WhatsApp Image 2024-04-16 at 13.32.36_8fe3dc9e

Diposting oleh:

AMBIL SATU NIKMAT, LALU SEMBAHLAH

(Sekelumit Tafsir Imam Nawawi al-Bantani)

Salah satu keunikan al-Quran adalah sering kali menyertakan “haraf” (kata penghubung) di awal kalimat atau surat. Sebagai misal, لايلاف قريش ayat pertama surat al-Quraisy. Tiba-tiba saja Allahu Ta’ala berfirman, “Karena kebiasaan orang Quraisy”. Dimulai dengan huruf lam (ل). Dengan karakter demikian, pembaca al-Quran menjadi kaya akan imajinasi untuk menarik makna al-Quran.

Imam Nawawi al-Bantani menulis, “Lam (ل) pada ayat ini bisa berhubungan dengan surat sebelumnya (surat Quraisy), bisa juga berhubungan dengan ayat selanjutnya, bisa juga berhubungan dengan frase yang dibuang.”

Tiga metode penafsiran ditawarkan Imam Nawawi dalam tafsirnya, Marah Labid (مراح لبيد). Masya Allah. Keren!

Kita ambil satu, “haraf berhubungan dengan ayat selanjutnya”. Imam Nawawi menulis, “Imam Khalil dan Imam Sibawaih mengatakan bahwa lam (ل) berhubungan dengan firman Allahu Ta’ala فليعبدوا mengandung makna syarat. Demikian itu sebab nikmat-nikmat Allah kepada Quraisy tidak terhitung.” Nah, imajanisi Imam Nawawi sungguh mantap dalam mengambil kesimpulan, ia melanjutkan, “SEAKAN-AKAN Allahu Ta’ala berfirman kepada Quraisy: Jika kalian tidak menyembah Allah karena berbagai kenikmatan-Nya, maka sembahlah Allah karena satu kenikmatan yang nyata ini, yakni kebiasaan mereka melakukan perantauan pada musim dingin dan musim panas.”

Tafsir Imam Nawawi ini dikenal dengan “Marah Labid” (مراح لبيد). Dua kata “aneh” atau “tak lazim”. Menurut Sayyid Salim Ibn Jundan dalam الخلاصه الكافيه في الساند العاليه bahwa yang menamakan مراح لبيد bukanlah Imam Nawawi Banten, tetapi mantunya atau suami dari putrinya, KH. Asy’ari Bawean (al-Bawiyani atau Banyuwangi).

Marah Labid: مراح (tempat berangkat dan tempat kembali. Orang Sunda menyebutnya “Lemah Cai”, atau “Lembur Asal”). لبيد (Tempat dimana kita tak mau beranjak dari sana). Nah, dua kata ini jika diterjemahkan dalam bahsa sunda, kira2nya maknanya, “Lembur Sorangan Tempat Pangbalikan”. (lihat, Lisanul ‘Arab, 3: 385, dengan penyesuaian saperlunya).

Dari sini, kiranya jelas, dinamai Tafsirnya dengan مراح لبيد dengan harapan, terutama bagi pelajar muslim Indonesia (santri) untuk mempelajari al-Quran dengan tidak lupa tanah asal atau lemah cai, dan menjadikan Tafsir karya Sayyidul Imam Haram asal Banten ini menjadi rujukan dan pegangan.

Tidakkah nikmat sungguh punya ulama se-‘alim Syekh Nawawi Banten? Maka beribadahlah….

Untuk Syekh Nawawi Banten, Alfaatihah….

menuju_khataman_Marah_Labid…

Diambil dari status FB Fauz Noor, 15 April 2023.

Bagikan:

Berikan Komentar