Mendirikan Rumah Ibadah

29 Views

Oleh Fauz Noor

Dalam satu pengajian, saya mengurai sedikit bahwa sejauh pembacaan saya, tak pernah saya menemukan keterangan atau fatwa ulama yang melarang saudara kita non-muslim untuk membangun rumah ibadah mereka. Saya malah menemukan beberapa keterangan bagaimana Islam dan/atau Nabi Saw. yang begitu toleran. Sedikit saja, “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”, bisa bermakna “bagimu adalah hak agamamu, dan bagiku adalah hak agamaku”. Artinya, hak satu agama sangat dihormati dalam Islam, dan mendirikan Rumah Ibadah adalah hak semua agama.

Nampaknya, karena ilmu agama saya yang masih cetek, barangkali karena disampaikan dengan tidak beretika (saya mohon maaf jika demikian), membuat seorang Kiai yang sangat saya hormati tidak/kurang setuju dengan penjelasan saya kala itu. Ia sampai berkata, “Menyetujui agama lain untuk mendirikan rumah ibadah, di masa depan bisa menggangu atau merusak aqidah umat. Kita harus menjaga aqidah umat, bukan hanya umat yang sekarang tetapi generasi kita mendatang.”

Mungkin beliau pun sama dengan saya, tak menemukan keterangan dalam literatur Islam, yang mesti melarang agama orang lain untuk mendirikan rumah ibadah. Itu sebabnya, yang ia utarakan sebagai argumen adalah “menjaga aqidah umat, bukan hanya umat yang sekarang tetapi generasi kita mendatang juga”. Jadi yang kita bicarakan adalah aqidah umat, terutama di masa depan. Yang kita bicarakan adalah fiqih masa depan.

Bicara tentang masa depan adalah pembicaraan yang sukar. Apakah kita tak khawatir kalau generasi kita menjadi tak beriman di kemudian hari? Tentu saja semua kita menjawab, kita menginginkan generasi kita bisa mewarisi aqidah ahlussunnah wal jama’ah dengan kuat. Masalahnya sekarang adalah “apakah kekhawatiran kita tentang masa depan, lantas kita menjadi boleh melukai hak saudara kita non-muslim untuk mendirikan rumah ibadah?”

Masa depan adalah hak-Nya, dan hak-Nya juga telah berkata untuk jangan melukai hak sesama manusia (apapun agamanya). Insya Allah dengan menunaikan hak-Nya dengan tidak melukai hak sesama manusia, kita akan hidup dalam keberkahan-Nya. Dan keberkahan adalah misteri, sebagaimana misterinya masa depan.

Wallahu a’lam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *