Dilema Sila Pertama

64 Views

Pengatar Penerbit

“Jika buku ini terbit, adalah terlambat,” demikian ujar kami kepada Prof. Afif. Beliau hanya tersenyum. Kami bilang demikian karena buku ini, meminjam ujaran Prof. Dr. Asep Saeful Muhtadi, “skripsi rasa disertasi”. Filosofi buku ini sehingga sampai akhirnya berada di tangan pembaca, “terlambat mungkin mengecewakan, tetapi tidak sama sekali adalah kebodohan”.

Membaca buku ini, kita akan tahu bagaimana kualitas skripsi di tahun 70-an dan 80-an. Sangat serius dan berbobot, padahal tidak ditunjang dengan ketersediaan kemudahan seperti sekarang di era 4.0 G. Walaupun mungkin ujaran ini bisa dilanjutkan, sambil malu-malu kita berkata, “Tentu tak semua skripsi zaman old sebagus ini.”

Buku ini adalah skripsi Prof. Afif Muhammad tahun 1983. Pembahasannya adalah tentang Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita tahu, di zaman Orde Baru, pada tahun-tahun tersebut sedang gencarnya wacana Asas Tunggal. Dan kita pun tahu, pada tahun 1985, akhirnya Orde Baru menetapkan Pancasila sebagai Asas Tunggal. Artinya, buku ini ditulis ketika “tekanan” akan Asas Tunggal sedang gencar dilakukan oleh Orde Baru. Kita pun merasakan bagaimana penulis skripsi ini begitu “semangat” menyuarakan Islam sebagai sebuah tatanan yang kâfah. Dan ini, pada masanya, adalah perlawanan.

Karena merupakan karya di tahun 1983, kami meminta Prof. Afif untuk membuat telaah akan masa kikinian juga. Terutama, bagaimana wacana Sila Pertama di masa pasca reformasi. Tetapi, permintaan kami pun tak ingin merusak orisinalitas Skripsi beliau. Prof. Afifi kemudian menyiapkan “tambahan tulisan” sekitar 50 halaman ukuran kertas A4. Menurut kami, tambahan tersebut terlalu tebal. Akhirnya, beliau memberikan Prolog dan Epilog yang lebih ringkas tapi bernas.

Dalam artikel tambahan inilah, Prof. Afif menganalisa agama secara kritis, terutama nasib agama di Indonesia. Pembahasannya padat, tak lupa wacana seputar komunisme, atheisme, sprituslime-atheis dan scientology, coba disentuh dengan tajam. Menarik, ketika membahasa komunisme, beliau berujar bahwa kenapa kita mesti takut pada komunisme, toh komunisme di Indonesia adalah komunisme beragama. Lalu, beliau pun mengindir dengan satire yang menonok, bahwa tingkah pelarangan kegiatan keagamaan, laku diskriminatif terhadap non-Islam sampai susah mendapat izin pembangunan rumah ibadah, adalah tingkah negara dan orang kumunis.  Tak lupa, wacana negara khilafah yang sedang ramai pun diangkat dengan analisa seorang guru besar filsafat agama. Singkat kata, fenomena khilafah adalah keliru jika didekat sebagai faktor agama an sich, melainkan berkelindan dalam kebobrokan negara yang kewalahan dalam arus demokrasi.

Tanpa ingin bertele-tele, khawatir pembaca amuk karena kerewelan kami, akhirnya dengan banga kami persembahkan buku ini kepada segenap insan pancasilais. Tak lupa, “Jayalah selalu Pancasila!” Dan, selamat membaca!

Pesantren Fauzan,

Fauz Noor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *