Heidegger di Masa Lebaran

oleh Fauz Noor

Setiap lebaran datang kesibukan meningkat. Bahkan jauh-jauh hari sudah dipersiapkan, menjemput arti sebuah kerayaan. Kaum Ibu, konon ini adalah kodratnya, papukeut membuat kue lebaran, sampai “berani” meninggalkan shalat taraweh atau qiyamul-lail. Kaum Bapak, hatinya tak tenang jika belum membelikan istri dan anak-anaknya baju lebaran. Singkat kata, lebaran adalah sebuah pesta.

Ada yang salahkah disana? Tentu saja tidak. Karena konsepsi salah-benar berada dalam dimensi yang tersimpan dalam benak kita masing-masing, dan sangat subjektif. “Sebuah kesibukan, sampai keluar dana puluhan juta, tiada artinya ketimbang pertemuan keluarga yang sudah puluhan tahun tak bertemu. Nilai keluarga tak bisa dihitung oleh materi,” ujar seorang Ibu yang kelima anaknya merantau ke luar pulau. “nenek moyang kita tak pernah mengajarkan sikap boros. Jika dana pesta itu kita santunkan untuk fakir-miskin mungkin lebih bermanfaat,” ujar seorang pemuda pengangguran.

Lepas dari semuanya, lebaran adalah sebuah kesibukan. Itu sebabnya saya teringat Heidegger. Bukan karena Heidegger suka merayakan Lebaran. Jelas bukan. Karena beliau pun seorang yang memutuskan hubungan dengan – dalam bahasanya – “sistem” Gereja Katolik. Bahkan sebagian orang memandang ia seorang ateis, walaupun sukar kita untuk percaya ini, karena perhatiannya terhadap teologi Kristiani sangat kuat dan di usia tuanya ia kerap berdoa. Saya teringat Heidegger, di masa Lebaran ini, karena ia seorang filosof yang sangat serius memikirkan arti sebuah “kesibukan” (Bosergen).

Dalam dunia filsafat, keliru kita untuk melewatkan pemikiran Heidegger. Ia seorang pelopor, tepatnya pelopor tiga aliran filsafat: fenomenologi, hermeneutika kontemporer dan pasca-strukturalisme. Itu sebabnya, jika kita hendak memahami pemikiran, seperti: Foucault, Sartre, Derrida, Caputo, Zizeck, Blutmann dan Gadamer, akan rancu jika menyepelekan pemikiran filosof asal Jerman yang pernah terlibat Nazi ini.

Pertanyaan bisa kita renungkan dalam pemikiran Heidegger adalah, “Apakah kesibukan bisa menjadikan kita menjadi manusia otentik?” Ya, manusia otentik. Konsepsi inilah yang menjadi pokok pembahasan dalam bukunya yang legendaris, Sein und Zeit (Ada dan Waktu), terbit di tahun 1927.

Lazim dalam filsafat, merenungkan makna hidup, begitupun dalam pemikiran Heidegger. Ia secara apik mencari hubungan antara Bosergen dengan makna hidup. Lalu, ia menariknya dalam satu konsepsi ontologi yang kuat. Ia memulai dengan melakukan pemisahan antara: “Ada” (Sein) dengan “mengada” (Seiendes). Yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari ini, menurut Heidegger, adalah “mengada”. Baju baru, ketupat, opor ayam, pun juga ekonomi, budaya, sosial, bahkan sampai pemikiran manusia dan alam semesta pun, adalah sesuatu yang “mengada”. Kita bisa melihat dan merasakan “itu semua”. Yang tidak terlihat dan terasakan adalah yang menopang keberadaan “itu semua”. Yang menopang “itu semua” adalah Sein (“Ada”).

Menurut Heidegger, keberadaan kita di dunia ini berada dalam dua posisi: otentik atau tidak-otentik. Manusia otentik itu adalah seseorang yang tidak diombang-ambing oleh sesuatu yang “mengada” (Seiendes), tetapi berhubung dengan “Ada” (Dasein). Manusia otentik (Dasein) adalah manusia secara apa-adanya dan terlempar-ke-sana. Manusia otentik adalah manusia yang berada-di-dunia secara apa-adanya. Ia hanya “Ada”. Manusia otentik adalah “Ada” tanpa alasan dan tanpa tujuan. Ia hanya “Ada”, berada bukan sebagai apa-apa dan bukan sebagai siapa-siapa, karena “apa” dan “siapa” memerlukan alasan dan tujuan. Sekali lagi, manusia otentik hanya “Ada”.

Bisa dibayangkan, menurut Heidegger, kita berada hanya “Ada”, tanpa alasan dan tanpa tujuan. Otentiknya atau aslinya kita berada bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Ini sungguh horor. Menjadi manusia otentik sungguh terasa horor. Karena kelahiran tak pernah kita minta, hidup tak pernah kita minta, menyaksikan matahari tak pernah kita minta, menyaksikan pertempuran tak pernah kita minta, kita hanya “terlempar-ke-dunia”. Ini otentiknya keberadaan kita. Sesuatu yang horor.

Jika manusia otentik adalah sesuatu yang horor, latas manusia tidak-otentik seperti apa? Tentu saja kita tak mau hidup terus-terusan cemas, penuh horor, penuh takut, dengan menyadari bahwa keberadaan kita tanpa alasan dan tanpa tujuan. Kita juga tak mau menjadi “bukan apa-apa” dan “bukan siapa-siapa”. Maka itu kita “sibuk” mengurus ini-itu, dalam urusan sehari-hari, urusan profesi, urusan bakti, urusan persiapan lebaran, dan yang lainnya. “Kesibukan” ini, menurut Heidegger, sedikit banyak melupakan kita akan horor otentiknya keberadaan kita, dan mulai merasakan bahwa hidup ini mempunyai makna. Kita pun senang atau bangga dengan “perolehan” dari kesibukan kita: pengakuan, pendapatan atau kedudukan, lalu kita konsepsi sebagai makna hidup kita. Akan tetapi, Haidegger masih belum tuntas membuat kita sock, menurutnya “apa” dan “siapa” yang dihasilkan oleh kesibukan itu tidaklah otentik. Karena setelah Anda tidak cemas lagi, setelah melakukan “kesibukan”, Anda berhasil menjadi “seorang dosen” misalnya dan melakukan “aktifias mengajar, penelitian dan pengabdian”, ini sebenarnya bukan otentik: karena otentiknya manusia adalah “terlempar-ke-dunia” tanpa alasan dan tujuan. Kesibukan bagi Heidegger hanyalah pelipur-lara sesaat akan kecemasan-eksistensi manusia. Sungguh horor, bukan?

Selain kesibukan profesional, ada hal lain yang menyebabkan Dasein menjadi tidak-otentik: menjadi tukang gosip, penasaran akan urusan orang lain (dalam istilah milenial keppo), gampang percaya seunah atau konon atau mengikuti kata orang. Saat acara kumpul keluarga di hari Lebaran, sekumpulan pengosip pun begitu asyik, lalu Anda nimbrung, dan pada saat yang sama Anda menikmati bahwa kekurangan ini-itu tidak berada pada diri Anda, melainkan pada diri orang lain. Anda senang bahwa Anda lebih baik dari “orang yang digosipkan” dan hidup Anda lebih mulia darinya. Rasa “bermakna” mulai tumbuh dalam diri Anda, lalu Anda lupa bahwa sebenarnya “diri-otentik” Anda itu sebenarnya “bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa”, Anda hanya “Ada” begitu saja. Tanpa disadari Anda menjadi bagian dari gerombolan atau opini umum saja yang oleh Heidegger di sebut dengan das Man (orang). Sekarang ini, banyak hal menggoda kita menjadi tidak-otentik, salah satunya adalah media-sosial. ( he he he).

Makna dalam hidup, menurut Heidegger adalah palsu. Ketika kumpul keluarga, orang tua kita, kakek kita, paman kita, uwak kita, bercerita tentang masa lalunya. Ini barangkali yang ngangenin dalam ritual Lebaran. “Dahulu Kakek adalah seorang…,” ujar seorang Kakek yang sudah punya cucu 12 orang. “Dahulu nenekmu itu yang pertama ngucapin cinta ke Kakek, dan Kakek pura-pura nolak,” ujarnya penuh bohong dan disambut tawa anggota keluarga. Semua ini, menurut Heidegger, adalah palsu. Apakah omongan itu fakta atau celotehan-bohong, sama-sama palsu. Karena apa? “Karena,” jawab Heidegger, “Makna apapun dalam hidup akan luruh bersama waktu ketika tak lagi dibicarkan. Makna tidak menjadi Sein (Ada).” Manusia pernah bukan-seseorang (bukan siapa-siapa) lalu menjadi seseorang dan sekarang tidak lagi menjadi seseorang. Dinamika ini menurut Heidegger menimbulkan kecemasan eksistensial. Hidup manusia selamanya adalah horor.

Manusia otentik, menurut saya (bukan menurut Heidegger) bukan hanya berada dalam kecemasan-eksistensial, melainkan berada dalam sikap-syukur (berterimakasih). Saya sepakat bahwa “kesadaran” kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, hanya saja “kesadaran” ini sepatutnya membawa pada mental rendah-hati yang menuntun rasa terimakasih kepada Sang Pemberi Hidup, dan bersyukur bahwa kita awalnya “bukan seseorang” sekarang “menjadi seseorang”.

Duh, seandainya Heidegger pernah mengalami “mudik lebaran”, mungkin ia akan tahu bahwa hidup hanya sebatas perjalanan, dan “pulang kembali” adalah sebuah kerinduan. Dari Sang Pemberi akan kembali kepada Sang Pemberi. [ ]

8 Juni 2019

 

One thought on “Heidegger di Masa Lebaran

Tinggalkan Balasan ke Susan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: