Kultus

oleh: Fauz Noor

Selepas nabi tak ada lagi, para pemimpin sering menjadi sasaran kultus. Kita sejenak ingat pemimpin Korea Utara, Kim Il-sung. Dengarkan ujaran seorang guru di Korea Utara, “Tujuan pendidikan kami, ialah menyatakan rasa terima kasih rakyat, serta senantiasa setia, kepada Bapak Agung Kim Il-sung,” Bukan hanya itu, masyarakat Korea Utara pun mengagung-agungkan keluarga Sang Bapa Agung: kakek Kim, nenek Kim, bapak Kim, mendiang istri pertama Kim, dan kemudian anaknya yang dielu-elukan sebagai tokoh pejuang bangsa.

Tak mudah kita memahami, kenapa rakyat Korea sampai begitu. Namun, nampaknya bukan hanya orang Korea yang “memuja” pemimpinnya. Sejenak, kita ingat Stalin. Ingat juga Mao Zedong. Ingat juga Bung Karno.

Kalau Kim Il-Sung punya gelar Bapak Agung, Stalin punya setumpuk gelar. Jika kita membaca buku sejarah yang ditulis Anton Antonov, Ovseyenko, Josep Stalin punya 24 titel atau sebutan atau gelar. Ada sebutan, “Pemimpin Besar Rakyat Sovyet”, “Ahli Agung Dalam Hal Keputusan-Keputusan Revolusioner”, “Sang Pemberani”, “Cahaya Pembimbing Ilmu”, “Genuis Umat Manusia”, dan yang lainnya. Kita pun ingat sejenak, Bung Karno punya sebutan yang tak kalah mentereng, “Pemimpin Besar Revolusi”, “Penyambung Lidah Rakyat”, “Nakhoda Agung”, dan sederet yang lainnya.

Mao, setahu saya, tak punya sebutan sebanyak Stalin. Yang paling popoler dan paling wah, “Matahari Yang Tak Pernah Tenggelam”. Walau demikian, kultus kepada Mao memang tidak rendah. Siapa yang beruntung dapat menyalami Sang Matahari, akan dicari rekan-rekannya untuk disalami, agar mereka dapat, biar sedikit, merasakan bekas Sang Juru Kemudi Agung itu.  Ingat hal ini, seketika kita ingat Bung Karno. Kejadiannya di Cirebon. Sejumlah istri pejabat berebut berguling-guling di tempat tidur yang malam sebelumnya jadi peraduan Bung Karno.

Tak aneh sebenarnya. Sebab, seperti banyak orang yang kesemsem oleh artis. Atau, seorang gadis, pernah menyimpan beberapa helai rumput yang pernah diinjak oleh John Lennon. Seorang pemuda, menyimpan dengan bangga baju bekas konser Kaka Slank tanpa dicuci dahulu.

Artinya, memang ada pemujaan yang tulus, yang tak ada hubungannya dengan pengaruh kekuasaan yang besar. Manusia bisa dengan tolol merindukan Sang Pujaan atau Sang Kekasih, yakni pengejawantahan dari hal yang diidamkan. Dan ketika Tuhan disingkirkan dan kamus percakapan – seperti di Korea Utara – Sang Bapak dan Sang Kekasih pun hadir dalam sosok orang semacam Kim.

Beruntunglah masyarakat yang percaya bahwa Tuhan tak bisa digantikan, dan nabi tak ada lagi. Artinya, dengan keyakinan ini mereka bisa mengarungi samudra “analisa” secara leluasa. Ketika Tuhan tetap penting dan nabi sudah tak akan lahir kembali, maka doktrin dan kultus akan disoroti secara kritis. Bukankah Freud telah berbicara tentang libido? Bukankah Marx telah berteriak tentang adanya masyarakat yang bebas dari sejarah?

Yang menyedihkan adalah sekelompok orang yang serampangan menyematkan keagungan nabi. Mereka dengan dada terbusung mengutip sabda nabi, “Ulama adalah pewaris para Nabi”. Mungkin, mereka merasa memakai “baju” Nabi, dan umat akan senantiasa mengikuti. Mereka merasa punya umat, dan menjadi “simbol kultus”. Subhanallah.

Menjelang PILKADA, segerombolan berserban dan berjubah, lompat ke satu bakal calon, tak lama lompat lagi ke bakal calon yang lain. Abring-abringan. Media pun memburunya, dan jadi headline, “Para Ulama mencalonkan si A”. Mungkin, mereka merasa punya umat yang bisa disuruh dan pasti patuh. Umat pun menjadi tawaran politik. Subhanallah. Hebat benar. Padahal, mungkin para santri dan umatnya itu mencibir dari belakang, dan karena takut saja mereka tak berani teriak. Takut kuwalat, karena mereka “ulama”.

Sementara di pojok yang lain, para Kiai diam sepi dan khusuk mengajar santri. Mereka tak merasa sebagai “pewaris para Nabi”, karena sangat berat. Yang diwariskan Nabi itu adalah akhlak. Tiada yang lain. Mereka pun tak ingin “mendagangkan” umatnya, karena mereka merasa memikul tanggungjawab dunia-akhirat. Mereka menjaga muru’ah, dan umat sangat mencintai ulama yang wara’. Mereka tak ingin dielu-elukan seperti Kim Il-sung, Mao Zedong, Josep Stalin, Soekarno atau John Lennon. Sebab, superman hanyalah makhuk yang datang dari planet Kryton, dan itu khayalan semata. [ ]

25 Juli 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *