Bingkai

Oleh Fauz Noor

 

                                                                                                                 ____  Reast in peace, Prof. Hawking

 

Seorang ilmuwan adalah yang betah di ruang pengap. Mereka bisa berjam-jam disana. Bahkan mewakafkan diri dengan hanya mendiami laboratorium. Dengan tikus, dengan kuman, dengan atom, dengan benda. Dari sana mereka membangun karya ilmiah, untuk mengguncang dunia, memberi paedah buat manusia. Karena apa? Karena mereka yakin karya ilmiah adalah mobille, bisa berpindah dari laboratorium satu ke laboratorium lainnya, menjelajah sampai lorong dunia.

Bagi seorang ilmuwan, dunia adalah laboratorium. Tak mengapa. Karena dunia tak bisa dipercaya sebagai mantara kun fayakun. Dunia akan selalu mengelak dalam satu rumusan jadi. Apa-yang-ada di alam dan apa-yang-ada dalam diri, bagi seorang ilmuan, bukan sesuatu yang ada bersama iklim dan sejarah. Melainkan data yang diam, tak berubah, lalu dipertanyakan, kemudian dibawa mengembara melintasi ruang dan waktu. Bruno Latour, pemikir Prancis yang banyak membahas ilmu-ilmu pasti dan alam, menyebutnya dengan mobille immuablles.

Laboratorium tak lebih dari bingkai. Disana dibingkai pelbagai masalah, pelbagai gudah, pelbagai tanya. Setelah ditemukan jawaban. Dipatenkan. Diresmikan. Ditutup. Hanya saja selalu bisa untuk dibuka dan dipertanyakan kembali. Ibarat Newton yang “menutup” teori gerak dengan hukum mekanika, kemudian dibuka kembali oleh Einstein dengan teori mengerikannya dalam relativisme, lalu ditanyakan kembali oleh Hawking dalam projek ambisiusnya yang “belum” berakhir: theory of the everyting. Projek ini melahirnya satu buku, The Theory of The Everytings, hanya saja dalam buku ini tetap masih tersimpan “bolong”, menyisakan tanya.  Evreyting adalah ambisi.

Dalam ilmu sesuatu dibingkai, dalam sistem dan prosedur laboratorium. Lalu disuguhkan kepada dan bagi dunia. Hanya saja, pelaku ilmu adalah manusia, yang disamping punya “tanya” juga punya “rasa”. Sistem dan prosedur ilmiah tak bisa mengelak dari “rasa” yang menyelinap dalam diri.  Seperti Hawking yang dengan kekuatan benaknya yang pantas disebut “ajaib”, setelah mengarungi dan mencumbui dunia dalam apeknya laboratorium, “rasanya” bekerja dan bertanya, ia menulis dalam A Brief History of Time, “… kalau demikian dimanakah Tuhan itu?”

Rasa Hawking yang bertanya, ia jalani dalam ruang laboratorium yang benar-benar “sepi”. Dalam karir keilmuannya ia nyaris tak mempertanyakan agama. Tak banyak ia berceloteh atau berkata-kata tentang agama. Padahal, dalam fakta. Agama kerap kali “membingkai” Tuhan. Agama kerap neguhkan-diri sebagai “kebenaran”. Itu sebabnya, disamping “membingkai Tuhan”, agama pun kerap “membingkai” hidup. Dengan bingkai itu hidup dijelaskan dengan hukum-hukum permanen. Mobille immuablles seperti halnya hukum bagi kaum Fundamentalis agama, hanya mengenal yang sama, dengan ilusi bahwa tak akan ada hal yang tak terduga. Yang dipandang gajil dianggap salah, menyimpang, bahkan tak jarang dituduh “kafir”. Hawking tak mau ribut dalam urusan ini. Ia pun memilih laboratorium sebagai tempat khalwat.

Seorang ilmuwan bisa mengelak dari “agama”. Bisa jadi dengan pura-pura. Bisa jadi di ruang yang tak bisa dijangkau mata kita, ia masih setia pada agama. Artinya masih setia pada “jalan” yang dibawa (konon) para Utusan Tuhan. Di ruang yang sepi, bisa jadi ia masih setia dan tunduk patuh pada “doktrin”. Entah. Biarkan itu dijawab oleh “rasa” mereka. Kita pun tak bisa membingkai benak mereka dengan benak kita. Karena bisa jadi benak kita adalah benak para pemalas, malas mikir, malas diam jam-jam di ruangan yang apek, malas jadi pengguhi laboratorium, malas merawat tanya. Karena kita terlalu takut jika iman kita runtuh. Ilmuwan adalah manusia kuat. Hanya saja orang kuat tak selamanya jadi jawara.

Walau demikian, seorang ilmuwan tak bisa mengelak dari manusia. Tak bisa menampik hummanity. Ketika dipandang ada yang membahayakan kehidupan manusia, mereka tak bisa untuk tidak melawan. Seperti Hawking, ketika dilihatnya banyak kebijakan Donald Trump, presiden yang jarang sekali terdengar bicara Tuhan dan lebih suka bicara agama, yang membahayakan kehidupan manusia. Ia tak bisa hanya diam dikursi roda. Ketika Trump berkata bahwa perubahan iklim adalah bohong, adalah mitos, adalah hoxs. Dan Trump memangkas banyak dana riset. Hawking geram dalam suara pelan, “Perubahan iklim adalah salah satu bahaya yang kita hadapi dan dapat kita cegah. Semuanya memberi dampak negatif bagi (rakyat) Amerika.” Hawking benar-benar geram, ia sampai berkata, “Periode kedua (kepemimpinan Trump), semoga Tuhan mencegahnya.”

Nampaknya, sebelum pergi, sebelum ajal menjemput ilmuwan yang hidup dengan seabrek prestasi, dengan setumpuk sumbangan bagi hidup manusia, Hawking sudah “menemui-Nya”. [ ]

2 thoughts on “Bingkai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: