Belajar Agama

62 Views

Fauz Noor

RAHASIA ilmu ketuhanan (teologi) adalah ilmu tentang manusia (antropologi),” demikian tesis terkenal dari Ludwing Andreas Feuerbach. Dari ungkapan ini, filosof asal Jerman ini sampai pada kesimpulan bahwa manusia adalah raja segalanya. Baginya Allah adalah khayal, proyeksi manusia saja. Menurutnya, ketika percaya Allah, manusia sebenarnya sedang melempar hakikat dan sifat-sifatnya sendiri ke luar, lalu memandang produk khayal itu sebagai “satu entitas mandiri, satu dzat yang maha, satu dzat tak tersentuh”, dan manusia menyapanya dengan “Tuhan”, dan segera menyembahnya. Singkat kata, keyakinan kepada Allah hanyalah hasil citraan, sifat-sifat dan keinginan umat manusia itu sendiri yang dilemparkan ke dunia antah-berantah.

Feuerbach pun berkata bahwa dengan menyebut Allah sebagai Maha Tahu sebenarnya manusia hanya memenuhi dambaannya untuk bisa mengetahui segala sesuatu, dengan menyebut Allah ada dimana-mana sebenarnya manusia sedang memuaskan keinginannya untuk tidak terikat kepada ruang, dengan menyebuat Allah Maha Kekal manusia sebenarnya sedang mewujudkan dambaannya hidup abadi, dengan menyebut Allah Maha Kuasa manusia sedang mewujudkan keinginannya untuk bisa berbuat apapun yang ia kehendaki. Ilmu tentang ketuhanan didobrak Feuerbach menjadi ilmu tentang manusia. “Manusia adalah awal dari agama, manusia adalah pusat dari agama. Manusia pun adalah akhir dari agama,” demikian Feuerbach dalam kitabnya Das Wesen des Christentums.

Rasanya, tak perlu mengerutkan dahi bagi kita untuk menolak pemikiran Feuerbach. Teori filosof Jerman ini hanya berbicara tentang fungsi agama, bukan hakikat agama. Baginya agama mempunyai fungsi psikologis sebagai proyeksi dambaan ideal kesempurnaan manusia yang tidak kesampaian, dambaan itu diproyeksikan sebagai “Allah”. Aneh sekali, ia bilang Allah adalah proyeksi dari dambaan manusia tetapi ia menolak adanya Allah. Tanpa meyakini “ada”-nya Tuhan mustahil kita melakukan proyeksi terhadap-Nya. Sama halnya sebuah film di dalam proyektor tidak bisa ditayangkan jika tidak ada dinding/layar tancap dimana film itu diproyeksikan.

Lalu, Feuerbach berkata bahwa Allah Maha Baik muncul karena manusia mempunyai pikiran ideal mengenai kesempurnaan (moral) mengenai yang baik. Pertanyaan kita: dari mana manusia bisa menemukan kata “maha” yang lantas diproyeksikan kepada Allah? Kata “maha” itu mengacu tidak hanya pada sesuatu yang “lebih daripada manusia (hal ini memang bisa difantasikan, misalnya dalam komik atau film science fiction)”, melainkan merujuk pada sesuatu yang “lain daripada manusia”. Nah, karena Yang Maha Lain, justru dzat Yang Maha semacam ini tidak akan pernah ditemukan dalam pengalaman konkrit-indrawi sebab bagaimana pun yang empirik selalu terbatas. Maka kentara bagi kita bahwa Feuerbach telah terjebak pada pikiran kontradiksi dalam dirinya sendiri. Ia seharusnya mengakui bahwa manusia bisa beragama dan percaya kepada Allah justru karena kemampuan jiwa manusia yang bisa melampaui batas-batas kemampuan empiris-indrawi. Atau dalam bahasa antropologi-filosofis: manusia adalah makhluk yang mempunyai dimensi transenden karena ia memiliki kemampuan untuk mengunifikasi yang in-material.

Terlepas dari kesesatan pikiran Feuerbach, kita bisa menarik hal yang positif dari pemikirannya. Selalu ada hikmah dari hal yang paling sesat sekalipun. Dalam kenyataan beragama, khususnya tokoh-tokoh agama, manusia kerap mengklaim berbuat ini-itu atau memerintahkan para pengikutnya untuk melakukan sesuatu atas nama Allah, padahal sebenarnya semua hal itu adalah pantulan atau proyeksi kehendaknya untuk berkuasa. Kaum agamawan kerap mendominasi untuk mendapatkan kepuasan bagi hidden needs dalam batinnya.

Kasus-kasus yang kerap terjadi. Sekelompok masa berjubah mengatasnamakan agama, membuat kegaduhan yang membisingkan telinga warga, bahkan melukai sesama manusia. Bukankah hal demikian adalah proyeksi pikiran mereka tentang “kebenaran” dan tentang Allah? Pernyataannya menjadi, benarkan Allah merestui hal yang demikian? Mari dengarkan fatwa Ibn Shalah, ulama yang mengharamkan filsafat itu, “Pada dasarnya, orang-orang kafir harus hidup, karena Allah Swt. tidak ingin menghancurkan makhluk-Nya. Allah menciptakan mereka bukan untuk diperangi. Mereka boleh diperangi karena ada keterpaksaan, bukan balasan atas kekufuran mereka. Sebab, tempat balasan bukanlah dunia, melainkan akhirat. (Ibnu Shalah, al-Fatawa, hlm. 121).

Akhirnya, dari pemikiran Feuerbach, orang beragama diajak, bahkan didesak, untuk mawas diri dan mewaspadai laku hidup keagamaan, baik dalam wilayah pribadi maupun dalam lingkup jamaah. Jangan sampai kita memproyeksikan kepentingan nafsu kita atas nama agama. Jika memproyeksikan Allah dengan nafsu kita, apa bedanya kita dengan orang “atheis” seperti Feuerbach? Feuerbach telah membunuh “fungsi” agama dengan kesombongan intelektualnya, apakah kita akan membunuh “hakikat” agama dengan nafsu kita?[]

Diambil dalam buku Fauz Noor, Marginalia 1: Esai-Esai dari Pojok Pesantren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *