20220807_191722_0000

Diposting oleh:

Karbala

Karbala

oleh Fauz Noor

Rombongan kecil itu berjalan tertatih. Demi sejumput harapan, untuk kehidupan yang lebih baik. Demi pekik, untuk melawan penguasa tiran. Di tengah jalan, rombongan Husain dihadang oleh Umar ibn Sa’ad dengan 5000 anggota tentaranya.

Peperangan tak terelakan. Sungguh tak seimbang. Terlihat, sahabat-sahabat Husain wafat, juga putra cikalnya terbunuh dengan puluhan anak panah, Ali Akbar gugur sebagai syahid. Dan, pada tanggal 9 Muharram rombongan kecil itu terdesak, rombongan Imam Husain r.a, sukar mendapatkan air.

Mereka berkemah dengan keadaan lapar dan haus. Abbas, pemegang bendera pasukan Husain meminta izin untuk mengambil air ke sungai Furat, walaupun harus melintasi pasukan lawan. Husain terdiam, membiarkan Abas menjemput maut, karena anak-anak dan kaum perempuan sudah terkapar. Di hati Husain berdoa, semoga Abbas bisa membawa sekantung air.

Di padang itu, di Karbala, dari kejauhan Husain mendengar percakapan Abbas dengan pasukan Ibnu Sa’ad. Abbas memohon, “Di sana cucu dan keturunan Rasulullah, kamu telah bunuh para sahabatnya, Ahli Baitnya. Semua keluarganya kehausan, berikan seteguk air, karena kehausan telah membakar ulu hati mereka.” Terdengar Ibnu Sa’ad menjawab, “Hai anak Turab, sekiranya seluruh air dunia ini berada dalam kekuasaanku, aku tidak akan memberikan setetes pun sebelum kalian membai’at Yazid sebagai khalifah.”

Akhirnya Abbas menembus pasukan Ibnu Sa’ad. Dengan kegigihannya, Abbas sampai mendapatkan air. Ia tidak meminum setetes pun, padahal haus telah meminta air sebagai pengganti darahnya yang telah banyak keluar. Ia malah berkata, “Tidak layak aku meminum air sejuk, sedangkan haus sedang mencekik saudaraku Husain.” Abbas kemudian mengisi kantung air, dan berlari cepat menuju Husain. Tapi, kembali anak panah harus menghujani tubuhnya. Abbas jatuh-bangun berusaha menggapai Husain, pasukan Ibnu Sa’ad tambah geram, kantung itu mereka rebut, dirobeknya dan dilemparkan jauh-jauh. Abbas menangis, ia menangis bukan karena anak panah yang telah menancap di tubuhnya, tetapi karena gagal menghantarkan air kepada panutannya.

Hari itu, 10 Muharram 68 H (10 Oktober 680), giliran Husain yang dibantai Pasukan Ibnu Sa’ad. Sebelumnya, ia memeluk Ali Ashghar atau Ali Ridha yang masih balita. Seketika, panah Harlah ibn Kahil melesat menembus leher Ali Rhidha. Demi Allah, panah itu menembus leher Ali Ridha. Pekik suara Ali Rhidha begitu menyayat hati. Husain menggelengkan kepala, tak percaya begitu kejam mereka yang menamakan muslim dan manusia itu. Tak bisa terlukiskan bagaimana sedihnya Husain yang telah kehilangan dua putranya yang tersayang, cicit Rasulullah. Husain melangkah menuju kemah kaum perempuan, terlihat di sana putra-putri Fathimah, Zainab (yang selamat) dan Ummi Kultsum, yang sedang ketakutan dan menahan lapar dan haus yang sangat, juga terlihat Ali Zainal Abidin (yang selamat dan kelak menjadi seorang ‘alim seperti kakeknya) sedang tergeletak terkapar sakit keras.

Tak terelakan, dengan gagah berani Husain terus melawan. Puluhan musuh berhasil ia bunuh. Sampai akhirnya, satu panah merobek jantungnya, dengan terbata-bata ia berucap, “Dengan nama Allah, dengan bantuan Allah, dan di atas agama Rasulullah. Ilahi, Engkau Maha Tahu bahwa mereka telah membunuh satu-satunya putra Muhammad yang masih ada di muka bumi ini.”

Melihat Husain tergeletak lemah, Umar ibn Sa’ad meneriakan kata-kata najis, “Turun kalian dan penggal lehernya…” Syimir bergerak, dan berhasil memenggal kepala Husain. Pada waktu itu terdengar teriakan Imam Husain r.a yang terakhir: “Ya Abatah, Wa Ummah, Wa Jaddah, Wa ‘Aliyah…(Duhai Ayah, duhai ibu Az-Zahra, Duhai Datuk Musthafa, duhai ayahku Ali…). Kemudian dirwayatkan, terutama oleh saudara kita kaum Syi’ah, bahwa mereka beramai-ramai melucuti tubuh Imam Husain. Bahar ibn Ka’ab melucuti celananya; Aswad ibn Khalid merampas sandalnya; Jami’ ibn AlKhalaq merebut pedangnya; Bajdal ibn Sulaiman mengambil cincinnya.

Demikian potret Karbala di 10 Muharram 68 H (10 Oktober 680 M). Begitu mencekam. Begitu penuh luka. Penuh darah. Malang, peristiwa itu sering kita lewatkan, para Ajengan seolah enggan menceritakan syahadah Imam Husain. Barangkali, ada ketakutan, ada kekhawatiran, karena itu cerita milik kaum Syi’ah. Tidak!

Peristiwa Karbala bukan momen yang menjadi inspirasi kebangkitan melawan para tiran yang dimiliki orang Syi’ah saja. Padang Karbala adalah api yang akan mengobarkan perlawanan bagi umat manusia untuk terus melawan kaum korup dan tiran.

Sering para mubalig menceritakan bahwa 10 Muharram adalah hari keramat, di mana Ibrahim a.s selamat dari kobaran api, Musa a.s selamat dari kejaran Fir’aun, pertemuan Adam a.s dan Hawa, and so on. Sungguh, cerita-cerita ini masih diperdebatkan kevalidannya, karena diriwayatkan bukan dari keterangan yang mutawatir. Kenapa kita lebih senang cerita “yang mungkin bohong” ketimbang kegagahan Husein yang diakui semua sejarawan dunia?

10 Muharram adalah hari perjuangan, hari yang mengajarkan untuk mengacungkan tangan kepada kaum tiran. Sunni dan Syi’ah mempunyai musuh yang sama, para korup, para tiran, kehidupan yang dipenuhi ketidakadilan. 10 Muharram seharusnya mempersatukan Sunni-Syi’ah, karena musuh mereka sama. “La sunniyah wa la syi’iyah, wa lakin islamiyah, islamiyah, islamiyah,” demikian ujar al-Afghani, dan kalimat ini pun sering diujarkan Khumaini.

Saya membayangkan, Imam Husain r.a dan Rasulullah Saw. kiranya berlinang air mata di surga sana, melihat Sunni-Syi’ah yang sampai detik ini selalu bertikai, selalu berperang. [ ]

Bagikan:

Berikan Komentar