Cahaya Muhsin

Guruku Yang Tak Tergantikan

Dr. KH. Aam Abdussalam, M.Pd

Dosen UPI Bandung dan Ketua Umum Asosiasi  Dosen PAI se-Indonesia

 

Membaca novel Cahaya Muhsin, saya seperti tenggelam dalam mimpi terindah yang pernah dialami manusia. Bedanya, mimpi ini didahului dengan kenyataan dan fakta-faktanya. Bagaimana tidak, di usia saya yang semakin tua ini, saya semakin merasakan kemuliaan dan kejeniusan Maha Guru KH. A. Wahab Muhsin. Semakin banyak saya belajar dari banyak tokoh dan lembaga pendidikan lain, baik di dalam maupun di luar negri, kelebihan dan kejeniusannya semkin jelas terasa dan sukar ditemukan atau teralami kembali.

Kasih sayang dan perhatian guru kami, penuh untuk semua santrinya. Sehat dan sakitnya, total ia berikan untuk mendidikan para santrinya. Saya berani berkata, semua santri beliau akan merasa sebagai orang yang paling ia perhatikan dan cintai. Sikap egalitarian beliau dalam mendidik para santri adalah tak tergantikan. Karena sikap egalitarian beliau yang membumi ini, mampu menumbuhkan kesetaraan kepada para santri-santrinya, sehingga tak tersisa ruang dalam hati para santrinya untuk cemburu kepada sesama santri lainnya. Tak ada santri yang merasa spesial di hadapan beliau, karena semua merasa yang paling dicintai guru kami tercinta. Ini yang luar biasa. Siapa pun kita yang sekarang ini menjadi seorang pendidik akan berkata bahwa egalitarian kepada semua murid adalah “sukar dan sangat sukar”.

Sungguh dalam hati ini semuanya masih berbekas dan terasa, sentuhan tangan beliau yang lembut dan ujaran-ujarannya beliau yang penuh kasih, merembas sampai sumsum tulang, menetes ke dasar hati, dan kuat dalam benak ini. Maha Guru KH. A. Wahab Muhsin sungguh teladan tak tergantikan.

Sampai detik ini, saya pun masih terkagum-kagum akan kecerdasan beliau yang sukar saya jelaskan. Masih teringat dalam benak saya, kefasihan beliau dalam berbahasa Arab. Kata dan kalimat Bahasa Arab seperti mengalir berlompatan dari ujung bibir beliau dengan ringan dan sangat ringan seolah beliau adalah seseorang yang pernah tinggal lama Arab atau orang Arab. Saya pernah mendampingi beliau ketika menerima tamu dari al-Azhar Mesir, dan tanpa sedikit pun kaku atau kelu beliau menerima para cendekiawan Muslim, berceng-krama dan berdiskusi. Padahal tidak ada ceritanya bahwa beliau pernah belajara bahasa Arab, selain hanya nyantri di Sukamanah tiga tahun saja.

Dalam menggali dan menangkap ruh makna dari ayat al-Quran ataupun hadits, kepiawaian KH. A. Wahab Muhsin guru kami tercinta, masih jadi model yang belum tergantikan bagi saya. Ilmu balaghah telah menjadi dzauq (rasa bahasa) bagi beliau. Keluasan wawasan dalam menafsirkan ayat, baik dari segi bahasa, sejarah, pendapat ulama terdahulu, temuan ilmiah modern, ataupun fakta aktual, masih belum bisa ditiru oleh saya. Masih belum bisa saya tiru. Saya yang notabene sudah mencicipi pendidikan formal paling tinggi.

Kejeniusan guru kami pun terlihat hebat ketika mengembangkan kurikulum dan strategi pembelajaran yang terjadi setiap tahap perkembangan. Dengan kecerdasan dalam membaca perkembangan zaman, serta ketelitian mengolah strategi yang tepat, perubahan-perubahan yang beliau lakukan membumi dengan sama sekali tak terjadi benturan.

Satu lagi yang ingin saya tulis di sini. Bagaimana kejeniusan beliau dalam cara istimbat hukum yang suka ia sajikan dalam pengajian kitab Bulughul Maram. Terlalu jelas dalam benak saya sekarang ini, melalui pengajaran beliau, saya bisa mengerti bagaimana kepiawaian Imam as-Syafe’i dalam men-jamu’ (kompromir) dalil yang berbeda-beda untuk satu kasus yang sama. Dalam pengajian Bulugul Maram juga saya bisa memahami bagaimana jeniusnya Imam Abu Hanifah dalam mengembangkan metoda tarjih (memilih dalil paling kuat). Semua ini didemontrasikan oleh KH. A. Wahab Muhsin dalam pengajian dengan sangat jelas dan bernas. Kajian kitab Bulughul Muram ini benar-benar manjadi ajang praktek penerapan kaidah-kaidah ‘Ushul Fiqih.

Singkat kata, keluasan ilmu guru kami yang diapit dengan kasih sayang dan ketawadhuan, menghadirkan sosok beliau menjadi idola yang ideal. Menjadi idola yang nyata dalam hidup para santrinya.

Novel santri Sukahideng ini, putra dari KH. Ijad Noorzaman yang juga merupakan santri langsung dari KH. A. Wahab Muhsin, benar-benar telah membuka memori dan hati saya yang tengah merindukan kehadiran sosok Maha Guru ini. Fauz Noor begitu piawai memadu kata, begitu apik merajut kata dan makna, ditambah dengan balutan imajinasi yang menghujam pada cahaya ta’zhim dan iman, dan ditunjang dengan fakta-fakta akurat, membuat novel ini terasa sangat isitimewa. Setiap kalimat dan halaman dari novel ini dapat mencuri pikiran dan imajinasi, terbang menelusuri masa lalu yang indah dan padat makna.

Saya terpesona akan diksi-diksi penulis novel ini. Kepingan-kepingan sejarah guru kami tercinta, ditutur-kan sampai ruang batinnya yang tawadhu’. Indah dan sangat indah. Novel ini menjadi saksi bahwa kami para santri Pesantren Sukahideng begitu sangat memuliakan dan menghormati guru kami tercinta: KH. A. Wahab Muhsin. Allâh yarham… Allâh yarham… Allâhumma irhamhu.

 

Bandung, 17 Oktober 2020

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *