857c108f-6183-42ab-8f8c-fde34feca044

Diposting oleh:

Falsafah Qurban

Falsafah Qurban
Oleh Fauz Noor

Dalam perjalanannya, Nabi Ibrahim as pernah berkunjung ke negri Mesir. Di sana ia menyaksikan seorang perempuan (yang tercantik) ditenggelamkan ke sungai Nil, untuk persembahan kepada Tuhan. Dalam perjalanan lain, tepatnya ke negri Persia, ia pun menyaksikan seorang bayi dibunuh dengan niat persembahan kepada Tuhan. Pikirannya berontak, dan ia berujar, “Manusia terlalu mahal untuk dipersembahkan (di-qurban-kan) kepada Tuhan.”

Melalui mimpi, Tuhan menolak pemikiran Ibrahim as. “Sembelihlah anakmu, wahai Ibrahim.” Artinya, untuk Tuhan tidak ada yang mahal, karena semua milik Tuhan. Anakmu, bahkan dirimu sekalipun, adalah kepunyaan Tuhan. Wajar jika dipersembahkan untuk Tuhan.
Ibrahim as pun tersadar. Ia berkata kepada Ismail yang sudah mulai remaja, “Wahai anakku, aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, apa pendapatmu.” Kala itu Ismail yang mewarisi keteguhan hati bapaknya menjawab, “Wahai bapakku, tunaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu, dan insya Allah engkau akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S. ash-Shafat: 102).

Yang terjadi adalah benar bahwa Nabi Ibrahim menyembelih anaknya, dan Tuhan mengganti Ismail dengan seekor domba. Heroik kisah ini. Mendalam hikmah didalamnya. Artinya, benar bahwa apa pun persembahan untuk Tuhan adalah wajar, sekalipun anak harus dibunuh, hanya saja Tuhan enggan, manusia melukai atau membunuh manusia lain. Itu sebabnya, Ismail as diganti-Nya dengan gibas.

Millah Ibrahim mengajarkan, “Janganlah mengorbankan manusia sekalipun engkau niatkan sebagai persembahan untuk Tuhan.” Bisa dibayangkan kiranya. Kita ini menjegal kawan, mengantam lawan, mengorbankan manusia lain hanya demi kepentingan sendiri. Mengorbankan manusia demi persembahan untuk Tuhan saja diharamkan, apalagi demi kepentingan nafsu pribadi. Astaghfirullahal ‘adhim. Itu sebabnya dalam surat surat al-Maidah ayat 32 kita membaca, “Barang siapa membunuh seorang manusia tanpa hak dan berbuat kerusakan di muka bumi, maka ia seakan-akan telah membunuh semua manusia.”

Kisah Ibrahim, memberi hikmah akan kemuliaan manusia. Dan suatu ketika Nabi Muhammad Saw. berkata kepada Ka’bah, “Sungguh mulia engkau wahai Ka’bah, tetapi di depan Allah, lebih mulia manusia ketimbang engkau.” Manusia lebih mulia ketimbang Ka’bah, karena manusia adalah 100 % kreasi atau ciptaan Tuhan tanpa ada peranan siapa-pun selain-Nya, sedangkan Ka’bah adalah kreasi Malaikat yang dirampungkan oleh tangan manusia – Ibrahim as. Sungguh, lebih mulia kreasi al-Khalik ketimbang kreasi makhluk.

Tuhan mengajarkan untuk memuliakan manusia tanpa harus melihat ras, suku, golongan, partai dan agama. Manusia, bagaimana pun dia, harus dimuliakan. Itu sebabnya, al-Quran mengajarkan, bahwa berperanglah engkau ketika engkau diserang, dan jangan menyerang terlebih dahulu. Berperang adalah melawan. Berperang adalah sikap kepada yang mereka yang tidak memuliakan manusia.

Yang terjadi adalah Ibrahim menyembelih binatang dan menghidupi manusia – Ismail as. Bukan hanya itu, segenap manusia menikmati daging gibas. Artinya, jika ingin “menghidupi manusia” maka yang harus dilakukan adalah “menyembelih kebinatangan” dalam diri. Seketika itu juga, ya seketika itu juga, ketika kita sanggup menyembelih kebinatangan dalam diri kita maka ketika itu juga kita menghidupi manusia. Dan yang demikian inilah yang disebut qurban.

Ketika kita di jalan raya dengan perbagai kepentingan pribadi kita, kita ber-qurban, kita berkorban waktu, dengan antri di depan lampu lalu lintas. Kita antri, kita berkorban, dan ini adalah membunuh kebinatangan kita demi menghidupkan kemanusiaan, karena orang lain pun tak beda dengan diri kita, punya perbagai urusan. Aku berquran, engkau berqurban, dia berqurban, mereka berqurban, kita berqurban, maka terciptakan tatanan kehidupan sosial yang damai. Maka sungguh bisa dipahami, jika dalam madzhab Abu Nu’mah al-Hanafi (Imam Hanafi) qurban hukumnya wajib ‘ain. [ ]

1 September 2017.

Esai ini termuat di buku MARGINALIA 2: Esai-Esai dari Pojok Pesantren, karya Fauz Noor.

Bagikan:

Berikan Komentar