IMG-20220810-WA0009

Diposting oleh:

Burung Kafir

Sekedar Pengantar

Kata pertama di depan sebuah puisi adalah peristiwa. Puisi ingin mengabarkan peristiwa. Jika dalam bahasa penuh ambisi, puisi adalah aktifitas untuk jujur terhadap diri, “kembali” ke diri, “pulang” ke diri. Meneguhkan untuk “kembali”. Dan kembali adalah sebuah peristiwa.

Mengabarkan peristiwa? Bukankah peristiwa adalah sebuah rekayasa? Setiap peristiwa merupakan hasil olah nalar dan rencana, dan pasti hasil rekayasa. Dengan begitu, manusia pun bertemu dengan jumpalitan kebohongan, menyaksikan pertarungan kepentingan, tertegun di depan pelbagai keinginan. Peristiwa adalah rekayasa. Mungkin kita akan berkata, “Oh, tidak! Tidak semua adalah hipokrit. Tidak semua adalah munafik.” Saya tak menampik ujaran ini, sebab saya yakin, peristiwa tanpa kebohongan pun pasti ditemukan atau dialami oleh setiap kita, dan mari kita menuju ke sana, dan tulislah atau bacalah sebuah puisi.

Jika mengambil posisi ini, terlihat puisi begitu sangat “suci”, puisi menjadi sesuatu yang sakral. Namun terlalu arogan untuk berkata “iya” terhadap tesis tersebut. Hanya saja, lewat puisi, kata-kata yang berbisik, bahkan bisa jadi sudah sangat berisik, kemudian segera menjadi catatan kekaguman kepada alam, manusia, tuhan dan cinta. Atau bisa juga catatan itu menjadi suatu kemarahan, seperti bisa kita baca pada puisi-puisi Rendra; Menariknya, lewat pusi, “kemarahan” pun terbaca menjadi indah.

Adalah keliru jika berkata bahwa puisi itu sakral. Hanya saja, keliru juga jika dalam puisi kita tak mengimani sesuatu yang sakral. Sejarah pun bersaksi, para Nabi membawa “kalimah-kalimah suci” dengan bahasa yang (semisal) puisi. Bagi saya, dalam puisi kita mengalami dan menemukan sesuatu yang menyelinap senyap dalam sakral, terlepas apakah intensitas kesakralannya teralami secara sempurna atau tidak, apakah kesakralan itu mencapai 100% atau hanya sekedar lewat saja di benak?

Satu puisi Shiny yang berjudul “Kata Orang”, saru Puisi dalam buku ini. Jika kita berani untuk sejenak membuang kesumpekan rutinitas, mungkin akan terasa nikmat dengan gumam dalam membacanya:

Kata orang, puisi adalah tempat pulang
di antara ribuan tidur yang tak panjang di antara dahan-dahan dan embun Seperti banyak burung
kembali ke hutan
Kata orang, puisi
adalah suara bisik di hidung kebun
: di ujung kelebat
Mawar-mawar yang duduk di jalanan-jalanan kota Kupu-kupu yang bermantel cantik seperti rama-rama Seperti, sayap yang telah patah tiba-tiba berbulu sebab nyanyian jiwa

Kata orang, puisi
adalah kawan bicara
saat api lilin mulai terasa dingin dan membiru gelap dan terang berciuman
saat di dalam tenda,
angin-angin mulai roboh

Kata orang, puisi
adalah udara hangat di luar musim hujan
kayu bakar kering, pemantik, daun-daun berguguran ketika menggigil
dan semua yang kadang hanya membingungkan

Kata orang, di depan kata.
Ada ritme yang sunyi dalam puisi ini, tetapi malangnya sunyi itu kenapa harus membingungkan? Dan sepanjang sejarah, kapan manusia tak bingung di depan kata? Bukankah yang terjadi, sejarah selalu berbebut kata, berebut makna, lalu meneguhkan “aku menang” dan “mereka kalah”. Terjadilah yang terjadi, “Api lilin terasa dingin memburu, gelap dan terang berciuman. Saat dalam tenda, angin mulai roboh”.

Konon, yang paling sakral adalah Tuhan. Dan ketika Shiny hendak berbicara tentang Yang Maha Sakral, dengan “sepi” ia menulis,

Katakanlah, bahwa Tuhan itu: sepi Sendiri—tak apapun; tak siapapun
Di manapun Ia berada.
Ada ruang dimana puisi menjadi semau-gue, walau kita mungkin merasakan ada hal yang tak kalah penting dari sana: kejujuran. Apakah si penulis puisi jujur? Hanya ia sendiri yang bisa menjawab. Kita hanya menikmati bahwa “Tuhan itu sendiri, tak ada siapa pun, dimana pun ia berada”, karena manusia tak akan mampu menunjuk secara pasti dimana “tempat” Dia. Yang menarik, si penulis memulai puisinya dengan ujaran “Katakanlah…” Hal ini bisa dimaknai sebagai kata perintah seperti kalimat “katakanlah tuhan itu esa (qul hua allahu ahad), ataukah hal ini berangkat dari sebuah kelelahan “memikirkan” atau “menggeluti” atau “bertarung” dengan ide tentang Tuhan sampai akhirnya ia menyerah dan berkata, “Katakanlah bahwa tuhan itu: sepi”? Hanya si penyair yang bisa menjawabnya, dan kita hanya bisa menduga dan menikmati keindahan rangkaian kata yang berhasil dihidangkan kepada kita.

Yang pasti, dalam puisi dimungkinkan untuk tak memiliki alasan untuk dicipta; mengapa ia harus dicipta. Bagi seorang penyair, kadang ia tak butuh mengapa, kapan, dimana, bagaimana dan yang lainnya. Yang ia butuhkan hanya pena dan kertas, dan membiarkan hati untuk menari. Itu sebabnya, puisi bisa jadi “selesai” dalam waktu seketika, tetapi bisa juga dipandang “selesai” dalam waktu yang lama, bahkan dirasa “belum atau tak selesai” tetapi dirasa “selesai”. Pertanyaan pun lahir, kapan sebuah puisi benar-benar menjadi puisi? Ketika si penyair memberikan puisinya kepada kita, dan kita boleh untuk berkata “puisi anda tak tuntas”.

Yang ingin saya katakan, di depan puisi kita boleh memetik makna, kita leluasa menggapai asa, kita boleh menafsirkan sekuat apresiasi kita terhadapnya. Maka puisi pun menjadi sesuatu yang membebaskan. Puisi pun membiarkan kita menjadi insan merdeka, karena puisi pun lahir dari hasrat untuk merdeka. Tak jarang di depan kita pun tersaji puisi yang “nakal”, hanya saja (mungkin) kenakalan itu tidaklah final, karena si penulis menyimpan maksud atau ruang yang mungkin sengaja ia sembunyikan dan kita tak berhasil membacanya. Seperti saya yang merasa tak berhasil membaca “kemerdekaan” Shiny dalam beberapa puisinya, misal puisi yang berjudul “Curch Bell Ring”.

Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell
ring, Curch bell ring, Curch bell ring…. , Curch bell ring,
Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring…. ,Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring…. , Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring…. , Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring,
Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring…. , Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring….
Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch (A) bell ring…. , Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring…., Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bell ring, Curch bells ring, (A) Curch bells ring…. , Curch bells ring, Curch bells ring, Curch bells ring, Curch bellS ring, Curch bellS ring, Curch bellS
ring…. ,Curch bellS ring, Curchs bellS ring, Curchs bellS ring, Curchs bellS ring, CurchS bellS ring, CurchS bellS ring…. , Curchs bellS ring, CurchS bellS ring, CurchS bellS ring, Curch bell ring, CurchS bellS ring (A) s, CurchS bellS ring…. , CurchS bellS ring, CurchS bellS ring, CurchS bellS rings, CurchS bellS ring, CurchS bellS ring, CurchS bellS rings…. ,

CurchS bellS ringS, CurchS bellS ringS, CurchS bellS ringS, CurchS bellS ringS, CurchS bellS ringS, CurchS bellS ringS…
ringS…. ringS…. ringS…. (A)
ringS…. ringS…. ringS….
ringS….
ringS…. ringS….
ringS…. ringS…. ringS…. ringS….
RIINGSSS!!!! “!!!!!!!!(a)!!!!! !!!!””

14 Mei
14 Mei

Di depan puisi model begini, saya rasa gelap. Seperti dalam ruang yang pekat, saya meraba-raba yang apa-apa di sekitar perjalanan atau pengalaman yang pernah singgah. Terabalah oleh saya puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, yang dikenal dengan usahanya untuk membebaskan kata dari kungkungan makna dan mengembalikan fungsi kata seperti dalam mantra. Dalam ruang pekat itulah saya bergumam, “Shiny sangat berani.” Apakah Shiny berhasil dalam mengikuti tapak Sutardji? Menurut saya masih jauh. Dalam puisi Sutadji, kata seperti pesona yang mengalir secara alami, tetapi dalam puisi Shiny kata terasa seperti adonan yang dipaksa. Tapi, walau bagaimana, siapa orangnya yang tak tergetar oleh sebuah keberanian?

Ada yang menurut saya Shiny “berhasil” dalam mengikuti Sutardji, yaitu ketika kata menjadi penuh makna dalam rangkaian puisi yang pendek. Ketika melukiskan kedatangan atau kelahiran Muhammad Saw., Shiny menulis dengan indah dalam puisi “Telah Datang”.

Telah datang, kepadaku bulan purnama
dari tanah
salawat dan surga!

Puisi-puisi Shiny pun banyak yang mencoba masuk ruang religius, dan tak ingin untuk tak henti didekap. Yang tidak sepele. Katakanlah puisi-puisi semisal “Setelah (Banjir) Nuh”, “Di Kaki Bintang Asyu(a)ra”, “Burung yang Membaca Mazmur”, dan yang lainnya.

Lazim dalam puisi religi, ada medan kontemplasi yang coba ditangkap lalu disuguhkan. Lazim dalam puisi religi juga, rumitnya mencari bahasa yang bergemuruh dalam imajinasi. Itu sebabnya, bisa jadi si penyair terjebak dalam “kerumitan” tersebut, dan yang tergelar dalam kata pun terkesan penuh keangkuhan. Menurut saya, puisi-puisi religius yang berhasil ditulis para penyair, akhirnya adalah puisi yang sederhana, puisi yang berhasil menundukan keangkuhan dan ego kecerdasan. Apakah puisi religi Shiny berhasil? Pembaca sendiri mungkin yang paling berhak untuk menilainya.

Hanya saja, dan saya kira ini yang penting, dalam puisi-puisi Shiny, realitas religius – Tuhan dan agama – dicoba untuk tidak didekati dengan aturan yang rigid atau kaku. Khas mentalitas penyair. Hubungan bersama Tuhan tidak dalam aturan yang tertib, penuh aturan yang ketat, rapi, dan yang lainnya. Bagi banyak orang, meminjam bahasa Max Weber, agama adalah rutinitas sehari-hari (Alltags-religion). Tuhan pun menjadi Dzat yang harus ditaati dalam keseharian. Dalam mentaati, jelas harus menapaki aturan-aturan. Oleh karena itu, kebebasan pun menjadi sesuatu yang berbahaya. Tetapi, bagi seorang penyair, yang (konon) mahir mengakrabi kesunyian, Tuhan bukan melulu Dzat yang harus ditaati saja, melainkan digandrungi dan dicintai. Dan dalam mencintai Tuhan, penyair seringkali kehilangan cara selain dengan kebebasan. Itu sebabnya, ekspresi religiusitas seorang penyair kerapkali “terasa” menyimpang dan aneh. Seperti Amir Hamzah yang melukiskan hubungannya bersama Tuhan dengan “bertukar tangkap dalam lepas”. Bagi orang kebanyakan dengan mata awam mungkin kalimat ini kurang ajar, hanya saja mari kita jujur, bukankah seringkali kita “lepas” dalam keseharian kita dari-Nya?

Satu lagi, khas mentalitas penyair juga, cinta menjadi teman setia. Dalam puisi-puisi Shiny, cinta pun menjadi tema yang dipeluk erat. Cinta ibarat seorang kekasih yang terkadang dirindukan,

Dalam setiap rindu Aku Titipkan sebuah pesta
: Jatuh cinta bagi yang fana

Demikian, saya berusaha mengantarkan pembaca untuk menikmati puisi Agung (nama yang saya biasa pakai ke si penyair) yang pernah “singgah” di Pesantren Fauzan (untuk tidak menyebut santri, karena konon katanya ia enggan menyebut dirinya “santri”, saking malu). Dan saya percaya, kumpulan puisi berjudul Burung Kafir ini adalah karya dalam ruang-batin si penyair yang “biasa saja”. Maksudnya tak perlu “repot” dengan mentalitas religius– yang ngotot, apalagi sembari melupakan bahwa Cinta adalah hal tersukar untuk kita raih bersama.

Fauz Noor

Bagikan:

Berikan Komentar