak bisa. Bagaimana bisa kami berkata “cukuplah Allah dan Rasul-Nya” sementara kala menang kami sombong dan kala kalah kami marah. Ya Rasulullah, bantulah kamu untuk bisa meneguhkan kembali persatuan Indonesia, menguatkan kembali persaudaraan Islam, saling rangkul saling peluk saling kasih antara kawan dan lawan  sebagaimana yang selalu paduka ajarkan. Ya Rasul, remukkan kesombongan dalam jiwa kami, hanguskan kedengkian dalam hati kami. Ya Rasul, bantulah kami untuk menguatkan kembali jati-diri kami sebagai satu bangsa, bantulah kami untuk bisa kembali saling gandengan tangan menuju kemulian Islam.

Momentum Idul Fithri sekarang ini, mari kita hilangkah dengki, iri hati, bangga diri. Kalah dan menang, suka dan duka, adalah romantika hidup di alam dunia. Tak akan selamanya kita menang, tak selalu kita penuh suka. Suatu saat adakalah kalah menyapa, duka pun tak bisa bisa kita paksa. Momentum Idul Fithri seharusnya meneguhkan kita sebagai manusia. Dengan segala kelebihan dan keterbatasan kita masing-masing, kewajiban kita adalah saling meneguhkan, salih menguatkan, saling memahami, saling menghormati, atas sesama manusia, atas sesama warga negara. Mari kita saling berbalas kunjungan, dan sudah tentu saling memaafkan.

(teks takbir tahlil tahmid)

Di negara kita, Indonesia, setiap momen lebaran selalu menyimpan kerinduan tiada tara, kepada kedua orang tua. Saudara-saudara kita yang di rantau pun berdatang ke kampung halaman. Demi untuk merayakan Lebaran bersama kedua orang tua, bersama keluarga, bersama sahabat-sahabat sekampung. Tiada tradisi seperti ini selain di Indonesia. Lebaran dijadikan momentum untuk menyambungkan kembali pertemuan yang langka, meneguhkan kembali persadaraan yang rapuh, menyambungkan kembali tali silaturrahim.

Demi Allah, berbahagialah mereka yang kala Lebaran tiba masih punya kedua orang tua. Mereka bisa mendatangi kedua orang tua. Memohon ampun atas segala kilaf dan dosa. Mereka bisa mencium tangan ibunda dan bapanda mereka, mereka bisa menangis dipangkuannya, sambil tangan ibu dan bapak mereka mengelus-elus kepala mereka, doa-doa kebahagiaan pun mengalis bagai semilir angin yang suci.

Sungguh, jangan sia-siakan ibunda dan bapanda kita. Pandangi wajah mereka yang mulai mengkerut, uban mereka yang mulai penuh, tubuh mereka yang mulai renta, nafas mereka bedua yang kerap tersenggal demi kita, penyakit yang mulai menjangkiti mereka. Kasih mereka yang putih, adalah untuk anak-anaknya. Tenaga mereka penuh cinta adalah untuk anak-anaknya. Pikiran mereka adalah untuk anak-anaknya. Jangan sia-siakan mereka, sebelum maut menjemput kedua orang tua kita. Kala maut sudah menjemput mereka, segunung penyesalan hanya bisa menatap pusaranya yang sunyi.

(takbir tahlil tahmid)

Seperti kita yang kala Lebaran kali ini, orang tua kita sudah pergi, maut sudah menjemput. Dan kala ini, di Rumah Allah ini, di hadapan Rabbul Ijjati, terbayang di pelupuk mata kedua orang tua kita yang telah tiada. Wajah mereka jelas di pelupuk mata ini, senyum mereka, tatapan mereka, laku mereka, kasih sayang mereka. Dalam hati kami berkata, “Bapak ibu, ampuni anakmu ini, ampuni anakmu yang sepanjang hidup bapak dan ibu, kami tidak bisa bisa berterimakasih.”

Ya Allah, Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahiim. Pagi ini, di hari nan fithri ini, kecemasan menikam jantung kami, bagaimana nasib ibunda dan bapanda di sana saat ini? Saat hamba berpakain bagus dan bersimpuh di mesjid-Mu ini ya Allah. Saat tubuh kami begitu wangi. Saat kami tertunduk ingat jasa kedua orang kami yang telah tiada. Air mata pun tak kuat untuk kami tahan. Rasa penyesalan menjelma menjadi duka yang sangat menyiksa dalam dada. Ya Allah, sengsara atau bahagiakah kedua orang tua hamba di alam kuburnya? Terang ataukah gelapkah alam kubur mereka rasakan? Berada dalam siksa-Mu atau kasih-Mu? Ingin rasanya hamba menjerit sekeras-kerasnya, menjerit sekeras-kerasnya. Bagaimana nasib ibunda dan bapanda saat ini?

Ya Allah, liang lahat itu sempit dan sangat sempit, liang lahat itu pengap dan sangat gelap. Dengan Kehendak-Mu yang Agung, luaskan liang lahat kedua orang tua kami. Dengan cahaya-Mu yang sanggup menerangi segala, terangi quburan mereka ya Allah, limpakan kenikmatan qubur kepada mereka ya Allah. Engkaulah ya Allah Dzat Yang Maha Pengampun, ampuni segala dosa kedua orang tua hamba, ampuni segala nista orang tua hamba, ampuni segala nestapa kedua orang tua hamba. Luaskan alam quburnya, mudahkan hisabannya, masukanlah mereka ke surga-Mu nan mulia, jauhkan mereka dari siksa nerak-Mu. Jauhkan mereka dari api neraka-Mu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *