Kepala

Oleh Fauz Noor

Para calon PILKADA telah terbentuk. Di Kota kita, tiga pasangan calon sudah resmi mendaftar. Euforia massa tak terebendung. Para calon diarak ribuan pendukungnya. Semua meriah. Satu tontonan memukau. Media, baik cetak atau elektronik, tak lupa para pendukung, sibuk memotret momen yang mungkin bersejarah itu. Melihat kemeriahan itu, saya sangsi, apakah politik hanya sebuah kerinduan mendapatkan siapa pemimpin? “Siapa” mendahului “apa”.  

Di antara kita, obrolan pun mengalir, pikuk percakapan terjadi di ruang sunyi atau hingar, tentang tokoh yang dipasang, tentang “siapa” (dan bukan “apa”) yang akan menang. Sesuatu yang purba terjadi, sesuatu yang datang dari sebuah zaman ketika Raja dan Brahmana dianggap punya kemampuan agung, untuk membuat sebuah daerah menjadi panjang punjung, luas dan luhur, seperti ajaran filsafat Plato.

Plato punya teori, konon diilhami dari kerajaan Mesir kuno, tentang “filosof-raja”, pandhita ratu, memimpin rakyat. Saya tak tahu, seberapa banyak manusia dahulu membaca filsafat Plato, hanya saja berabad-abad lamanya jarak antara “raja” dan “Tuhan” sangat dekat, seakan-akan baginda benar-benar mendapat kearifan Dewata, dan manusia sampai menghamba. Sebutan untuk para Raja pun luar biasa: Paku Alam, Mangku Bumi, Hamangku Buwana, Khalifah, Sultan, dan yang lainnya. Nampaknya, mitos harus dibangun, Raja adalah bayang-bayang Tuhan di bumi, untuk melupakan kemungkinan bahwa kekuasaan sebenarnya datang secara kasar. Dan rakyat jangan tahu, bahwa di balik sebuah tahta, ada darah yang tumpah, ada nyawa yang meregang, ada mahar politik yang tidak murah.

Pada abad 20, ajaran itu dibunuh, Mao – seorang marxis – berujar bahwa kekuasaan itu bukan datang dari Tuhan, tetapi dari laras bedil. Nampaknya, ini pula yang terjadi ketika demokrasi mulai diyakini sebagai solusi: setiap orang punya satu suara, dan suara rakyat adalah suara Tuhan. Masih ingat? Sebuah adegan di Whitehall, London, 30 Januari 1649: hari itu Raja Charles dipenggal oleh kekuatan yang dikerahkan parlemen untuk melawan, dipimpin oleh Oliver Cromwell. Lebih mashur lagi, tentu saja, selipan peristiwa penting dari Revolusi Prancis, ketika Raja Luois XIV ditebas lehernya pada 21 Januari 1793, oleh kaum revolusioner.

Simbol ketika domokrasi menyeruak bisa dibaca lebih jauh. Kepala yang terpenggal. Yang tersisa tinggal dada yang merasa, lengan yang menanam padi, kaki yang menempuh jalan, benak yang berpikir.

Meskipun begitu, politik tak letih untuk terus menjadi “kepala”. Kekuasaan Oliver Cromwell nyaris dikukuhkan sebagai kerajaan. Ia menampik. Tapi setelah ia wafat pada 1658, Inggris kembali menjadi kerajaan. Begitu pun Prancis, ketika Napoleon, seorang opsir yang cerdas, toh akhirnya mengukuhkan menjadi Raja, semboyang ravolusi “kebebasan, kesetaraan, persaudaraan” tanpa terpaksa harus dikhianati. Konon, ketika pengukuhan itu terjadi, Beethoven, komponis legendaris itu, baru selesai menggubah karya musik untuk sang opsir revolusi, amuk dan merobek-robek komposisi yang baru diciptakannya.

Beethoven boleh marah, tapi ada kecendrungan laten dalam diri manusia bahwa pangkal dari segala adalah “kepala”. Angan-angan ini lalu diresmikan oleh modernisme dengan mantaranya, cogito ergosum, “aku berpikir, maka aku ada”. Lalu dimaknai, yang berpikir adalah isi terpenting batok “kepala”. Kepala adalah “subjek”. Pun “kepala” negara, “kepala” daerah, “kepala” kampung, dan yang lainnya.

Modernisme, dengan segala kemewahan dan kesombongannya, lalu mendapat kritik tajam dari Nietzsche, bahwa ia adalah “sebuah monster energi, tanpa awal dan tanpa akhir”. Modernisme dengan jampé demokrasinya, telah menjadi makhluk menakutkan dengan segunung intrik kecurangan. Untuk menjadi Walikota harus sedia dana milyaran rupiah, apa ini bukan monster menakutkan? Politik tampaknya tak akan dapat menghasilkan kemaslahatan bersama, jika manusia bertolak dari “monster energi” ini. 

Melihat gerombolan masa dalam pendaftaran untuk menjadi “kepala” daerah kemarin, lalu dibumbui dengan “tiada makan siang yang gratis”, saya sangsi kemaslahatan adalah tujuan dari politik. Di benak saya terbayang, para cukong besar dengan segunung kepentingan sedang tebahak. Nampaknya sejarah akan berulang, politik hanya mencari “siapa” yang jadi pemimpin, mencari “subjek” yang seakan-akan utuh (bener, pinter, cager), mencari “kepala” yang sebenarnya sudah dititipi kepentingan-kepentingan besar kafitalisme, dan berakhir dengan harapan yang guncang. Dan kembali, jutaan “kepala” rakyat jelata yang akan jadi korban.[]

28 September 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *