Manusia Beradab, Manusia Pancasila

Fauz Noor

 

Konsepsi manusia dalam pancasila terutama terbaca pada sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tentu saja maknanya bukan menapikan sila-sila selain sila kedua, karena kita tahu bahwa lima sila dalam pancasila sifatnya saling berhubungan dan membentuk satu kesatuan yang utuh.

Dalam diskusi pancasila biasanya suka keluar celotehan bahwa jika ada “kemanusiaan yang adil dan beradab” maka akan ada “kemanusiaan yang tak adil dan tak beradab”. Padahal kita mafhum bahwa kemanusiaan itu selalu positif. Jika ada tindakan diskriminasi terhadap kelompok minoritas, misalkan kepada Jemaat Ahmadiah, maka itu bukan disebut kemanusiaan yang tak adil melainkan sesuatu yang tidak berkemanusiaan. Jika ada tindakan persekusi kepada saudara sebangsa, maka itu bukan kemanusiaan yang tidak beradab melainkan tindakan yang tidak berkemanusiaan.

Hemat saya, kalimat “yang adil” dalam sila kedua, bukanlah untuk menjelaskan kemanusiaan secara subtantif, melainkan untuk meneguhkan kemanusiaan yang seharusnya menjadi dasar bernegara. Kemanusiaan yang adil adalah kemanusiaan yang taat akan hukum, kemanusiaan yang sadar akan konstitusi. Para pendiri bangsa menyadari bahwa jika tak dibatasi oleh “yang adil” maka tafsir kemanusiaan bisa melebar dan tiap-tiap kelompok akan mempunyai tafsir subjektifismenya masing-masing. Para pendiri bangsa pun menyertakan “beradab” karena diatas hukum seharusnya ada adab. Kemanusiaan yang diperjuangkan bukan sekedar kemanusiaan yang sadar akan konstitusi melainkan juga dilakukan dengan keadaban.

‘Adab, bahasa Arab yang sudah menjadi bahasa nasional, dalam filsafat Islam dipahami sebagai suatu konsep mental dan tindakan yang melampaui hukum. Ukuran “adab” bukan benar-salah, melainkan “pantas atau tidak pantas”. Dan karena pancasila mempunyai dua dimensi: vertikal dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa (hablumminallah); dan horizontal dengan kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan sosial (hablumminannas); maka adab dalam pancasila pun dibangun dalam dua dimensi tersebut.

Sebagai seorang muslim, adab kepada atau di depan Tuhan bisa dibaca bagaimana para nabi dalam memunazatkan doa kepada-Nya. Ketika Nabi Ayub ditimpa kesengsaraan dan penyakit, ia berdoa, “Tuhanku sesungguhnya penderitaan telah menimpaku padahal Engkau Yang Maha Pengasih dari semua yang mengasihi.” (Q. S. 21: 83). Nabi Ayub tidak berkata, “Tuhanku Engkau timpakan kepadaku penderitaan, maka kasihanilah aku.” Ia tak berani memerintah Tuhan. Ia hanya berani menyampaikan appeal kepada sifat Rahman dan Rahim-Nya. Nabi Ibrahim berkata, “Jika aku sakit, Tuhan menyembuhkanku.” (Q.S. 26:80). Nabi Ibrahim tidak berkata, “Jika Tuhan membuatku sakit.” Begitu pula ketika Adam dan Hawa berdoa, “Tuhan Kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi.” (Q.S. 7:23). Sebaliknya Iblis berkata tanpa adab sama sekali, “Sebagaimana Engkau telah menyesatkan kami, aku akan memalingkan mereka dari jalan yang lurus.” (Q.S. 7:16)

Iblis tidak malu. Ia menisbahkan kesesatannya kepada Tuhan. Dan dari sikap biadab kepada Tuhan, lahirlah pikiran dan tidakan yang tidak beradab juga. Aqidah jabariyah yang menisbahkan kepada Tuhan perbuatan buruk manusia bermula dari pikiran tak beradab seperti ini. Maka tak aneh dalam sejarah Islam kalau aqidah jabariyah dikembangkan oleh para penguasa zalim.

Tanpa kita sadari sering pemikiran kita lahir dari sikap tidak hormat kepada Tuhan, tidak beradab kepada-Nya. Prilaku kita sehari-hari pun menjadi tak beradab. Ketika Tuhan kita bawa kedalam kontestasi politik, sebutan “partai Tuhan” dan “partai Setan”, begitu mudah dilontarkan tokoh-tokoh politik, ini sangat tidak beradab di depan Tuhan. Prilaku “kami yang dirodhoi Tuhan dan selain/lawan kami adalah teman setan” adalah prilaku politisi busuk pada masa Bani Ummayah dahulu. Yazid ibn Muawiyah mengumumkan bahwa harta selama pemerintahannya adalah harta Tuhan dan bukan harta kaum Muslim, itu sebabnya ia menggunakan harta kaum Muslim untuk kepentingan dirinya sendiri.

Dan dalam sejarah Indonesia hanya pada masa sekarang ini sebutan-sebutan “tak-beradab” seperti itu gaduh di ruang publik. Masyarakat pun seperti terbawa oleh aktor-aktor politik yang lupa, mereka tertulari penyakit ketakadaban, sebutan “cebong” atau “kampret” merajalela di dunia maya.  Malangnya sebutan-sebutan seperti itu dilontarkan pula oleh para intelektual bangsa.

Cita-cita pancasila adalah kemanusiaan yang beradab. Adalah manusia Indonesia yang beradab. Manusia beradab adalah mereka yang membangun keadaban semenjak dalam pikiran. Manusia beradab adalah manusia yang mengedepankan sangka-baik, kepada Tuhan dan kepada sesama. Semua bencana atau krisis yang terjadi pada bangsa ini adalah sebab ulah anak-anak bangsa, adalah laku kita. Maka sungguh tak beradab juga, ketika kemarin saudara-saudara kita di Lombok tertimpa bencana oleh sebagian saudara kita “dihukumi” karena kepala daerahnya mendukung salah calon dalam perhelatan politik. Nastaghfirullah.

Banyak kasus-kasus ketakadaban yang telanjang di depan mata kita dewasa ini. Hal ini memilukan kita. Komedi dan tragedi sering kita saksikan menyatu di negri ini. Ketika 40 anggota DPRD menjadi tersangka korupsi, mereka melambaikan tangan sambil tersenyum. Ketika dingatkan bahwa Tuhan jangan dibawa-bawa “kampanye” mereka berakrobat dengan berjuta dalih dan dalil. Ketika dingatkan bahwa dolar sudah tembus di angka Rp.15.000,00 mereka malah berdalih bahwa ini bukan masalah. Sekali lagi, manusia pancasila adalah manusia beradab. Artinya ukurannya bukan benar-salah lagi, melainkan pantas atau tidak pantas. Dan sebagai jelata mari kita bersangka-baik, bahwa mereka sedang lupa. [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *