Furu’iyah

Bicara agama tak bisa untuk sama. Dalam agama selalu banyak warna. Boleh kita berkata agama Islam, dan Islam adalah Esa. Tapi wajah Islam tak akan tunggal, sebab tabiat agama adalah menampik tunggal. Agama apa pun itu.

Islam misalnya, benar diikat olah persamaan, para ulama menyebutnya ushulud-din. Dan ini adalah wilayah abstrak, wilayah yang tak kasat mata. Di lapangan nyata Islam pada akhirnya punya banyak wajah, para ulama menyebutnya furu’iyah.

Wajah agama selalu bersumber dari Kitab Suci, dan dari disinilah wajah itu akhirnya punya banyak warna, punya banyak pendapat, punya banyak bentuk. Kenapa? Baik kita coba urai sunnahtullah yang dalam Quran disebut la tabdilla li sunnatillah (sunnah Allah itu tak akan berubah) ini secara singkat.

Pertama, teks al-Quran punya dua wajah: haqiqi dan majazi. Kita sebut sebagai contoh: nikah. Nah, apa itu nikah? Maliki dan As-Syafi’i memahami nikah secara mazaji, yaitu akad nikah yang shah. Bila ada anak laki-laki hasil perzinahan, maka ia boleh menikahi perempuan yang telah berzina dengan “ayahnya”. Sebab, perempuan itu bukan “ibunya”, tak ada akad nikah antara “ayah” dan “ibunya”. Berbeda dengan Abu Hanfiha, ia memahami secara haqiqi, baginya nikah adalah hubungan seks, baik dengan akad yang sah maupun tidak. Anak laki-laki hasil zina, tak boleh menikahi “ibunya”. Dari perebedaan melihat makna nikah, maka konsekwensi hukumnya yang ditarik dari ayat “jangan menikahi siapa yang telah dinikahi ayahmu..” (Q.S. an-Nisa [3]: 22), pasti berbeda.

Kita lihat contoh lain: berpuasalah kalian sampai malam (Q.S. al-Baqarah [2]: 187). Pertanyaannya, apa itu malam? Sebahagian ulama memahami “malam” adalah terbenamnya matahari sekalipun langit masih terang dengan adanya mega kuning atau mega merah. Makna ini dipakai oleh banyak ulama Sunni, maka sekalipun langit belum gelap di Indonesia yang mayoritas Ahlus-Sunnah, sudah buka puasa. Hanya saja, ada juga yang memahami “malam” dengan gelap. Artinya, berbuka puasalah ketika langit sudah gelap. Kalau langit masih terang dengan mega-mega, belum boleh berbuka puasa. Itu sebabnya, saudara kita orang Syi’ah kala berbuka puasa menunggu sampai langit benar-benar gelap, biasanya ditambah sekitar 15 menit selepas terbenam matahari, karena pendapat inilah yang dipakai Ja’far as-Shadiq sebagai rujukan kaum alawiyyun.

Kedua, terjadinya sisipan kata dalam ayat Quran atau hadits. Ini yang sering bikin “rumit”, dan secara pasti melahirkan banyak pendapat. Kita kasih contoh, masih tentang puasa. Dalam al-Quran kita membaca, “barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia tidak berpuasa) maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang dia tinggalkan pada hari-hari yang lain.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 185). Kalimat “lalu ia tidak berpuasa” disini (sebagaimana terbaca dalam terjemahan Departemen Agama) bukanlah ayat al-Quran, melainkan sisipan saja. Banyak ulama berpendapat kalau sisipan ini dihilangkan maka puasa di perjalanan menjadi tidak shah. Itu sebabnya Ahlus Sunnah membolehkan puasa sekalipun kita sedang diperjalanan. Sementara itu, Ja’far Shadiq dalam madzhab Syi’ah membaca ayat Quran ini tanpa sisipan, maka beliau berpendapat bahwa puasa diperjalanan adalah tidak shah.

Dari dua contoh diatas, kiranya kita paham bagaimana peliknya membaca ayat al-Quran. Kalau saja kita pelik dan teliti, niscaya akan menerima bahwa perbedaan pendapat itu niscaya. Belum lagi kalau kita berbicara “kata perintah”, apakah perintah selalu menjadi hukum wajib? Ataukah sekedar mandub? Demikian juga tentang “larangan”, para ulama berbeda pendapat makna dari “larangan”: ada yang haram atau sekedar makruh saja.

Bagi saya, mereka yang suka merasa benar sendiri dan memaki-maki pendapat yang berbeda dengannya adalah mereka kurang wara’, untuk tidak menyebut “berwawasan sempit”. Semakin kita memperdalam agama, akan semakin sulit kita untuk menuduh saudara kita salah. Rasulullah Saw. mengajarkan kita untuk berbaik sangka (husnudz-dzan). Dan hemat saya, mental inilah yang kita sering lupa. Kita suka terburu-buru menuduh saudara kita salah – bahkan berani berkata dayus, kafir, bahkan dajjal -, kita sering kali berburuk sangka padahal buruk sangka adalah dosa. Oleh karena itu, marilah kita salaing jaga, karena menurut as-Syathibi dalam al-Muwafaqat, “perbedaan furu’iyah dalam Islam merupakan bagian dari Islam.” [ ]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *