Garong


TOKOH itu bernama Ranta. Ia berumur kurang dari 39 tahun. Tubuhnya tinggi besar, penuh dengan otot-otot
kasar, menandakan, bahwa ia banyak bekerja keras tapi sebaliknya kurang mendapat makanan yang baik. Ia seorang tokoh dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer,
Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Novel ini bercerita tentang perlawanan masyarakat miskin melawan penjajah. Masyarakat yang takut. Tapi, akhirnya mereka ngamuk. “Aku bosan takut,” ujar Ranta.


Ketika penjajahan Jepang, kita tahu, orang pribumi dipaksa kerja. Orang Jepang tak jauh beda dengan Belanda. Bila dahulu dikenal
rodi, pada saat Jepang disebut romusha. Kerja paksa ini membuat kakek moyang kita tersiksa, gaplek adalah makanan mereka. Dan, dari perjuangan mereka kita mengenal istilah GARONG (ditulis dengan huruf kapital semua).


Zaman sekarang istilah GARONG sangat terkesan negatif; pencuri, perampok, pencopet, maling adalah nama-nama lainnya. Tapi, sebenarnya dahulu istilah ini bukanlah sesuatu yang durhaka, bahkan bisa jadi mulia. Kumpulan GARONG tak jauh beda dengan kumpulan bandit yang dipimpin Ned Kelly di Austria.

Kelly adalah penjahat. Kakeknya seorang pencuri. Ayahnya pernah dihukum penjara selama 6 bulan karena mencuri sapi, biribiri, dan mati tak lama selepas bebas. Bukan hal aneh, di rumah Kelly sudah berkenalan dengan penjahat semenjak ia kecil. Walaupun ibunya sudah menyekolahkannya, tak membuat Kelly takut
merampok. Di usia 16 tahun, Kelly sudah merampok. Mulanya, ia perampok kelas teri. Baru pada bulan Oktober
1878, di Stringpark Creek. Waktu itusegerombolan Polisi berkemah di hutan, dalam usaha mengejar para pencuri ternak. Kelly dan 
rombongannya datang. Para polisi itu disergap. Karena menolak untuk menyerah dan angkat tangan, para polisi itu ditembak, dan mati. Hanya seorang saja yang lolos. Dan sejak itu, polisi dan pemerintah pun mengejar Kelly dan kelompoknya. Sejak itu pula, Kelly bukan lagi sekedar penyerobot lembu, tapi pembunuh.
Segera, pengejaran terhadap kelompok Kelly dikenal masyarakat luas. Anehnya, selama pengejaran, para perampok itu dilindungi oleh para miskin. Begitu banyak kaum miskin yang simpati terhadap Kelly. Kelly tahu, sifat khas orang miskin adalah takut. Dan Kelly merasa bahwa percuma baginya untuk berkata, “Kalahkah ketakutan kalian.” Tapi, ia berteriak dengan melawan, dengan
bedil.


Cukup lama Kelly dan kelompoknya dalam pengejaran. Seperti yang kita saksikan dalam biografi filmnya, karena lilitan lapar dan haus tak terkira, mereka bunuh kuda-kuda mereka, darah kuda adalah minuman penyerta daging. Dalam pengejaran itu, ide gila datang, merampok Bank. Setelah pengejaran selama 44 hari, mereka beraksi di sebuah Bank, dan di sinilah pertempuran hebat mereka dengan polisi, dan mereka tertangkap juga.

Pada bulan Oktober 1880, laki-laki berjengot lebat itu dihukum gantung. “Saya akan menemui tuan Hakim di sana bila saya pergi saat ini.” Kata-kata Kelly seakan ramalan, dua minggu selapas eksekusi Kelly, sang Hakim jatuh sakit, dan setelah delapan harinya mati.

Tak bisa ditolak, mitos akan Kelly pun tumbuh subur. Masyarakat Austria seakan mendewakan Kelly. Di negri itu, ada seorang pelukis, Sidney Nolan namanya, yang tak habis-habis mendapatkan ilham dari perlawanan Kelly. Dengan humor dan kenaifan tinggi ia melukiskan sang Bandit dengan gagah mengenakan baju ziarah dan di sekitarnya tergeletak tubuh para polisi tak bernyawa yang terlihat lucu dan koyol.

Barangkali bukan karena mitos tentang Kelly yang menjadi kekuatan sehingga banyak yang mengagung-agungkannya, bukan sekedar orang Austria. Tetapi, semangat peralawanan kepada Tiran yang tak bisa untuk tidak memukau orang. Kita tahu, orang Amerika punya Jase James, bandit ulung dalam film legendaris The Godfather. Orang Inggris, punya Robin Hood, yang soundtrek filmya melegendakan lagu Evriting I do (I do it for You) karya Brian Adam. Orang Betawi punya si Pitung. Orang Jawa punya Ken Arok. Bahkan, ketika zaman kekhalifahan Utsman ibn ‘Affan yang korup, kita tahu seorang bandit Shalih, Malik ibn ar-Raib al-Mazini. “Hai Said, aku membangkang dan memberontak kepada keluargamu, ini semua karena kalian korup, karena kalian telah memiskinkan orang banyak, kami semua,” ujar Malik kepada Said ibn Utsman ibn ‘Affan. Tokoh lainnya zaman kekuasaan Islam korup dahulu, tentu saja Abu Dzar al-Ghifari.


Nah, begitu pula GARONG. Sekolompok pemuda romusha di kota Bandung, Cimahi, Garut dan Tasikmalaya terjangkit “penyakit” Kelly, James, Robin Hood dan si Pitung. Terilhami al-Muzani dan al-Ghifari. Karena tak tahan lagi menahan siksa, mereka bangkit melawan. Kepahlawanan mereka dikenal waktu itu dengan GARONG, sebuah akronim, Gabungan Romusha Ngamuk. Jepang pun kewalahan. Dan, GARONG mengabadikan, jadi
legend, satu nama dan dicatat sebagai pahlawan Nasional; Muhammad Thaha.

Bukan sesuatu yang aneh pula, bila dewasa ini lahir (atau akan lahir) para pewaris GARONG. Sebab, selama ketidakadilan masih menang, selama korupsi makinmenjadi-jadi, selama hasil pembangunan hanya dinikmati kaum kaya, selama harga BBM terus meninggi dan rakyat jadi tercekik, akan lahir para badit pahlawan keadilan. Anda berani? [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *