Baligho

BALIGHO dipasang di pinggir jalan, di tengah-tengah ruang publik, bahkan sampai di depan Masjid. Aksara pasti membentuk kata disana. Kadang dengan wajah-wajah diam dan senyuman tak manis, karena kita sering bosan melihatnya. Yang ia inginkan adalah ketaksengajaan kita dalam membacanya. Sebuah baligho membuktikan masih pentingnya ketidaksengajaan. Sehebat apapun dan semenyebalkan bagaimanapun, baligo memanfaatkan ketaksengajaan orang-orang dengan tujuan bisa meninggalkan bekas di benak dan hati orang-orang.

Ketaksengajaan. Artinya, baligho tak begitu repot memikirkan efektivitas sebuah kata atau kalimat bagi orang lain. Yang ia ingin tunjukan adalah “inilah aku”, “inilah kami”, “inilah laku kami”, “inilah kami yang telah…”, “inilah kami yang akan…” Sebuah kata pun menjadi “hantu” yang menyelinap ke ruang ketaksadaran manusia dengan tak sengaja. Atau barangkali “dipaksa”. Inilah yang disebut “metafisika kehadiran” dalam filsafat Jacques Derrida.

Baligho itu diam, tapi berkata-kata. “Diam adalah berkatakata,” demikian sabda Ivan Illich. Komunikasi memang tidak selamanya terjadi hanya karena dua mulut yang nyoroscos bersahutan. Ada sesuatu yang oleh Ivan Illich disebut sebagi the eloquency of scilence. Yakni, kefasihan dari diam. “Kata-kata dan kalimat terdiri atas diam yang lebih bermakna daripada bunyi,” tulisnya dalam Celebration of Awareness.

Tak banyak pemikir yang serius memikirkan “diam” semisal Illich. Baginya, bahasa adalah ibarat seutas tali kebisuan; bunyi hanya menjadi simpul-simpulnya. Bahasa ibarat sebuah roda, yang menjadi pusat adalah kata-kata yang terucap atau tertuliskan, tetapi  yang membentuk roda adalah justru ruang-kosong diantara itu. Ruang-kosong itulah yang memberikan makna, memberikan arti. Karena merupakan ruang kosong, maka makna akhirnya “diberikan”, akhirnya “diisi”. Oleh karena itu, bahasa menjadi kaya akan makna. Bisa jadi aksaranya tertulis, “Menuju Tasikmalaya Bersinar”, “Meneruskan Program-Program Pro-Rakyat”, dan sebagainya. Makna yang “diterima” atau “diberikan” rakyat justru, “Memalukan, sesaki pusat kota dengan kata-kata milik pribadi. Emang Negara itu punya keluarga lo? Kalau mau sosialisasi, apa tidak bermartbat lewat media: radio, koran, televisi?!” Wajah-wajah tersenyum di Baligho pun bukan manis, tapi “diterima dan dimaknai” menyebalkan.

Menjelang PILKADA, nampaknya para calon memanfaatkan betul “ketidaksengajaan” dan “kediaman”. Yang demikian oleh Ivan Illich disebutnya dengan “kampungan”. Mentalitas para politisi kita memang “kampungan”. Mereka memanfaatkan “ruang-publik” untuk hal-hal pribadi. Rasanya, mereka membiayai pembelian baligho dan kontrak, juga sejumlah tenaga, dan memesan kalimat-kalimat tertentu – tetapi tidak teramat peduli apakah kata-kata itu bakal diacuhkan atau tidak. Baligho pun menjadi hiasan rutin menjelang PILKADA. Kata “hiasan” mungkin tidak tepat. Bagi sebagian orang, baligho justru merusak keindahan kota. Bahkan baligo politik tegak, yang mempertahankan diri pada huruf-huruf itu, tak pernah lebih indah dari iklan-iklan perusahaan – menyebalkan atau tidak – di pojok-pojok. Bahkan mungkin, baligho itu cuma untuk membuktikan sebuah kegiatan, dengan suatu anggaran, untuk suatu proyek, supaya sang calon senang dan tertipu, dan tim-sukses untung besar.

Kita mafhum, tak semua orang baca koran, tak semua mendengarkan radio, tak semua orang nonton televisi. Tapi disanalah gunanya media. Disamping untuk memberikan informasi bagi masyarakat, juga diberikan ruang untuk mempromisikan “diri” kita. Politisi yang baik, yang punya niat mencerdaskan masyarakat, tak akan menyesaki pusat kota dengan kata-kata “manis” dan senyuman “menyebalkan”.

Kita coba jalan-jalan ke negara tetangga, Singapur atau Malaysia. Para politisi lebih “arif” dalam mensosialisasikan diri dan program-programnya. Jalanan dan pusat kota, sepi dari baligho partai. Yang kita lihat kuat di sana, ruang-publik diisi bendera negara mereka [ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *