Lailatul Qadar

Oleh Fauz Noor

Banyak riwayat yang bisa kita baca tentang lailatul-qodar. Sebanyak itu pula hati kita dipenuhi kebersahajaan dan kerinduan. Seorang muslim yang mana yang tak berharap bertemu malam seribu bulan? Malam yang dilukiskan berbagai riwayat dipenuhi kemegahan tanda kebesaran Tuhan, malam dimana berbidah di dalamnya lebih utama ketimbang seribu bulan? Masya’ Allah. Masya’ Allah.

Yang pasti, kita shaum adalah “peringatan”. Para ulama berkata, jika saja al-Quran itu turun di bulan syawal niscaya kewajiban shaum pasti di bulan syawal. Kita tahu, al-Quran turun di bulan Ramadhan, maka di bulan inilah kita shaum. Kita shaum adalah ritual peringatan turunnya al-Quran. Dan turunnya al-Quran inilah momentum lailatul-qodar.

Uniknya, sejarah tak berhasil mencatat secara pasti kapan turunnya al-Quran. Tanggal berapa Ramadhankah al-Quran pertama kali turun? Bangsa kita menjawab, “Tanggal 17 Ramadhan.” Namun ini jawaban yang sangat rapuh. Konon, menurut Nurcholish Madjid, tanggal ini dipilih oleh KH. Agus Salim dengan merujuk Tafsir Ibn Katsir bahwa “malam penentuan” atau “hari penentuan” itu adalah malam sewaktu Perang Badar yang terjadi pada hari jumat tanggal 17 Ramadhan, dan Proklamasi Kemerdekaan RI dahulu adalah hari jumat tanggal 17 Agustus 1945. Jadi, populernya tanggal 17 Ramadhan sebagai tanggal turunnya al-Quran adalah satu tendensi demi mensakralkan angka 17. Sebab, toh hanya di bangsa kita saja ada peringatan Nuzulul-Quran dan diperingati setiap tanggal 17. Tapi, walau bagaimana, “Tradisi peringatan Nuzulul-Quran itu adalah baik, karena itu harus dipertahankan, sebab telah terbukti membawa hikmah yang amat banyak bagi kehidupan nasional kita,” demikian tulis Cak Nur (nama panggilan Nurcholish Madjid) di buku Dialog Ramadhan bersama Cak Nur.

Kemisteriusan tanggal turunnya al-Quran, sejalan dengan kemisteriusan lailatul-qodar. Ini artinya, Nabi Saw. ingin mengajarkan kepada umatnya untuk tidak berpikir harfiah. Benar bahwa lailatul-qodar pertama kali terjadi ketika turunnya al-Quran, tetapi bagi umat Nabi Muhammad Saw. lailatul-qodar adalah momen penentuan untuk perubahan. Seperti ketika pertama kali terjadi, lailatul-qodar melenyapkan gelapnya kebodohan (jahiliyyah) dengan wahyu-Nya – dalam segala perkara. Karena lailatul-qodar adalah malam penentuan untuk berubah menuju cahaya Ilahi, maka pribadi-pribadi muslim bisa mengalaminya secara berbeda. Artinya, lalailatu-qodar adalah satu peristiwa private, atau malam yang punya nilai mistik-spiritual yang teralami secara pribadi.

Itu sebabnya, lailatul-qodar dikisahkan oleh banyak ulama dengan segudang kemulian dan ketakjuban. Ingat! Ini cerita para ulama yang bisa jadi “mengalami”. Artinya, mereka adalah pribadi-pribadi yang sampai di level shalihin muttaqin. Mereka yang telah berhasil membersihkan hatinya dari segala pikuk dunia, dari segala penyakit hati, yang sudah dekat dan sangat dekat dengan Allahu Ta’ala. Tak heran cerita tentang lailatul-qadar di telinga kita pun seperti terdengar sebagai satu mitos.

Hemat saya, tak penting segala kemegahan yang diceritakan para ulama tentang lailatul-qodar. Yang penting adalah kita insan-insan yang tak kunjung jua berhasil membersihkan hati dari segala penyakit, adalah kita yang belum berhasil “mengalami” seperti para ulama. Yang penting adalah kita yang masih berjuang membersihkan diri dan tak kanjung juga berhasil. Inilah alasan kenapa kita sukar “merasa” dan “menyaksikan” keagungan malam 1000 bulan, karena hati masih penuh penyakit dan hidup masih asyik dengan akhlak yang sakit.

Yang penting adalah, di Ramadhan kali ini, kita terus mengisi malam dengan tafakur, dengan salat, dengan dzikir, dengan ibadah hanya kepada-Nya, untuk kemudian berhasil meneguhkan diri untuk “berubah” menuju kehidupan yang lebih baik. Jadi, bagi insan lemah seperti kita, apakah lailatul-qodar kita alami di Ramadhan kali ini, adalah dengan melihat kehidupan kita ke depan. Jika puasa kita kali ini benar-benar mengantarkan ini menjadi pribadi bertaqwa, sebagaimana tujuan diturunkannya puasa, maka kita telah mengalami lailatul-qodar, hanya saja kita tak “merasakannya” sebab hati kita yang penuh noda.

Yang jelas, Rasulullah Saw. telah memerintahkan kita untuk mencari lailatul-qodar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ini isyarat, supaya kita lebih benar-benar meneguhkan diri untuk berubah, benar-benar ingin meraih “pahala puasa”, benar-benar ingin menjadi pribadi bertaqwa. Dan Rasulullah Saw., mengisyaratkan di “hari-hari ganjil”, karena Allah adalah ganjil dan menyukai yang ganjil. Artinya, fokus ibadah adalah Sang Maha Esa semata.

Akhirnya, saya ingin menutup esai ini dengan doa, “Wahai Dzat Yang Rahman dan Rahim, anugerahkan kepada kami, insan-insan hina-dini ini, lailatul-qodar.” Lalu, mari kita panjatkan doa Rasulullah Saw. ketika kendak melepas Ramadhan pergi, “Ya Allah, terimahlah puasa kami di bulan ini dengan penuh rasa syukur. Jadikanlah puasa kami mendatangkan keridhaan-Mu, juga keridhaan para Rasul. Engkau kuatkan amal ibadah kami, demi hak junjunan kami Rasulullah Muhammad Saw. Segala puji bagi-Mu, wahai Tuhan semesta alam.” Amin [ ]

30 Juni 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *